Kuhuni.com — PT AKR Corporindo Tbk (IDX: AKRA) membukukan pertumbuhan kinerja selama sembilan bulan pertama 2026. Hingga 30 September 2026, pendapatan konsolidasian mencapai Rp46,53 triliun, naik 43,63% dibandingkan Rp32,40 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bersih periode berjalan meningkat 32,37% menjadi Rp2,44 triliun dari Rp1,85 triliun.
Pertumbuhan pendapatan juga diikuti kenaikan laba bruto dan laba usaha. Namun, margin laba bruto menyusut dan arus kas bersih dari aktivitas operasi turun menjadi Rp3,01 triliun. Dari sisi neraca, total aset dan ekuitas meningkat dibandingkan akhir 2025, sementara total liabilitas juga bertambah.
Berikut analisis laporan keuangan AKRA untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2026, berdasarkan laporan yang disampaikan perusahaan. Laporan posisi keuangan per 30 September 2026 berstatus tidak diaudit.
![]() |
| AKR Corporindo Tbk/Dok AKRA |
Pendapatan AKRA Tumbuh 43,63%
Total pendapatan AKRA mencapai Rp46,53 triliun pada Januari–September 2026, dibandingkan Rp32,40 triliun pada periode yang sama 2025. Kenaikan tersebut terutama tercermin pada pendapatan dari kontrak dengan pelanggan, yang meningkat dari Rp32,18 triliun menjadi Rp46,33 triliun.
| Komponen | 9M 2026 | 9M 2025 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Pendapatan dari kontrak dengan pelanggan | Rp46,33 triliun | Rp32,18 triliun | +43,98% |
| Pendapatan sewa | Rp203,97 miliar | Rp219,35 miliar | -7,01% |
| Total pendapatan | Rp46,53 triliun | Rp32,40 triliun | +43,63% |
| Beban pokok penjualan dan pendapatan | Rp42,92 triliun | Rp29,63 triliun | +44,86% |
| Laba bruto | Rp3,61 triliun | Rp2,77 triliun | +30,48% |
Pertumbuhan pendapatan yang tinggi perlu dibaca bersama kenaikan beban pokok. Beban pokok penjualan dan pendapatan bertambah 44,86%, sedikit lebih cepat daripada pertumbuhan total pendapatan sebesar 43,63%. Akibatnya, laba bruto tumbuh 30,48%, lebih lambat dibandingkan kenaikan pendapatan.
Laba Usaha Naik 31,72%
Laba usaha AKRA meningkat menjadi Rp2,71 triliun dari Rp2,06 triliun pada sembilan bulan pertama 2025, atau tumbuh sekitar 31,72%. Kenaikan ini terjadi meskipun beban umum dan administrasi bertambah dari Rp669,63 miliar menjadi Rp912,07 miliar.
Beban penjualan justru turun menjadi Rp54,26 miliar dari Rp69,56 miliar. Di sisi pendapatan dan beban usaha lainnya, perusahaan mencatat laba selisih kurs Rp37,29 miliar dan pendapatan usaha lainnya Rp34,29 miliar. Pada periode pembanding, laba selisih kurs tercatat Rp7,08 miliar.
| Komponen | 9M 2026 | 9M 2025 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Laba bruto | Rp3,61 triliun | Rp2,77 triliun | +30,48% |
| Beban umum dan administrasi | Rp912,07 miliar | Rp669,63 miliar | +36,20% |
| Beban penjualan | Rp54,26 miliar | Rp69,56 miliar | -21,99% |
| Laba usaha | Rp2,71 triliun | Rp2,06 triliun | +31,72% |
| Bagian atas laba entitas asosiasi | Rp42,20 miliar | Rp29,08 miliar | +45,08% |
| Laba sebelum pajak penghasilan | Rp2,87 triliun | Rp2,16 triliun | +33,34% |
Laba Bersih Naik 32,37% Menjadi Rp2,44 Triliun
Setelah memperhitungkan penghasilan keuangan, pajak final, beban keuangan, bagian laba entitas asosiasi, dan pajak penghasilan, AKRA membukukan laba bersih Rp2,44 triliun. Angka ini naik 32,37% dibandingkan Rp1,85 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Penghasilan keuangan meningkat menjadi Rp238,14 miliar dari Rp175,65 miliar. Beban keuangan turun menjadi Rp48,33 miliar dari Rp52,65 miliar. Sementara itu, beban pajak penghasilan neto meningkat menjadi Rp430,47 miliar dari Rp309,56 miliar.
| Indikator laba | 9M 2026 | 9M 2025 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Laba sebelum pajak penghasilan | Rp2,87 triliun | Rp2,16 triliun | +33,34% |
| Pajak penghasilan neto | Rp430,47 miliar | Rp309,56 miliar | +39,06% |
| Laba bersih periode berjalan | Rp2,44 triliun | Rp1,85 triliun | +32,37% |
| Laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk | Rp2,21 triliun | Rp1,65 triliun | +33,99% |
| Laba per saham dasar | Rp111,83 | Rp83,50 | +33,93% |
Laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp2,21 triliun. Angka ini berbeda dari laba bersih konsolidasian karena laba bersih konsolidasian juga mencakup bagian laba yang menjadi hak kepentingan nonpengendali, yang tercatat Rp232,62 miliar.
Margin Laba Menyusut Meski Penjualan Tumbuh
Walaupun laba bruto dan laba usaha meningkat secara nominal, perbandingan terhadap pendapatan menunjukkan adanya tekanan margin. Margin laba bruto turun menjadi sekitar 7,76% dari 8,54% pada sembilan bulan pertama 2025. Margin laba usaha turun menjadi sekitar 5,82% dari 6,35%, sedangkan margin laba bersih turun menjadi sekitar 5,25% dari 5,70%.
| Rasio | 9M 2026 | 9M 2025 |
|---|---|---|
| Margin laba bruto | 7,76% | 8,54% |
| Margin laba usaha | 5,82% | 6,35% |
| Margin laba bersih | 5,25% | 5,70% |
Artinya, AKRA menghasilkan pendapatan yang jauh lebih besar, tetapi persentase laba yang dipertahankan dari setiap rupiah pendapatan lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan laba nominal tetap positif, namun perkembangan margin perlu dipantau pada periode berikutnya.
Total Aset AKRA Meningkat Menjadi Rp38,63 Triliun
Pada 30 September 2026, total aset AKRA mencapai Rp38,63 triliun, naik sekitar 5,66% dari Rp36,56 triliun pada 31 Desember 2025. Aset lancar bertambah menjadi Rp23,75 triliun, sedangkan aset tidak lancar meningkat menjadi Rp14,88 triliun.
| Posisi keuangan | 30 Sep 2026 | 31 Des 2025 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Kas dan setara kas | Rp5,97 triliun | Rp6,40 triliun | -6,77% |
| Total aset lancar | Rp23,75 triliun | Rp23,21 triliun | +2,31% |
| Total aset tidak lancar | Rp14,88 triliun | Rp13,35 triliun | +11,47% |
| Total aset | Rp38,63 triliun | Rp36,56 triliun | +5,66% |
Di antara pos aset, piutang usaha jangka panjang dari pihak ketiga meningkat menjadi Rp1,91 triliun dari Rp1,22 triliun. Investasi pada entitas asosiasi naik menjadi Rp715,31 miliar dari Rp535,83 miliar, sementara aset tetap neto meningkat menjadi Rp7,02 triliun dari Rp6,81 triliun.
Persediaan tanah kawasan industri tercatat Rp3,44 triliun, turun dari Rp4,01 triliun pada akhir 2025. Di sisi lain, persediaan tanah kawasan industri untuk pengembangan meningkat menjadi Rp1,75 triliun dari Rp1,42 triliun. Pergerakan kedua pos tersebut penting diperhatikan karena berkaitan dengan komposisi aset dan kebutuhan modal kerja perusahaan.
Liabilitas Bertambah, Ekuitas Ikut Naik
Total liabilitas AKRA mencapai Rp22,38 triliun pada akhir September 2026, naik 6,83% dari Rp20,95 triliun pada akhir 2025. Kenaikan terutama terlihat pada liabilitas jangka pendek, yang bertambah menjadi Rp18,14 triliun dari Rp15,84 triliun. Liabilitas jangka panjang justru turun menjadi Rp4,25 triliun dari Rp5,12 triliun.
| Posisi keuangan | 30 Sep 2026 | 31 Des 2025 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Total liabilitas jangka pendek | Rp18,14 triliun | Rp15,84 triliun | +14,52% |
| Total liabilitas jangka panjang | Rp4,25 triliun | Rp5,12 triliun | -17,01% |
| Total liabilitas | Rp22,38 triliun | Rp20,95 triliun | +6,83% |
| Total ekuitas | Rp16,25 triliun | Rp15,61 triliun | +4,09% |
Hutang usaha kepada pihak ketiga meningkat menjadi Rp14,10 triliun dari Rp12,28 triliun. Biaya masih harus dibayar naik menjadi Rp879,63 miliar dari Rp663,23 miliar. Hutang pajak relatif meningkat tipis menjadi Rp669,93 miliar dari Rp653,59 miliar.
Untuk utang bank, hutang bank jangka pendek meningkat menjadi Rp472,35 miliar dari Rp237,37 miliar. Namun, bagian hutang bank jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun turun menjadi Rp1,08 triliun dari Rp1,18 triliun, dan hutang bank jangka panjang setelah dikurangi bagian jatuh tempo turun menjadi Rp2,74 triliun dari Rp3,70 triliun. Jika ketiga komponen tersebut dijumlahkan, total utang bank yang disajikan turun menjadi sekitar Rp4,30 triliun dari Rp5,12 triliun.
Total ekuitas meningkat menjadi Rp16,25 triliun. Saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya tercatat Rp10,34 triliun, sedangkan kepentingan nonpengendali mencapai Rp3,51 triliun.
Rasio Likuiditas dan Struktur Modal
Dengan membandingkan aset lancar dan liabilitas jangka pendek, rasio lancar AKRA berada di sekitar 1,31 kali pada 30 September 2026, lebih rendah dibandingkan sekitar 1,47 kali pada akhir 2025. Artinya, nilai aset lancar masih lebih besar daripada liabilitas jangka pendek, tetapi ruang penyangga likuiditas berdasarkan rasio ini menyempit.
| Rasio | 30 Sep 2026 | 31 Des 2025 |
|---|---|---|
| Rasio lancar (aset lancar / liabilitas jangka pendek) | 1,31 kali | 1,47 kali |
| Liabilitas terhadap aset | 57,94% | 57,30% |
| Liabilitas terhadap ekuitas | 1,38 kali | 1,34 kali |
Rasio liabilitas terhadap aset naik menjadi sekitar 57,94% dari 57,30%. Rasio liabilitas terhadap ekuitas juga meningkat menjadi sekitar 1,38 kali dari 1,34 kali. Perubahan ini menunjukkan bahwa pertumbuhan liabilitas sedikit lebih cepat daripada pertumbuhan aset dan ekuitas.
Arus Kas Operasi Turun 11,33%
Kas neto yang diperoleh dari aktivitas operasi mencapai Rp3,01 triliun pada sembilan bulan pertama 2026, turun 11,33% dibandingkan Rp3,39 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini terjadi meskipun kas yang diperoleh dari aktivitas operasi sebelum sejumlah penerimaan dan pembayaran lainnya meningkat menjadi Rp8,04 triliun dari Rp6,37 triliun.
Salah satu faktor yang perlu dicermati adalah pembayaran pajak penghasilan dan pajak lainnya, yang meningkat menjadi Rp4,81 triliun dari Rp2,94 triliun. Pengembalian pajak penghasilan dan pajak lainnya tercatat Rp402,90 miliar, lebih rendah dibandingkan Rp519,44 miliar pada periode pembanding.
| Arus kas | 9M 2026 | 9M 2025 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Kas diterima dari pelanggan | Rp49,50 triliun | Rp35,14 triliun | +40,90% |
| Kas diperoleh dari aktivitas operasi sebelum pos lainnya | Rp8,04 triliun | Rp6,37 triliun | +26,16% |
| Pembayaran pajak penghasilan dan pajak lainnya | Rp4,81 triliun | Rp2,94 triliun | +63,47% |
| Kas neto dari aktivitas operasi | Rp3,01 triliun | Rp3,39 triliun | -11,33% |
| Kas neto digunakan untuk aktivitas investasi | Rp758,17 miliar | Rp803,93 miliar | Penggunaan turun 5,69% |
| Kas neto digunakan untuk aktivitas pendanaan | Rp2,91 triliun | Rp2,18 triliun | Penggunaan naik 33,94% |
Arus kas investasi mencatat penggunaan kas Rp758,17 miliar, terutama berkaitan dengan perolehan aset tetap sebesar Rp629,42 miliar dan investasi pada entitas asosiasi Rp136,46 miliar. Pada periode pembanding, belanja aset tetap tercatat Rp808,73 miliar.
Arus kas pendanaan menggunakan Rp2,91 triliun. Pembayaran dividen tunai kepada pemilik entitas induk mencapai Rp2,01 triliun, sedangkan pembayaran liabilitas sewa mencapai Rp256,83 miliar. Perusahaan juga mencatat penerimaan dari penerbitan kembali saham treasuri sebesar Rp328,78 miliar.
Saldo Kas Menjadi Rp5,97 Triliun
Saldo kas dan setara kas turun menjadi Rp5,97 triliun pada 30 September 2026 dari Rp6,40 triliun pada akhir 2025, atau turun sekitar 6,77%. Laporan arus kas mencatat penurunan neto kas sebesar Rp665,72 miliar, yang sebagian diimbangi dampak positif perubahan kurs sebesar Rp232,03 miliar.
Penurunan saldo kas tidak dapat dinilai hanya dari laba bersih. Dalam periode ini, kas dari operasi tetap positif, tetapi perusahaan juga membayar dividen, membiayai investasi, dan melakukan pembayaran serta penerimaan pendanaan lainnya. Karena itu, evaluasi arus kas perlu melihat keseluruhan aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan.
Kesimpulan: Pertumbuhan Kuat, Margin dan Arus Kas Perlu Dipantau
Laporan sembilan bulan 2026 menunjukkan pertumbuhan pendapatan dan laba AKRA yang kuat. Total pendapatan naik 43,63%, laba usaha meningkat 31,72%, dan laba bersih bertambah 32,37%. Laba per saham dasar juga naik menjadi Rp111,83 dari Rp83,50.
Di sisi lain, kenaikan beban pokok yang lebih cepat daripada pendapatan menekan margin laba bruto. Margin laba usaha dan margin laba bersih juga turun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Arus kas operasi turun 11,33%, saldo kas menyusut dibandingkan akhir 2025, dan rasio lancar menurun.
Investor dapat memantau apakah pertumbuhan pendapatan dapat berlanjut dengan margin yang lebih stabil, bagaimana realisasi piutang dan persediaan tanah kawasan industri, serta apakah arus kas operasi kembali meningkat. Perkembangan utang usaha, liabilitas jangka pendek, belanja modal, dan pembayaran dividen juga relevan untuk menilai kondisi keuangan perusahaan secara menyeluruh.
Analisis ini menggunakan laporan keuangan yang diberikan untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2026 dan posisi keuangan per tanggal tersebut. Artikel ini bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham AKRA.
Baca Laporan Keuangan Emiten Lainnya
- Laporan Keuangan AXIO September 2026: Pendapatan Naik 24%, Laba Bersih Tembus Rp61 Miliar
- Laporan Keuangan BPFI September 2026: Laba Bersih Naik 89% Jadi Rp97,81 Miliar
- Laba Bersih DMAS Meroket 184% Per September 2026
- Laporan Keuangan BOBA September 2026: Penjualan dan Laba Bersih Meningkat
- Laporan Keuangan Saham ARNA September 2026: Penjualan Rp2,51 Triliun, Laba Naik 22,82%
- GUNA Raup Pendapatan Rp1,49 Triliun, Laba Bersih Naik 15,01% hingga September 2026
- Laporan keuangan PTPP September 2026: pendapatan turun 12,69% dan laba tahun berjalan Rp4,57 miliar.
- Laporan Keuangan PJAA September 2026: Laba Bersih Rp25,30 Miliar, Turun 56,52%
- PAMG Catat Rugi Rp2,56 Miliar hingga September 2026, Pendapatan Turun 10,78%
- Laba AKRA Naik 32% Jadi Rp2,44 Triliun hingga September 2026
FAQ Laporan Keuangan AKRA September 2026
Berapa pendapatan AKRA hingga September 2026?
Total pendapatan AKRA mencapai Rp46,53 triliun, naik 43,63% dibandingkan Rp32,40 triliun pada sembilan bulan pertama 2025.
Berapa laba bersih AKRA pada sembilan bulan pertama 2026?
Laba bersih konsolidasian AKRA mencapai Rp2,44 triliun, meningkat 32,37% dari Rp1,85 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Berapa laba per saham AKRA?
Laba per saham dasar yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat Rp111,83 untuk sembilan bulan pertama 2026, dibandingkan Rp83,50 pada periode yang sama 2025.
Bagaimana kondisi arus kas operasi AKRA?
Kas neto dari aktivitas operasi tercatat Rp3,01 triliun, turun 11,33% dari Rp3,39 triliun pada periode pembanding.
Berapa total aset dan liabilitas AKRA per September 2026?
Total aset mencapai Rp38,63 triliun dan total liabilitas Rp22,38 triliun pada 30 September 2026.
Apakah laporan posisi keuangan September 2026 sudah diaudit?
Dalam dokumen yang menjadi dasar artikel ini, laporan posisi keuangan per 30 September 2026 dinyatakan tidak diaudit.
Disclaimer: Informasi ini disusun untuk tujuan edukasi dan informasi, bukan nasihat keuangan, rekomendasi investasi, atau ajakan membeli maupun menjual efek. Angka dalam artikel dibulatkan agar mudah dibaca dan beberapa rasio dihitung dari data laporan keuangan. Investor perlu membaca laporan keuangan lengkap beserta catatan atas laporan keuangan dan mempertimbangkan profil risiko masing-masing sebelum mengambil keputusan.

0 comments
Posting Komentar