PT Woori Finance Indonesia Tbk (BPFI) mencatat peningkatan kinerja keuangan selama sembilan bulan pertama 2026. Pendapatan perusahaan naik menjadi Rp473,74 miliar hingga 30 September 2026, sementara laba tahun berjalan meningkat menjadi Rp97,81 miliar dibandingkan Rp51,81 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan laba tersebut terjadi bersamaan dengan ekspansi aset dan peningkatan piutang pembiayaan. Namun, investor juga perlu memperhatikan arus kas operasi yang mencatat arus keluar lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya serta kenaikan utang bank.
![]() |
| Laporan Keuangan BPFI September 2026 |
Ringkasan Kinerja Keuangan BPFI September 2026
Berikut sejumlah indikator utama dalam laporan keuangan BPFI per 30 September 2026 dan perbandingannya dengan periode sebelumnya.
| Indikator | 2026 | Pembanding | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Pendapatan | Rp473,74 miliar | Rp332,70 miliar | Naik 42,39% |
| Laba sebelum pajak | Rp119,01 miliar | Rp65,72 miliar | Naik 81,10% |
| Laba tahun berjalan | Rp97,81 miliar | Rp51,81 miliar | Naik 88,77% |
| Laba per saham dasar | Rp36,58 | Rp19,38 | Naik 88,75% |
| Total aset | Rp3,48 triliun | Rp2,74 triliun | Naik 26,72% |
| Total liabilitas | Rp2,23 triliun | Rp1,58 triliun | Naik 41,64% |
| Total ekuitas | Rp1,24 triliun | Rp1,17 triliun | Naik 6,56% |
Angka pendapatan, laba sebelum pajak, laba tahun berjalan, dan laba per saham membandingkan periode sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2026 dengan periode yang sama pada 2025. Sementara itu, aset, liabilitas, dan ekuitas dibandingkan dengan posisi pada 31 Desember 2025.
Pendapatan BPFI Naik Menjadi Rp473,74 Miliar
BPFI membukukan pendapatan sebesar Rp473.737.449.265 hingga 30 September 2026, meningkat 42,39% dari Rp332.700.485.610 pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan pendapatan berasal dari sejumlah lini usaha, terutama pembiayaan konsumen dan pendapatan administrasi. Berikut perbandingan komponen pendapatan BPFI.
| Komponen pendapatan | Jan–Sep 2026 | Jan–Sep 2025 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Pembiayaan konsumen | Rp253,92 miliar | Rp188,64 miliar | Naik 34,60% |
| Pendapatan administrasi | Rp138,63 miliar | Rp84,86 miliar | Naik 63,35% |
| Sewa pembiayaan | Rp54,87 miliar | Rp42,53 miliar | Naik 29,00% |
| Fasilitas modal kerja | Rp14,31 miliar | