Clipan Finance Cetak Laba Rp153,65 Miliar hingga September 2026, Pendapatan Masih Tertekan

JAKARTA, Kuhuni.com — PT Clipan Finance Indonesia Tbk (CFIN) membukukan laba bersih sebesar Rp153,65 miliar selama sembilan bulan pertama 2026, meningkat 13,26% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp135,66 miliar. Kenaikan laba terjadi di tengah penurunan pendapatan, seiring keberhasilan perusahaan menekan sejumlah beban, terutama beban bunga dan kerugian penurunan nilai aset keuangan.

Berdasarkan laporan keuangan per 30 September 2026, pendapatan Clipan Finance mencapai Rp1,12 triliun, turun 8,71% dibandingkan Rp1,23 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Namun, total beban turun lebih besar, yakni 12,83%, dari Rp1,06 triliun menjadi Rp924,92 miliar.

Laporan kinerja Clipan Finance

Penurunan beban tersebut mendorong laba sebelum pajak meningkat 17,50% menjadi Rp196,39 miliar. Dengan demikian, pertumbuhan laba Clipan Finance terutama ditopang oleh pengendalian beban, sementara pendapatan masih menghadapi tekanan dari segmen pembiayaan konsumen.

Pendapatan Clipan Finance Turun 8,71%

Clipan Finance mencatat total pendapatan sebesar Rp1,12 triliun selama sembilan bulan pertama 2026, turun Rp106,89 miliar dibandingkan Rp1,23 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Komponen Pendapatan Jan–Sep 2026 Jan–Sep 2025 Perubahan
Jual dan sewa-balikRp7,33 miliarRp8,19 miliar-10,49%
Sewa pembiayaanRp56,16 miliarRp53,89 miliar+4,20%
Pembiayaan konsumenRp805,06 miliarRp896,12 miliar-10,16%
Sewa operasi properti investasiRp450,00 jutaRp450,00 juta0,00%
Sewa operasi kendaraanRp3,17 miliarRp3,54 miliar-10,61%
Pendapatan bungaRp936,14 jutaRp630,20 juta+48,54%
Keuntungan penjualan aset tetapRp1,80 miliarRp355,55 juta+407,52%
Pendapatan lainnyaRp246,40 miliarRp265,02 miliar-7,02%
Total PendapatanRp1.121,31 miliarRp1.228,20 miliar-8,71%

Penurunan pendapatan terutama berasal dari pembiayaan konsumen. Pendapatan segmen ini turun Rp91,06 miliar menjadi Rp805,06 miliar dari Rp896,12 miliar. Dengan kontribusi sekitar 71,80% terhadap total pendapatan, pelemahan pembiayaan konsumen menjadi faktor terbesar yang menekan pendapatan perusahaan.

Pendapatan lainnya juga turun menjadi Rp246,40 miliar dari Rp265,02 miliar. Kedua penurunan tersebut mendominasi perubahan pendapatan, meskipun perusahaan masih mencatat pertumbuhan pada pendapatan sewa pembiayaan, pendapatan bunga, dan keuntungan penjualan aset tetap.

Pendapatan sewa pembiayaan meningkat 4,20% menjadi Rp56,16 miliar. Sementara itu, keuntungan penjualan aset tetap naik dari Rp355,55 juta menjadi Rp1,80 miliar. Namun, peningkatan pada kedua pos tersebut belum cukup untuk mengimbangi penurunan pendapatan pembiayaan konsumen dan pendapatan lainnya.

Beban Turun 12,83%, Beban Bunga Menyusut

Di tengah penurunan pendapatan, Clipan Finance berhasil mengurangi total beban menjadi Rp924,92 miliar dari Rp1,06 triliun. Penurunan sebesar Rp136,14 miliar tersebut lebih besar daripada penurunan pendapatan, sehingga laba sebelum pajak tetap tumbuh.

Komponen Beban Jan–Sep 2026 Jan–Sep 2025 Perubahan
Bunga dan beban pembiayaan lainnyaRp172,32 miliarRp213,77 miliar-19,39%
Umum dan administrasiRp122,15 miliarRp136,24 miliar-10,34%
Tenaga kerjaRp242,53 miliarRp237,48 miliar+2,13%
Imbalan pascakerjaRp19,81 miliarRp10,41 miliar+90,35%
Penyusutan aset sewa operasiRp1,42 miliarRp3,48 miliar-59,15%
Kerugian penurunan nilai aset keuanganRp370,09 miliarRp456,31 miliar-18,89%
Pemulihan/(kerugian) penurunan nilai agunan yang diambil alih(Rp6,34 miliar)(Rp138,38 juta)Pemulihan meningkat
Beban lainnyaRp2,95 miliarRp3,51 miliar-15,92%
Total BebanRp924,92 miliarRp1.061,06 miliar-12,83%

Penurunan beban bunga dan pembiayaan lainnya menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga profitabilitas. Beban ini turun 19,39% menjadi Rp172,32 miliar dari Rp213,77 miliar, sehingga perusahaan menghemat sekitar Rp41,45 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Beban umum dan administrasi juga berkurang Rp14,09 miliar menjadi Rp122,15 miliar. Penurunan tersebut memperkuat dampak efisiensi beban bunga terhadap laba perusahaan.

Namun, beberapa pos masih mengalami peningkatan. Beban tenaga kerja naik menjadi Rp242,53 miliar dari Rp237,48 miliar, sedangkan beban imbalan pascakerja meningkat menjadi Rp19,81 miliar dari Rp10,41 miliar. Kenaikan kedua pos tersebut menahan sebagian manfaat dari penurunan beban lainnya.

Beban Penurunan Nilai Aset Keuangan Berkurang Rp86,23 Miliar

Beban kerugian penurunan nilai aset keuangan turun menjadi Rp370,09 miliar selama sembilan bulan pertama 2026, dibandingkan Rp456,31 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan sebesar Rp86,23 miliar atau 18,89% ini menjadi salah satu kontributor penting terhadap peningkatan laba sebelum pajak.

Meski beban penurunan nilai dalam laporan laba rugi berkurang, cadangan kerugian kredit pada sejumlah kelompok piutang di neraca meningkat dibandingkan akhir 2025.

Cadangan Kerugian Kredit 30 September 2026 31 Desember 2025 Perubahan
Tagihan anjak piutangRp163,09 miliarRp94,33 miliar+72,90%
Piutang jual dan sewa-balikRp1,31 miliarRp506,87 juta+157,45%
Piutang sewa pembiayaanRp20,33 miliarRp15,73 miliar+29,24%
Piutang pembiayaan konsumenRp213,34 miliarRp178,21 miliar+19,71%

Peningkatan cadangan terbesar secara nominal terjadi pada piutang anjak piutang, yang bertambah sekitar Rp68,76 miliar. Cadangan pembiayaan konsumen juga meningkat sekitar Rp35,12 miliar.

Di sisi lain, Clipan Finance mencatat pemulihan penurunan nilai agunan yang diambil alih sebesar Rp6,34 miliar, dibandingkan pemulihan Rp138,38 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Perubahan ini turut membantu menekan total beban periode berjalan.

Laba Bersih Naik Menjadi Rp153,65 Miliar

Penurunan total beban yang lebih besar daripada penurunan pendapatan mendorong laba sebelum pajak Clipan Finance meningkat menjadi Rp196,39 miliar, naik 17,50% dibandingkan Rp167,14 miliar pada sembilan bulan pertama 2025.

Indikator Laba Rugi Jan–Sep 2026 Jan–Sep 2025 Perubahan
Total pendapatanRp1.121,31 miliarRp1.228,20 miliar-8,71%
Total bebanRp924,92 miliarRp1.061,06 miliar-12,83%
Laba sebelum pajakRp196,39 miliarRp167,14 miliar+17,50%
Beban pajak bersihRp42,74 miliarRp31,49 miliar+35,75%
Laba bersihRp153,65 miliarRp135,66 miliar+13,26%
Laba per sahamRp38,56Rp34,05+13,24%
Total laba komprehensifRp158,08 miliarRp135,66 miliar+16,53%

Beban pajak bersih meningkat menjadi Rp42,74 miliar dari Rp31,49 miliar. Kenaikan ini membuat pertumbuhan laba bersih lebih rendah daripada pertumbuhan laba sebelum pajak.

Beban pajak tersebut mencakup pajak kini sebesar Rp53,77 miliar dan penyesuaian pajak penghasilan tahun lalu sebesar Rp7,11 miliar. Perusahaan juga mencatat manfaat pajak tangguhan sebesar Rp18,14 miliar yang mengurangi beban pajak bersih.

Setelah memperhitungkan pajak, laba bersih mencapai Rp153,65 miliar, naik 13,26%. Laba per saham juga meningkat dari Rp34,05 menjadi Rp38,56. Sementara itu, penghasilan komprehensif lain setelah pajak sebesar Rp4,43 miliar mendorong total laba komprehensif menjadi Rp158,08 miliar.

Baca Laporan Keuangan Emiten Lainnya

  1. Laporan Keuangan AXIO September 2026: Pendapatan Naik 24%, Laba Bersih Tembus Rp61 Miliar
  2. Laporan Keuangan BPFI September 2026: Laba Bersih Naik 89% Jadi Rp97,81 Miliar
  3. Laba Bersih DMAS Meroket 184% Per September 2026
  4. Laporan Keuangan BOBA September 2026: Penjualan dan Laba Bersih Meningkat
  5. Laporan Keuangan Saham ARNA September 2026: Penjualan Rp2,51 Triliun, Laba Naik 22,82%
  6. GUNA Raup Pendapatan Rp1,49 Triliun, Laba Bersih Naik 15,01% hingga September 2026
  7. Laporan keuangan PTPP September 2026: pendapatan turun 12,69% dan laba tahun berjalan Rp4,57 miliar.
  8. Laporan Keuangan PJAA September 2026: Laba Bersih Rp25,30 Miliar, Turun 56,52%
  9. PAMG Catat Rugi Rp2,56 Miliar hingga September 2026, Pendapatan Turun 10,78%
  10. Laba AKRA Naik 32% Jadi Rp2,44 Triliun hingga September 2026
  11. Laba BTPS Naik 7% Jadi Rp1,01 Triliun hingga September 2026
  12. Clipan Finance Cetak Laba Rp153,65 Miliar hingga September 2026, Pendapatan Masih Tertekan

Total Aset Clipan Finance Turun Menjadi Rp8,58 Triliun

Pada 30 September 2026, total aset Clipan Finance tercatat sebesar Rp8,58 triliun, turun 9,90% dibandingkan Rp9,53 triliun pada akhir 2025. Penurunan aset terutama berasal dari menyusutnya piutang pembiayaan konsumen, piutang sewa pembiayaan, piutang jual dan sewa-balik, serta tagihan anjak piutang.

Komponen Aset 30 September 2026 31 Desember 2025 Perubahan
Kas dan bankRp64,15 miliarRp27,52 miliar+133,08%
Tagihan anjak piutang bersihRp197,06 miliarRp268,63 miliar-26,63%
Piutang jual dan sewa-balik bersihRp50,79 miliarRp104,08 miliar-51,20%
Piutang sewa pembiayaan bersihRp534,07 miliarRp684,34 miliar-21,96%
Piutang pembiayaan konsumen bersihRp7.275,13 miliarRp7.967,01 miliar-8,69%
Piutang lainnyaRp21,02 miliarRp25,03 miliar-16,00%
Aset tetap bersihRp140,89 miliarRp150,01 miliar-6,08%
Aset takberwujud bersihRp7,67 miliarRp10,48 miliar-26,86%
Aset pajak tangguhan bersihRp67,37 miliarRp50,48 miliar+33,46%
Total AsetRp8.584,08 miliarRp9.527,02 miliar-9,90%

Piutang pembiayaan konsumen bersih turun Rp691,88 miliar menjadi Rp7,28 triliun. Karena pos ini merupakan bagian terbesar dari aset perusahaan, penurunannya menjadi faktor utama yang memengaruhi perubahan total aset.

Piutang sewa pembiayaan bersih juga turun Rp150,28 miliar menjadi Rp534,07 miliar. Piutang jual dan sewa-balik bersih berkurang Rp53,29 miliar, sedangkan tagihan anjak piutang bersih turun Rp71,56 miliar.

Di tengah penurunan portofolio piutang, kas dan bank meningkat menjadi Rp64,15 miliar dari Rp27,52 miliar pada akhir 2025. Aset pajak tangguhan juga naik menjadi Rp67,37 miliar dari Rp50,48 miliar.

Utang Bank Turun Rp873,63 Miliar

Total liabilitas Clipan Finance turun menjadi Rp2,84 triliun pada akhir September 2026, dibandingkan Rp3,74 triliun pada akhir 2025. Penurunan sebesar Rp901,78 miliar atau 24,11% ini terutama dipengaruhi oleh berkurangnya utang bank.

Komponen Liabilitas 30 September 2026 31 Desember 2025 Perubahan
Utang bankRp2.585,05 miliarRp3.458,67 miliar-25,26%
Utang kepada pihak ketigaRp12,11 miliarRp44,24 miliar-72,63%
Utang pajakRp34,44 miliarRp22,09 miliar+55,91%
Utang premi asuransiRp5,86 miliarRp15,21 miliar-61,46%
Beban masih harus dibayarRp38,95 miliarRp29,96 miliar+30,01%
Utang lain-lain kepada pihak ketigaRp70,27 miliarRp73,58 miliar-4,50%
Liabilitas sewaRp7,13 miliarRp12,22 miliar-41,65%
Pendapatan ditangguhkanRp2,15 miliarRp3,14 miliar-31,49%
Liabilitas imbalan pascakerjaRp83,27 miliarRp81,89 miliar+1,69%
Total LiabilitasRp2.839,22 miliarRp3.741,01 miliar-24,11%

Utang bank menyusut dari Rp3,46 triliun menjadi Rp2,59 triliun. Utang bank kepada pihak berelasi turun menjadi Rp744,47 miliar dari Rp1,06 triliun, sedangkan utang kepada pihak ketiga berkurang menjadi Rp1,84 triliun dari Rp2,40 triliun.

Penurunan utang bank tersebut sejalan dengan arus kas pendanaan yang mencatat pembayaran pinjaman bank lebih besar daripada penerimaan pinjaman baru. Perusahaan membayar pinjaman bank sebesar Rp2,34 triliun dan menerima pinjaman baru Rp1,47 triliun selama sembilan bulan pertama 2026.

Di sisi lain, utang pajak meningkat menjadi Rp34,44 miliar dan beban yang masih harus dibayar naik menjadi Rp38,95 miliar. Namun, kenaikan kedua pos tersebut tidak mengimbangi penurunan utang bank sehingga total liabilitas tetap turun signifikan.

Ekuitas Relatif Stabil di Rp5,74 Triliun

Total ekuitas Clipan Finance tercatat sebesar Rp5,74 triliun pada 30 September 2026, sedikit turun dibandingkan Rp5,79 triliun pada akhir 2025. Modal saham dan tambahan modal disetor tidak berubah, sedangkan perubahan terutama terlihat pada saldo laba.

Komponen Ekuitas 30 September 2026 31 Desember 2025 Perubahan
Modal sahamRp996,13 miliarRp996,13 miliarTetap
Tambahan modal disetorRp351,95 miliarRp351,95 miliarTetap
Penghasilan komprehensif lainRp58,57 miliarRp56,12 miliar+4,37%
Saldo laba ditentukan penggunaannyaRp2,75 miliarRp2,60 miliar+5,77%
Saldo laba tidak ditentukan penggunaannyaRp4.335,46 miliarRp4.379,21 miliar-1,00%
Total EkuitasRp5.744,86 miliarRp5.786,01 miliar-0,71%

Saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya turun Rp43,75 miliar menjadi Rp4,34 triliun. Selama sembilan bulan pertama 2026, Clipan Finance membukukan laba bersih Rp153,65 miliar dan membayarkan dividen Rp192,67 miliar.

Pembayaran dividen yang lebih besar daripada laba bersih periode berjalan turut menjelaskan tekanan pada saldo laba. Sementara itu, penghasilan komprehensif lain meningkat menjadi Rp58,57 miliar, sejalan dengan adanya penghasilan komprehensif lain setelah pajak selama periode berjalan.

Dengan liabilitas yang turun lebih besar daripada ekuitas, struktur pendanaan Clipan Finance pada akhir September 2026 semakin didominasi oleh ekuitas dibandingkan akhir tahun sebelumnya.

Arus Kas Operasi Melonjak Menjadi Rp1,12 Triliun

Clipan Finance mencatat kas bersih dari aktivitas operasi sebesar Rp1,12 triliun selama sembilan bulan pertama 2026, meningkat dari Rp531,71 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Arus kas operasi tersebut meningkat sekitar 111,27%.

Komponen Arus Kas Jan–Sep 2026 Jan–Sep 2025 Perubahan
Kas bersih dari aktivitas operasiRp1.123,31 miliarRp531,71 miliar+111,27%
Kas bersih untuk aktivitas investasi(Rp14,92 miliar)(Rp5,49 miliar)Arus keluar meningkat
Kas bersih untuk aktivitas pendanaan(Rp1.071,77 miliar)(Rp516,07 miliar)Arus keluar meningkat
Kenaikan bersih kas dan bankRp36,62 miliarRp10,15 miliar+260,76%
Kas dan bank akhir periodeRp64,15 miliarRp37,93 miliar+69,12%

Peningkatan arus kas operasi terutama ditopang oleh penurunan pengeluaran kas untuk pembiayaan serta pembayaran penerusan pinjaman dan pembiayaan bersama. Pengeluaran untuk jual dan sewa-balik, sewa pembiayaan, dan pembiayaan konsumen turun menjadi Rp3,00 triliun dari Rp3,78 triliun.

Pengeluaran untuk penerusan pinjaman dan pembiayaan bersama juga turun menjadi Rp527,16 miliar dari Rp983,31 miliar. Pembayaran beban umum dan administrasi turun menjadi Rp75,98 miliar dari Rp105,15 miliar, sedangkan pembayaran bunga turun menjadi Rp173,98 miliar dari Rp214,48 miliar.

Di sisi pendanaan, pembayaran pinjaman bank sebesar Rp2,34 triliun melampaui penerimaan pinjaman baru Rp1,47 triliun. Perusahaan juga membayarkan dividen Rp192,67 miliar. Kondisi tersebut membuat aktivitas pendanaan mencatat arus kas keluar bersih Rp1,07 triliun.

Arus kas operasi yang meningkat mampu menutup arus kas keluar dari aktivitas investasi dan pendanaan. Kas dan bank pun bertambah Rp36,62 miliar selama periode berjalan menjadi Rp64,15 miliar pada akhir September 2026.

