Bank BCA Merestrukturisasi Kredit Senilai Rp 99 Triliun hingga Kuartal 1 2021


Kuhuni.com – Bank BCA (BBCA) hingga kuartal 1 2021 telah merestrukturisasi kredit sebesar Rp 99,10 triliun. Dari laporan keuangan Bank BCA kuartal 1 2021, perseroan menyatakan bahwa Bank BCA memberikan fasilitas restrukturisasi dengan modifikasi persyaratan kredit, pengurangan, atau pengampunan sebagian saldo kredit dan/atau keduanya. Bank BCA juga tidak mempunyai komitmen untuk memberikan fasilitas kredit tambahan terhadap kredit yang telah direstrukturisasi.

Kredit yang telah direstrukturisasi terdiri dari kredit lancar sebesar Rp 86,73 triliun. Kredit kategori dalam perhatian khusus sebesar rp 7,53 triliun. Kategori kurang lancar sebesar Rp 923,30 miliar. Diragukan sebesar Rp 773,51 miliar dan kategori macet sebesar Rp 3,13 miliar.

Bank BNI Merestrukturisasi Kredit Senilai Rp 130 Triliun hingga Kuartal 1 2021


Kuhuni.com - Bank BNI Tbk (BBNI) hingga 31 Maret 2021 sudah merestrukturisasi kredit sebesar Rp 130,65 triliun. Fasilitas restrukturisasi kredit ini berupa penurunan suku bunga kresit sebesar Rp 27,79 triliun. Perpanjangan jangka waktu kredit sebesar Rp 40,94 triliun. Penambahan fasilitas kredit, perjanjian penyelesaian hutang dan interest balloon payments (IBP) sebesar Rp 61,91 triliun.

Sementara jumlah kredit yang telah direstrukturisasi dalam kategori kredit bermasalah sebesar Rp11.76 triliun dari total kredit yang direstrukturisasi.

Kredit Macet dan CKPN Bank BCA Kuartal I/2021, Naik Apa Turun?


Dari hasil laporan keuangan Bank BCA (BBCA) kuartal 1 tahun 2021. Sampai tanggal 31 Maret 2021 Bank BCA (BBCA) sudah menyalurkan kredit sebesar
Rp 572,73 triliun. Jumlah kredit hingga kuartal 1 tahun 2021 ini turun 0,32 % dibanding total kredit tahun 2020 yang mencapai Rp 586,93 triliun.

Dari total kredit yang diberikan, Bank BCA menyisihkan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) kredit mencapai Rp 29,50 triliun. CKPN Bank BCA hingga kuartal 1 tahun 2021 mengalami kenaikan 9,49% dari sebelumnya di akhir tahun 2020 hanya Rp 26,94 triliun. Dengan demikian Bank BCA memiliki kredit bersih sebesar  yang disalurkan sebesar Rp 543,23 triliun.

Jumlah Kredit Macet Bank BNI Meningkat, NPL Mencapai 4,12 Persen Kuartal I/2021

NPL Bank BNI Kuartal 1 2021

Dari hasil laporan keuangan Bank BNI kuartal 1 tahun 2021 yang telah dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia. Bank BNI (BBNI) sampai akhir Maret 2021 sudah menyalurkan kredit dengan total Rp 559,33 triliun. Turun 4,58% dibanding akhir tahun 2020 total kredit yang diberikan mencapai Rp 586,20 triliun. Bank BNI memiliki cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) sebesar Rp 46,23 triliun, sehingga total kredit bersihnya sebesar  Rp 513,10 triliun.

CKPN Bank BNI (BBNI) selama 3 bulan pertama di tahun 2021 mengalami kenaikan sebesar 4,53% jadi Rp 46,23 triliun dari sebelumnya hanya Rp 44,22 triliun di akhir tahun 2020.

Jumlah Kredit Macet Bank BRI, BNI, BCA dan Mandari, Lihat Kredit Macet Terbesar dan Terkecil!

Kredit Macet Bank Tahun 2020

Kuhuni.com
– Perbankan raksasa di Indonesia telah melaporkan hasil kinerja sepanjang tahun 2020. Rata-rata kinerja bank besar di Indonesia mencatatkan penurunan laba bersih.


Bank besar di Indonesia seperti Bank BRI, Mandiri, BCA dan BNI sepanjang tahun 2020 kompak mengalami penurunan laba bersih. Penurunan laba bersih rata-rata terjadi kerena meningkatnya cadangan kerugian penurunan nilai setiap bank.


Dari laporang keuangan masing-masing bank juga menunjukkan adanya peningkatan terhadap kredit macet. Berikut ini akan diuraikan jumlah kredit macet dari masing-masing bank besar di atas. Bank manakah jumlah kredit macetnya paling besar? Dan bank Mana jumlah kredit macetnya yang paling kecil?

CKPN Kredit Bank BCA Naik 80,80% Ternyata Sektor Ini Penyebabnya!

CKPN Bank BCA

Bank BCA (BBCA) hingga tahun 2020 telah memberikan kredit sebesar Rp 574,58 triliun. Jumlah kredit ini turun 2,10 % dibanding jumlah kredit tahun 2019 yang mencapai Rp 586,93 triliun (perhatikan total perbandingan kredit pada gambar di bawah).

Kenapa Laba BCA Lebih Mantap dibanding BRI dan Mandiri? Ternyata Ini Alasannya!

Laba BCA 2020

Kuhuni.com –Laba bersih Bank BCA (BBCA) tahun 2020 tercatat sebesar Rp 27,13 triliun. Laba bersih per saham BBCA tahun 2020 Rp 1.100. Bila kita bandingkan dengan laba bersih BBCA tahun 2019 yang mencapai Rp 28,56 triliun, maka penurunan laba bersih tahun 2020 hanya 5,02% atau turun sebesar Rp 1,43 triliun.

Saham LQ45 2020 – 2021

Bursa Efek Indonesia telah menerbitkan daftar saham lq45 untuk periode Agustus 2020 - Januari 2021. Daftar saham lq45 untuk tahun 2020-2021 ini ada 3 saham baru yang masuk yaitu saham MDKA (Merdeka Copper Gold Tbk), saham MIKA (Mitra Keluarga Kayasehat Tbk) dan saham SMRA (Summarecon Agung Tbk.

Tanggapan Bank BRI Terkait Dampak Covid-19 Periode Juni 2020


Tanggapan Bank BRI Terkait Dampak Covid-19 Periode Juni 2020

Manajemen Bank BRI  (BBRI) telah memberikan keterangan resmi kepada Bursa Efek Indonesia mengenai dampak Covid-19 terhadap Bank BRI. Bursa Efek telah memberikan beberapa pertanyaan guna untuk mengetahui informasi terkini mengenai kondisi operasional dan kinerja keuangan.  Manajemen Bank BRI telah memberikan tanggapan sebagai berikut:

  1. Bagaimana kondisi kelangsungan usaha Perseroan saat ini? Terganggu oleh Covid-19
  2. Apakah Pandemi Covid-19 berdampak pada penghentian dan/atau pembatasan operasional Perseroan dan/atau Entitas Anak? Ya, berdampak pada pembatasan operasional sebagian.
  3. Berapa lama perkiraan jangka waktu penghentian/pembatasan operasional? Antara 1–3 bulan.
  4. Agar dijelaskan lebih lanjut rincian jenis kegiatan yang mengalami penghentian dan/atau pembatasan operasional Perseroan dan/atau Entitas Anak (misalnya: segmen usaha yang terhenti, bisnis unit yang terhenti, lokasi kegiatan usaha yang berhenti,dll).
    Pembatasan jam kerja operasional
    di kantor cabang disebabkan penerapan standar protokol Covid19 dan diterapakannya program Work from home bagi sebahagian pegawai.
  5. Seberapa besar kontribusi pendapatan dari kegiatan operasional yang terhenti dan/atau mengalami pembatasan operasional tersebut terhadap total pendapatan (konsolidasi) tahun 2019? 51%-75%
  6. Jumlah karyawan di PHK. Kondisi karyawan periode Januari 2020 hingga saat ini? 0 (kosong)
  7. Jumlah karyawan yang terdampak dengan status lainnya (contoh: pemotongan gaji, penyesuaian shift/hari/jam kerja, dll). Kondisi karyawan periode Januari 2020 hingga saat ini? 0 (kosong).
  8. Seberapa besar perkiraan perubahan total pendapatan (konsolidasi) untuk periode terkini di tahun 2020 (dapat menggunakan proforma) dibandingkan periode yang sama di tahun 2019? Penurunan total pendapatan < 25%
  9. Seberapa besar perkiraan perubahan laba (rugi) bersih (konsolidasi) untuk periode terkini di tahun 2020 (dapat menggunakan proforma) dibandingkan periode yang sama di tahun 2019? Penurunan laba bersih < 25%
  10. Perkiraan total pendapatan dan laba (rugi) bersih yang digunakan Perseroan di atas berdasarkan? Periode yang berakhir per 31 Maret 2020 dibandingkan 31 Maret 2019.
  11. Apakah Pandemi Covid-19 berdampak pada pemenuhan kewajiban keuangan jangka pendek yang terkini Perseroan dan/atau Entitas Anak (Utang Usaha, Utang Bank/Lembaga Keuangan, Kupon dan/atau Pokok Obligasi, MTN dll)? Tidak berdampak
  12. Apakah Pandemi Covid-19 berdampak pada Permasalahan hukum yang bersifat material seperti gugatan pailit/PKPU terhadap Perseroan dan/atau Entitas Anak? Tidak
  13. Apakah Pandemi Covid-19 berdampak pada Permasalahan hukum yang bersifat material seperti pembatalan kontrak material terhadap Perseroan dan/atau Entitas Anak? Tidak
  14. Apakah Pandemi Covid-19 berdampak pada Permasalahan hukum yang bersifat material seperti somasi atau tuntutan hukum karena wanprestasi terhadap Perseroan dan/atau Entitas Anak? Tidak
  15. Apakah Pandemi Covid-19 berdampak pada Permasalahan hukum yang bersifat material selain 3(tiga) dampak di atas terhadap Perseroan dan/atau Entitas Anak? Tidak
  16. Bagaimana strategi/upaya Perseroan dalam mempertahankan kelangsungan usaha di tengah kondisi Pandemi Covid-19?
    Untuk menjaga pertumbuhan kinerja yang berkesinambungan, BRI melakukan penyesuaian terhadap strategi perusahaan baik di sisi operasional dan bisnis. Di masa pandemik, BRI tetap mengutamakan keselamatan dan kesehatan pekerja dengan mengaktifkan protokol Business Continuity Management yang menerapkan 3 Pillar of Crisis, yaitu people first, business process dan good corporate governance.
    Selama masa PSBB dan penerapan kebijakan WFH (work from home), BRI juga melakukan mitigasi risiko dan meningkatkan awareness terhadap data security. Sebagai langkah antisipatif pada sisi bisnis, BRI fokus untuk melakukan selective growth yang fokus melakukan penyaluran di wilayah dan sektor yang kurang/tidak terdampak Covid-19. BRI juga melakukan prioritasisasi program restrukturisasi kredit yang terdampak Covid-19. Dengan pembelakukan PSBB dan himbauan physical distancing, BRI menyadari bahwa terjadi perubahan pola transaksi keuangan masyarakat menjadi digital. Oleh karenanya BRI mengandalkan layanan transaksi digital untuk kebutuhan transaksi nasabah.
Sumber: Bursa Efek Indonesia (www.idx.co.id)
 Baca Juga

Ini Tanggapan Bank BCA Terkait Dampak Covid-19 Periode Juni 2020


Ini Tanggapan Bank BCA Terkait Dampak Covid-19 Periode Juni 2020

Manajemen Bank BCA (BBCA) telah memberikan keterangan resmi kepada Bursa Efek Indonesia mengenai dampak Covid-19 terhadap Bank BCA. Bursa Efek telah memberikan beberapa pertanyaan guna untuk mengetahui informasi terkini mengenai kondisi operasional dan kinerja keuangan.  Manajemen Bank BCA telah memberikan tanggapan sebagai berikut:

Berapa Jumlah Kredit Bermasalah Bank BTN?


Jumlah Kredit Bermasalah Bank BTN

Kuhuni.com – Kredit bermasalah Bank BTN (BBTN) atau Non-Performing Loan  (NPL) kuartal 1 tahun 2020 seberapa besar dan mengkhawatirkan? Belakangan ini muncul berita yang menyatakan bahwa ada beberapa bank yang mengalami kesulitan  likuiditas di tengah pandemi covid 19. Berita ini tentu saja membuat sebahagian investor ritel di pasar modal merasa tidak nyaman bahkan ketakutan. Ketakutan yang muncul di tengah-tengah investor ritel  dan masyarakat akan keberadaan berita buruk tersebut cukup wajar di tengah kondisi perekonomian yang terpuruk saat ini. Ditambah berita kasus-kasus gagal bayar yang sedang terjadi seperti Jiwasraya, KSP Indosurya dan kasus-kasus lainnya tentu saja membuat investor ritel dan masyarakat seperti merasa trauma, khususnya bagi mereka-mereka yang tersangkut dananya.

Ini 5 Saham Terbaik di 2020 Berdasarkan Nilai Kapitalisasi

Ini 5 Saham Terbaik di 2020 Berdasarkan Nilai Kapitalisasi

Kuhuni.com – Apakah kamu tahu saham terbaik di tahun 2020 berdasarkan nilai kapitalisasinya di bursa saham Indonesia? Saham-saham terbaik ini semuanya masuk di jajaran saham blue chip sejak lama. Sepanjang sejarah saham-saham terbaik ini belum pernah keluar dari daftar saham blue chip.Berikut telah dirangkum 5 saham terbaik di tahun 2020 berdasarkan nilai kapitalisasinya. Saham-saham ini juga konsisten mencatatkan laba yang selalu naik tiap tahun.

Kode Broker Saham (Sekuritas)


Kode beroker saham seperti sekuritas kz,yp,cc, pd, cs, bk,ni

Kuhuni.com – Kode broker saham (sekuritas) yang terdaftar secara legal atau resmi di Bursa Efek Indonesia hingga saat ini. Perusahaan sekuritas atau biasanya para investor ritel lebih sering menyebut broker saham, memiliki kegiatan sebagai perantara perdagangan efek berupa saham emiten, obligasi dan lain sebagainya.


Selain itu broker saham juga bisa bertugas sebagai penjamin emisi dan pelaksana emisi efek seperti IPO dan surat utang/obligasi. Pendek katanya perusahaan sekuritas ini bertugas sebagai perantara/menjembatani antara emiten dan investor  dan antara investor dengan investor untuk melakukan kegiata jual beli saham, obligasi dan lainnya.

Daftar Jumlah Kredit Macet Bank Buku Empat, Siapa Juaranya?


Kuhuni.com – Jakarta. Kredit macet bank buku empat (IV) akan mengalami kenaikan akibat pandemi Virus Corona yang sedang melanda Indonesia. Saat ini ada 7 bank yang masuk dalam daftar bank buku empat. Yaitu Bank BRI, Mandiri, BCA, BNI, Danamon, CIMB Niaga dan Bank Pan Indonesia. Bank buku empat sendiri yaitu bank yang memiliki modal inti di atas 30 triliun.


Ada beberapa bank yang berpotensi masuk ke dalam daftar bank buku empat yaitu Bank BTPN. Saat ini Bank BTPN memiliki ekuitas Rp 29,9 triliun, hampir mencapai di atas 30 triliun. Bank  OCBC NISP Tbk juga menjadi kandidat bank buku empat. Sekarang, Bank OCBC memiliki ekuitas sebesar Rp 27,9 triliun. Sehingga tim riset Kuhuni akan memasukkan daftar kredit macet Bank BTPN dan Bank OCBC sebagai tambahan.

Pada kuartal pertama tahun 2020 ini, daftar bank di atas telah melaporkan kinerjanya dalam laporan keuangannya masing-masing. Berikut daftar kredit macet masing-masing dari bank tersebut.

Kredit Macet Bank Danamon (BDMN)

Bank Danamon melaporkan kredit macet sebesar Rp Rp 2.621.540.000.000 atau  Rp 2,6 triliun hingga 31 Maret 2020. Pada kuartal pertama tahun 2020 ini BDMN memiliki rasio Non-Performing Loan (NPL) bruto 3,68 % dan NPL-net sebesar 1,64 %.

Bank Danamon hingga 31 Maret 2020 telah menyalurkan kredit total Rp 113.125.296.000.000 atau Rp 113,1 triliun. Dan Bank Danamon menyisihkan CKPN (Cadangan Kerugian Penurunan Nilai) sebesar Rp 4.520.758.000.000 atau Rp 4,5 triliun. Sehingga kredit bersih yang disalurkan BDMN sebesar Rp. 108,6 triliun.


Kredit Macet Bank Pan Indonesia (PNBN)

Bank Pan Indonesia memiliki kredit macet sebesar Rp 3.174.885.000.000 atau Rp 3,1 triliun hingga kuartal pertama tahun 2020. Serta PNBN memiliki rasio Non-Performing Loan (NPL) bruto (konsolidasi) 2,96% dan  rasio NPL neto 0,60%.

Bank Pan Indonesia hingga tanggal 31 Maret 2020 telah menyalurkan kredit Rp 139.864.286.000.000 atau Rp 139,8 triliun. PNBN melaporkan  CKPN (Cadangan Kerugian Penurunan Nilai) sebesar Rp 6.645.901.000.000 atau Rp 6,6 triliun. Sehingga total kredit bersih yang telah disalurkan Bank Panin Rp. 133,2 triliun.

Kredit Macet Bank BNI (BBNI)

Sampai pada tanggal 31 Maret 2020, Bank BNI (BBNI) mencatatkan kredit macet sebesar Rp 6.119.158.000.000 atau Rp 6,1 triliun. Bank BNI memiliki rasio Non-Performing Loan (NPL) bruto sebesar 2,45%  dan  rasio NPL neto 0,58%.

Bank BNI pada kuartal pertama tahun 2020 telah memberikan kredit total Rp 579.604.360.000.000 atau Rp 579,6 triliun. Dan besaran CKPN (Cadangan Kerugian Penurunan Nilai) Bank BNI yaitu Rp 32.686.673.000.000 atau Rp 32,6 triliun. Sehingga total kredit bersih yang disalurkan Bank BNI adalah Rp 546,9 triliun.

Kredit Macet Bank BCA (BBCA)

Bank BCA melaporkan total kredit macet hingga 31 Maret 2020 sebesar Rp. 6.907.389.000.000 atau Rp. 6,9 triliun. Bank BCA mencatatkan rasio non-performing loan (NPL) bruto 1,60% dan rasio NPL neto sebesar 0,59%.

Bank BCA hingga tanggal 31 Maret 2020 telah menyalurkan kredit sebesar Rp 596.409.652.000.000 atau Rp 596,4 triliun. Dari total kredit tersebut BBCA melaporkan nilai CKPN (Cadangan Kerugian Penurunan Nilai) sebesar Rp. 22.045.913.000.000. atau Rp 22 triliun. Sehingga total kredit bersih yang diberikan Bank BCA yakni Rp 574 triliun.

Kredit Macet Bank CIMB Niaga (BNGA)

Tiga bulan pertama di tahun 2020 ini Bank CIMB Niaga melaporkan kredit macet sebesar Rp 7.758.401.000.000 atau Rp 7,7 triliun. Bank CIMB Niaga sampai pada tanggal 31 Maret 2020 memiliki rasio Non-Performing Loan (NPL) bruto dan neto konsolidasian  masing-masing adalah sebesar 3,03% dan 1,56%.

Hingga kuartal pertama tahun 2020 Bank CIMB Niaga telah menyalurkan kredit sebesar Rp 190,888,850.000.000 atau Rp 190,8 triliun. Serta Bank CIMB Niaga menganggarkan CKPN (Cadangan Kerugian Penurunan Nilai) sebesar Rp 10,260,631.000.000 atau Rp 10,2 triliun, sehingga kredit bersih yang diberikan Rp 180,6 triliun.

Kredit Macet Bank Mandiri (BMRI)

Bank Mandiri melaporkan jumlah kredit macet hingga kuartal pertama tahun 2020 sebesar Rp 13.217.353.000.000 atau Rp 13,2 triliun. BMRI (Bank Mandiri dan entitas anak) memiliki rasio Non-Performing Loan (NPL) bruto 2,36 % dan NPL-net sebesar 0,52 %. Sedangkan rasio Non-Performing Loan (NPL) bruto BMRI (hanya Bank Mandiri) sebesar 2,40 % dan NPL-net 0,47%.

Bank Mandiri sampai tanggal 31 Maret 2020 telah menyalurkan kredit sebesar Rp 881.384.594.000.000 atau Rp 881,3 triliun. Dan BMRI  menyisihkan CKPN (Cadangan Kerugian Penurunan Nilai) sebesar Rp 53.871.929.000.000 atau Rp 53,8 triliun, sehingga kredit bersih yang disalurkan BMRI total Rp 827,5 triliun.

Kredit Macet Bank BRI (BBRI)

Bagaimana dengan kredit macet Bank BRI? Hingga tanggal 31 Maret 2020 Bank BRI mencatat kredit macet sebesar Rp 19.866.789.000.000 atau Rp 19,8 triliun. Sementara rasio Non-Performing Loan (NPL) bruto Bank BRI (entitas induk) 2,81% dan  rasio NPL neto 0,63%.

Bank pemilik aset terbesar di Indonesia ini hingga tanggal 31 Maret 2020 BBRI telah menyalurkan total kredit sebesar Rp. 901.805.704.000.000 atau Rp 901,8 triliun. Bank BRI melaporkan nilai CKPN (Cadangan Kerugian Penurunan Nilai) dari total kredit yang disalurkan sebesar Rp 56.862.633.000.000 atau Rp. 56,8 triliun. Sehingga Bank BRI telah menyalurkan kredit bersih sebesar Rp 844,9 triliun.

Kredit Macet Bank OCBC NISP (NISP)

Bank OCBC NISP memiliki kredit macet sebesar Rp 1.689.818.000.000 atau Rp 1,6 triliun hingga kuartal pertama tahun 2020. NISP memiliki rasio Non-Performing Loan (NPL) bruto 1,80 % dan NPL-net 0,88%. Bank  OCBC NISP hingga tanggal 31 Maret telah menyalurkan kredit sebesar Rp 123.874.389.000.000 atau Rp 123,87 triliun dan menyisihkan CKPN (Cadangan Kerugian Penurunan Nilai) sebesar Rp 4,56 triliun. Sehingga total kredit bersih yang disalurkan NISP sebesar Rp 119,31 triliun.

Kredit Macet Bank BTPN (BTPN)

Bank BTPN memiliki kredit macet sebesar Rp 619 miliar hingga 31 Maret 2020. Serta BTPN memiliki rasio Non-Performing Loan (NPL) bruto 0,97 % dan NPL-net 0,46% (BTPN dan entitas anak). Bank BTPN hingga tanggal 31 Maret telah menyalurkan kredit sebesar Rp 157 triliun dan menyisihkan CKPN (Cadangan Kerugian Penurunan Nilai) sebesar Rp 2 triliun. Sehingga total kredit bersih yang disalurkan BTPN sebesar Rp 155 triliun.

Dapat disimpulkan bahwa jumlah kredit macet bank buku empat (IV) pada kuartal pertama tahun 2020 mencapai Rp 59,4 triliun. Apabila ditambah Bank BTPN dan Bank OCBC NISP menjadi Rp 61,6 triliun.

Jumlah Kredit Macet Bank BRI, BCA dan BNI, Siapa Terbesar?



Kuhuni.com – Jakarta. Kredit macet bank mulai mengalami kenaikan akibat ekonomi yang semakin buruk. Kredit macet ini juga mulai menjalar ke bank besar di Indonesia. Hingga akhir maret ini sejumlah bank besar di Indonesia sudah menyampaikan laporan keuangan. Meskipun demikian kredit macet yang tercatat di laporang keuangan tersebut masih belum mencerminkan dampak dari pandemi Virus Corona di Indonesia.

Sebab, Virus Corona mulai terdeteksi di Indonesia yaitu sejak awal Maret. Dan PSBB baru mulai diterapkan sejak awal April. Seperti Jakarta sebagai pusat awal penyebaran Virus Corona baru menerapkan PSBB pada tanggal 10 April 2020. Jadi bisa disimpulkan laporan keuangan bank besar di tanah air belum mencerminkan dampak dari Virus Corona. Dampak dari keterpurukan ekonomi yang sendang terjadi saat ini akan mulai tercermin di laporan keuangan di berikutnya di tahun 2020 ini.

Dari laporan keuangan kuartal pertama tahun 2020 sejumah bank besar seperti bank buku 4 sudah menyampaikan besaran kredit macetnya. Berikut tim Kuhuni sudah melakukan riset  dari laporan keuangan pada sejumlah bank dan mengurutkan besaran kredit macetnya.

Kredit Macet Bank BNI

Bank BNI hingga kuartal pertama di tahun 2020 telah menyalurkan kredit sebesar Rp 579.604.360.000.000 atau Rp 579,6 triliun. Total CKPN (Cadangan Kerugian Penurunan Nilai) Bank BNI yaitu Rp 32.686.673.000.000 atau Rp 32,6 triliun. Sehingga total pinjaman bersih yang disalurkan Bank BNI adalah Rp 546,9 triliun.

Bank BNI mencatatkan kredit macet sebesar Rp 6.119.158.000.000 atau Rp 6,1 triliun sampai pada tanggal 31 Maret 2020. Rasio Non-Performing Loan (NPL) bruto Bank BNI 2,45%  dan  rasio NPL neto BNI adalah 0,58%.

Kredit Macet Bank BCA

Bank BCA hingga tanggal 31 Maret 2020 sudah menyalurkan kredit dengan total sebesar Rp 596.409.652.000.000 atau Rp 596,4 triliun. Dari total kredit tersebut Bank BCA melaporkan nilai CKPN (Cadangan Kerugian Penurunan Nilai) sebesar Rp. 22.045.913.000.000. atau Rp 22 triliun. Sehingga total pinjaman bersih yang telah diberikan Bank BCA yaitu Rp 574 triliun.

Bank BCA juga melaporkan total kredit macet hingga 31 Maret 2020 yaitu sebesar Rp. 6.907.389.000.000 atau Rp. 6,9 triliun. Sebagai tambahan, hingga pada tanggal 31 Maret 2020, rasio non-performing loan (NPL) bruto Bank BCA sebesar 1,60% dan rasio NPL neto Bank BCA  0,59%..

Kredit Macet Bank BRI

Bagaimana dengan kredit macet Bank BRI? Pertama mari kita lihat total kredit yang telah disalurkan bank pemilik aset terbesar di Indonesia ini. Sampai pada tanggal 31 Maret 2020 Bank BRI telah menyalurkan total kredit sebesar Rp. 901.805.704.000.000 atau Rp 901,8 triliun. Bank BRI melaporkan nilai CKPN (Cadangan Kerugian Penurunan Nilai) dari total kredit yang disalurkan sebesar Rp 56.862.633.000.000 atau Rp. 56,8 triliun. Sehingga Bank BRI telah menyalurkan kredit bersih sebesar Rp 844,9 triliun.

Bagaimana dengan kredit macet Bank BRI? Hingga tanggal 31 Maret 2020 Bank BRI mencatat kredit macet sebesar Rp 19.866.789.000.000 atau Rp 19,8 triliun. Rasio Non-Performing Loan (NPL) bruto Bank BRI (entitas induk) 2,81% dan  rasio NPL neto BRI adalah 0,63%.

Dari data di atas dapat disimpulkan Bank BRI menduduki peringkat pertama yang memiliki total nilai kredit macet terbesar. Bahkan mencapi 3 kali nilai kredit macet Bank BNI. Riset kredit macet ini akan kembali dirilis untuk menampilkan kredit macet Bank Mandiri. Berhubung Bank Mandiri hingga akhir bulan Mei belum merilis laporan keuangan kuartal pertama tahun 2020, sehingga tim Kuhuni belum bisa menampilkan datanya.



Warren Buffett Jual 84% Saham Bank Goldman Sachs


Warren Buffett salah satu orang terkaya di dunia, baru ini menjual saham-saham bank miliknya. Melansir dari situs Forbes.com pada tanggal 16 Mei 2020 mengungkapkan Warren Buffett telah menjual  sebagian besar 84% sahamnya di Goldman Sachs. Dari awalnya 12 juta saham kini hanya tinggal di bawah 2 juta lembar saham.


Perusahaan Goldman sachs salah satu bank besar di Amerika. Warren telah lama berinvestasi di Goldman sachs dan pada tahun 2008 saat krisis Warren Buffett menginvestasikan uang US$ 5 miliar di Goldman sachs. Kini berdasarkan laporan pengarsipan perusahaan Berkshire Hathaway (perusahaan milik Warren Buffett) nilai investasi mereka di Goldman sachs tersisa sekitar US$ 330 juta.

Berkshire Hathaway juga menjual saham bank lainnya yaitu JPMorgan Chase & Co sebesar 3%. Selain itu Warren juga ke luar dari perusahaan asuransi Travelers dan energi Phillips 66.

Yang lebih mengejutkan lagi, Warren Buffett  menjual sahamnya di Amazon salah satu e-commerce raksasa dunia. Warren Buffett memangkas kepemilikannya sebesar 0,7% di Amazon.

Namun, ada juga hal yang menarik untuk diperhatikan. Warren Buffett  melakukan investasi disaat pandemic virus covid-19 di salah satu bank di Amerika. Yaitu sebuah bank pemberi pinjaman terbesar di Amerika yaitu PNC Financial Services Group. Warren Buffett menambah kepemilikannya di PNC Financial Services Group hingga mencapai 6%.

Sebagai tambahan, pada saat pertemuan para pemegang saham tahunan Berkshire Hathaway pada awal Mei 2020. Tumpukan uang tunai perusahaan Warren Buffett Berkshire Hathaway mengalami peningkatan dari US$ 125 miliar menjadi $ 137,3 miliar atau dari Rp 1.875 triliun menjadi Rp 2.059 triliun (kurs US$ 1=  Rp 15.000).

Melihat fenomena langkah Warren Buffett yang menjual saham-saham bank miliknya. Apakah ini yang menjadikan saham-saham bank besar di Indonesia berjatuhan? Yang membuat asing selama satu pekan terakhir ke luar dari saham perbankan besar di bursa. Mengutif laporan RTI Business selama satu minggu terakhir asing telah jual bersih sebesar Rp 1,76 triliun di saham BBRI.  Di saham BBCA sebesar Rp 919,7 miliar dan saham BMRI Rp 273,9 miliar. Apabila ditotal, asing telah kabur dari ketiga bank besar tersebut dengan nilai mencapai Rp 2,95 triliun. 

Berita Utama

Bank BCA Merestrukturisasi Kredit Senilai Rp 99 Triliun hingga Kuartal 1 2021

Kuhuni.com – Bank BCA (BBCA) hingga kuartal 1 2021 telah merestrukturisasi kredit sebesar Rp 99,10 triliun. Dari laporan keuangan Bank BCA ...