Kesimpulan: Efisiensi Beban Menopang Pertumbuhan Laba

Kinerja Clipan Finance selama sembilan bulan pertama 2026 memperlihatkan pertumbuhan laba di tengah penurunan pendapatan. Pendapatan turun 8,71%, terutama akibat melemahnya pembiayaan konsumen, tetapi total beban menyusut lebih besar sebesar 12,83% sehingga laba bersih meningkat 13,26% menjadi Rp153,65 miliar.

Penurunan beban bunga dan kerugian penurunan nilai aset keuangan menjadi faktor penting dalam perbaikan laba. Di sisi neraca, total aset turun menjadi Rp8,58 triliun, terutama akibat menyusutnya sejumlah portofolio piutang pembiayaan. Pada saat yang sama, total liabilitas turun menjadi Rp2,84 triliun seiring pengurangan utang bank.

Arus kas operasi yang meningkat menjadi Rp1,12 triliun juga menjadi perkembangan positif. Namun, penurunan pendapatan pembiayaan konsumen dan peningkatan cadangan kerugian kredit pada beberapa kelompok piutang tetap menjadi faktor penting dalam membaca kinerja perusahaan.

Secara keseluruhan, pertumbuhan laba Clipan Finance pada sembilan bulan pertama 2026 lebih banyak ditopang oleh penurunan beban daripada pertumbuhan pendapatan. Kemampuan menjaga efisiensi sekaligus mempertahankan produktivitas portofolio pembiayaan akan menjadi faktor penting bagi perkembangan kinerja perusahaan berikutnya.

Laba AKRA Naik 32% Jadi Rp2,44 Triliun hingga September 2026

Kuhuni.com — PT AKR Corporindo Tbk (IDX: AKRA) membukukan pertumbuhan kinerja selama sembilan bulan pertama 2026. Hingga 30 September 2026, pendapatan konsolidasian mencapai Rp46,53 triliun, naik 43,63% dibandingkan Rp32,40 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bersih periode berjalan meningkat 32,37% menjadi Rp2,44 triliun dari Rp1,85 triliun.

Pertumbuhan pendapatan juga diikuti kenaikan laba bruto dan laba usaha. Namun, margin laba bruto menyusut dan arus kas bersih dari aktivitas operasi turun menjadi Rp3,01 triliun. Dari sisi neraca, total aset dan ekuitas meningkat dibandingkan akhir 2025, sementara total liabilitas juga bertambah.

Berikut analisis laporan keuangan AKRA untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2026, berdasarkan laporan yang disampaikan perusahaan. Laporan posisi keuangan per 30 September 2026 berstatus tidak diaudit.

AKR Corporindo Tbk/Dok AKRA

Pendapatan AKRA Tumbuh 43,63%

Total pendapatan AKRA mencapai Rp46,53 triliun pada Januari–September 2026, dibandingkan Rp32,40 triliun pada periode yang sama 2025. Kenaikan tersebut terutama tercermin pada pendapatan dari kontrak dengan pelanggan, yang meningkat dari Rp32,18 triliun menjadi Rp46,33 triliun.

Komponen9M 20269M 2025Perubahan
Pendapatan dari kontrak dengan pelangganRp46,33 triliunRp32,18 triliun+43,98%
Pendapatan sewaRp203,97 miliarRp219,35 miliar-7,01%
Total pendapatanRp46,53 triliunRp32,40 triliun+43,63%
Beban pokok penjualan dan pendapatanRp42,92 triliunRp29,63 triliun+44,86%
Laba brutoRp3,61 triliunRp2,77 triliun+30,48%

Pertumbuhan pendapatan yang tinggi perlu dibaca bersama kenaikan beban pokok. Beban pokok penjualan dan pendapatan bertambah 44,86%, sedikit lebih cepat daripada pertumbuhan total pendapatan sebesar 43,63%. Akibatnya, laba bruto tumbuh 30,48%, lebih lambat dibandingkan kenaikan pendapatan.

Histori Dividen GGRM / Gudang Garam


Kuhuni.com -
Histori jumlah dividen Gudang Garam (GGRM) sejak tahun 2010 selalu mengalami pasang surut. Selama 10 tahun terakhir Gudang Garam (GGRM) rutin membagikan dividen ke pemegang saham.

Dividen yield dan jumlah dividen per lembar GGRM selalu mengalami perubahan di tahun-tahun tertentu. Apabila kita perhatikan dari info grafis di atas. Jumlah dividen Gudang Garam dari tahun 2010 hingga 2012 senantiasa mengalami kenaikan. Kemudian di tahun 2013, 2014 dan 2015 jumlah dividen GGRM sama tiap tahun sebesar Rp 800 per lembar. Selanjutnya di tahun 2016 hingga 2019 dividen GGRM meningkat tajam, tetapi jumlahnya tetap sama tiap tahun yaitu sebesar Rp 2.600 per lembar.

Harga Saham FLMC Hari Ini – Falmaco Nonwoven Industri Tbk (IDX: FLMC)

 


Harga Saham FLMC Hari Ini:

 

Analisis Fundamental Saham FLMC

Harga Saham MCOL Hari Ini – Prima Andalan Mandiri Tbk (IDX: MCOL)

 


Harga Saham MCOL Hari Ini: 

Analisis Fundamental Saham MCOL

Harga Saham CMRY Hari Ini – Cimory (IDX: CMRY)

 


Harga Saham CMRY Hari Ini:


Analisis Fundamental Saham CMRY

Berikut analisis fundamental saham CMRY:


Harga Saham MTEL Hari Ini – PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (IDX: MTEL)

 

Harga Saham MTEL Hari Ini:

Analisis Fundamental Saham MTEL

Analisis fundamental MTEL sesuai dengan rasio keuangan saham Dayamitra Telekomunikasi Tbk. Berikut analisis fundamental saham MTEL:

Harga Saham GGRM 10 Tahun Terakhir

harga saham ggrm 10 tahun terakhir

Harga saham Gudang Garam (IDX: GGRM) terus turun sepanjang tahun 2021. Harga saham GGRM dari awal Januari hingga September 2021 sudah turun sebesar 22%. Harga saham GGRM pada Januari 2021 masih berada di level Rp 41.000 per lembar. Namun, September 2021 harga saham GGRM kembali turun ke Rp 31. 900 per lembar.

Harga tertinggi saham Gudang Garam (GGRM) Rp 83.800 per lembar di tahun 2017 dan di tahun 2018. Namun, tahun 2019 harga saham GGRM anjlok ke harga Rp 53.000 per lembar atau -37%. Kemudian, terus anjlok hingga tahun 2020 di level Rp 41.000 atau minus 23%. Berikut histori harga saham GGRM selama 10 tahun terakhir.

Saham RUNS Naik 108%, Apakah akan kembali ARA?

idx runs

Kuhuni.com – Saham RUNS sejak pertama kali IPO sudah naik sebesar 108%. Harga saham RUNS awalnya dijual ke pasar di harga Rp 254 per lembar dan kini sahamnya sudah melonjak ke harga Rp 530 per lembar.

Harga saham PT Global Sukses Solusi Tbk ( IDX : RUNS)  sejak IPO di Bursa Efek pada tanggal 8 September 2021 sudah mengalami ARA ( auto reject atas) selama 8 hari berturut-turut. Saham RUNS pada perdangan tanggal 17 September 2021, volume transaksi mencapai 2,9 juta lembar dengan nilai transaksi mencapai Rp 1,57 miliar.

Dividen HEXA 2021: US$ 0,0839 Per Lembar

Dividen HEXA

Kuhuni.com – Dividen HEXA 2021 sebesar US$ 0.083902 per lembar atau setara dengan US$ 70,47 juta atau setara dengan Rp 1 triliun (kurs Rp 14.257 per USD). Dividen tunai HEXA tahun 2021 meningkat dibanding dividen tahun sebelumnya. Berikut histori pembagian dividen HEXA selama 5 tahun terakhir ini.

Hexindo Adiperkasa Tbk (IDX: HEXA) selama 5 tahun terakhir rasio pembagian dividen selalu mencapai di atas 80% dari laba bersih.

Berikut Histori Dividen HEXA 5 tahun terakhir:

  1. Tahun 2020 dividen HEXA sebesar US$ 0.3661 per lembar.
  2. Tahun 2019 dividen HEXA sebesar US$ 0.358 per lembar saham.
  3. Tahun 2018 dividen HEXA sebesar US$ 0.2148 per lembar saham.
  4. Tahun buku 2017 dividen HEXA sebesar US$ 0.01721 per lembar saham.
  5. Tahun buku 2016 dividen HEXA sebesar US$ 0.1262 per lembar saham.

Lihat Juga:

1.    Daftar Aplikasi Trading Saham Harian Terbaik

2.    20 Saham ini Bagi Dividen 2021, No 20 Paling Oke

3.    Dividen Bukit Asam PTBA dari Tahun ke Tahun 

4.    Daftar Broker Saham Asing di Indonesia

5.    Daftar Broker Forex Terpercaya

Laba bersih Hexindo Adiperkasa Tbk (IDX: HEXA)  tahun buku 2020 tercatat sebesar US$ 38,43 juta dan laba bersih per saham sebesar US$ 0.04576. Dengan demikian di tahun 2021 ini HEXA kembali membagikan dividen jumbo. Dividen yang dibagikan melebihi laba bersih. Dividen tunai HEXA tahun 2021 adalah sebesar US$ 0.083902 per lembar saham, dengan catatan rasio pembayaran dividen mencapai 200%. Atau sebesar ±Rp 1.200 per lembar. Dengan demikian perkiraan dividen yield HEXA sebesar 26% dari harga saham Rp 4.570 per lembar.

Lihat Juga: 5 Aplikasi Jual Beli Saham Terbaik di Indonesia

Jumlah dividen HEXA 2021 ini telah diputuskan di RUPS Hexindo Adiperkasa Tbk (IDX: HEXA) tanggal 17 September 2021. Jadwal pembagian dividen HEXA 2021 akan disampaikan perseroan lewat Bursa Efek dan KSEI.

Saham GTSI ARB: Apakah harga saham GTSI akan ke Rp 50?

 

GTSI ARB

Saham GTSI ARB (auto rejek bawah) selama 3 hari berturut-turut. Sejak saham GTSI IPO tanggal 8 September 2021, harga sahamnya langsung turun 7 % ke harga Rp 93 per lembar. Selanjutnya tanggal 9 September 2021 harga saham GTSI kembali ARB di harga Rp 87 per lembar. Terakhir tanggal 10 September 2021 harga saham GTSI langsung ARB atau turun 6,90 % di harga Rp 81 per lembar.

Saham PT GTS Internasional (GTSI) pada perdangan sesi pertama tanggal 10 September 2021 kembali ditawarkan sebanyak 5 juta lembar saham. Namun saham GTSI tidak ada yang siap membeli, sehingga para investor ritel tidak bisa menjual sahamnya.

Baca Juga: Profil Budi Haryono: Komisaris Utama PT GTSInternasional (GTSI)

Saham GTSI: Mimpi Buruk Bagi Investor Ritel

harga saham gtsi

Kuhuni.com – Saham PT GTS Internasional (GTSI) resmi melantai di Bursa Efek Indonesia. Harga saham GTSI pun langsung  mengalami ARB auto rejection bawah di harga Rp 93 per lembar atau turun 7%.

Turunnya harga saham GTSI menjadi mimpi buruk bagi investor ritel yang sudah terlanjur membeli di saat IPO. Ingin hati mendapat cuan dari saham IPO GTSI, malah berubah jadi mimpi buruk karena harga sahamnya langsung turun.

Saham GTSI pada pukul 10:40 WIB tanggal 8 September 2021, antri jual (offer) mencapai 4,7 juta lot atau sekitar 470 juta lembar. Artinya banyak investor yang ingin menjual sahamnya segera.

LIHAT JUGA: Profil dan Sejarah SingkatSaham PT Cemindo Gemilang Tbk (CMNT)

Harga saham GTSI pada saat IPO ditawarkan ke masyarakat sebesar Rp 100 per lembar. Dan jumlah saham GTSI yang ditawarkan sebanyak 2,4 miliar dan  GTS Internasional (GTSI) berhasil meraup dana IPO sebesar Rp 240 miliar.

Siapa pemilik Saham GTS Internasional (GTSI)?

Dari prospektus yang diterbitkan oleh perseroan, PT GTS Internasional (GTSI) dimiliki dan dikendalikan oleh Hutomo Madala Putra atau lebih dikenal dengan nama Tommy Soeharto bersama dengan saudaranya Sigit Harjojudanto.

LIHAT JUGA: Aplikasi Trading Saham Harian Terbaik

PT GTS Internasional (GTSI) berada di bawah nuangan PT Hampuss. Perhatikan sturuktur kepemilikan saham di gambar bawah berikut.

pemilik saham gtsi

PT GTS Internasional (GTSI) adalah perusahaan yang bergerak dibidang Angkutan Laut Dalam Negeri dan Luar Negeri untuk Barang Khusus seperti Gas Alam dan Buatan.

 LIHAT JUGA: Profil dan Sejarah Singkat Saham PT Prima Andalan Mandiri Tbk (MCOL)  

Bagaimana harga saham GTSI apakah akan kembali turun?

Saham GTSI bisa saja kembali turun apabila tidak ada yang berminat membeli sahamnya. Namun apabila investor berminat dan berbondong-bondong membeli saham yang ditawarkan, maka harga sahamnya pun akan naik.

Namun, yang menjadi pertanyaan? Siapa yang bersedia untuk membeli saham yang ditawarkan hingga mencapai ratusan juta lembar? Apakah Anda sebagai investor bersedia?

Lihat Juga: Apakah Harga Saham GTSI akan ke Gocap?

Jadwal IPO Saham BMHS (Bundamedik Tbk)

Saham BMHS

Kuhuni.com
– IPO Bundamedik Tbk dimulai tanggal 30 Juni 2021 dan tanggal 1-2 Juli 2021. PT Bundamedik Tbk memiliki kode saham BMHS dan akan berencana listing di Bursa Efek Indonesia tanggal 5 Juli 2021.

Penawaran awal saham BMHS sudah berlangsung sejak tanggal 17-22 Juni 2021 secara online (E-IPO). Sementara tanggal efektif untuk penawaran umum akan dinformasikan pada tanggal 28 Juni 2021.

11 Saham Ini Bayar Dividen Tunai Juli 2021, No 11 Paling Oke


Kuhuni.com –
Saham bayar dividen tunai Juli 2021 ke pemegang saham diantaranya saham SMAR, MERK, MICE, TPIA, SCCO dan saham lainnya. Berikut daftar saham yang membayar dividen ke investor Juli 2021.

Saham yang Membayar Dividen Tunai Juli 2021

1. Dividen Saham SMAR

Dividen tunai saham SMAR (Smart Tbk) 2021 sebesar Rp 160 per lembar saham. Pembagian dividen ke pemegang saham dibayar tanggal 2 Juli 2021. Sementara yang berhak mendapat dividen yaitu pemegang saham yang masih memiliki sahamnya hingga cum date 23 Juni 2021.

Aplikasi Trader yang Terdaftar di OJK: Paling Aktif Mei 2021

Mirae Sekuritas (YP)

Aplikasi Trader yang Terdaftar di OJK – Paling aktif Mei 2021
yaitu Neo Host Mobile milik Mirae Aset Sekuritas (YP), MOST Mobile Mandiri Sekuritas milik Mandiri Sekuritas (CC) dan CGS-CIMB iTrade milik CGS-CIMB Sekuritas Indonesia (YU). Berikut daftar selengkapnya berdasarkan hasil statistik dari Bursa Efek Indonesia Mei 2021.

Aplikasi Trader yang Terdaftar di OJK: Nilai Transaksi Terbesar Mei 2021

Dividen Bank BUMN 2021 Mencapai Rp 23,21 Triliun


Dividen Bank BUMN 2021 sebesar Rp 23,21 triliun. Dividen Bank BUMN ini berasal dari bank milik negara yaitu Bank BRI, BNI, BTN dan Mandiri.

Jumlah dividen Bank BUMN yang diterima oleh negara mencapai Rp 13,53 triliun atau sebesar 58 persen dari total dividen yang dibagikan ke pemegang saham. Sisanya diterima oleh pemegang saham publik atau sekitar 42 persen.

Dividen Himbara (Bank BUMN) tahun 2021 ini menurun sebesar 43,33% dibanding jumlah dividen tahun 2020 yang mencapai Rp 40,96 triliun. Dengan demikian penerimaan kas negara juga menurun dibanding perolehan dividen tahun 2020 yang mencapai  Rp 23,9 triliun.


Dividen Bank BRI (BBRI) 2021

Dividen BBRI 2021 sebesar Rp 12,12 triliun atau Rp 98,9 per lembar. Jumlah dividen BBRI 2021 ini menurun 41 persen dibanding jumlah dividen tahun 2020 mencapai Rp 20,62 triliun.

Pendapatan negara dari dividen Bank BRI tahun 2021 juga akhirnya turun jadi Rp 6,88 triliun dari sebelumnya mencapai Rp 11,7 triliun di tahun 2020. Turunnya jumlah dividen Bank BRI disebabkan oleh menurunnya laba bersih yang diperoleh perseroan.

LIHAT JUGA: Histori Dividen BRI Sejak IPO

Dividen Bank Mandiri (BMRI) 2021

Dividen Bank Mandiri (BMRI) 2021 sebesar Rp 10,27 triliun atau  Rp 220,27 per lembar. Jumlah dividen BMRI 2021 ini turun sebesar  37 persen dibanding dividen tahun 2020 mencapai Rp 16,48 triliun.

Dividen yang diperoleh negara dari Bank Mandiri akhirnya juga turun menjadi Rp 6,16 triliun dari sebelumnya di tahun 2020 mencapai Rp 9,89 triliun. Turunnya jumlah dividen yang dibagikan juga sama dengan yang dialami Bank BRI yaitu karena turunnya laba yang diperoleh Bank Mandiri.

LIHAT JUGA: Histori Dividen Bank Mandiri Sejak IPO

Dividen Bank BNI (BBNI) 2021

Dividen BBNI 2021 sebesar Rp 820,1 miliar atau Rp 44 per lembar. Jumlah dividen BBNI 2021 turun sebesar 80% dibanding dividen tahun 2020 yang mencapai Rp 3,84 triliun.

Jumlah dividen yang didapatkan negara dari Bank BNI tahun 2021 sebesar Rp 492,58 miliar, turun drastis dibanding dividen tahun 2020 mencapai Rp 2,3 triliun. Penurunan ini juga disebabkan karena turunnya laba bersih Bank BNI di tahun 2020.

Dividen Bank BTN (BBTN) 2021

Bank BTN tahun 2021 tidak membagikan dividen. Alhasil negara tidak mendapat setoran dividen dari bank BUMN yang satu ini. Sementara tahun 2020 Bank BTN masih membagikan dividen sebesar Rp 20,92 miliar dan negara mendapat dividen sebesar Rp 12,55 miliar dari Bank BTN.

LIHAT JUGA: Histori Dividen Bank BTN Sejak IPO

Terbaru

      ARTIKEL PILIHAN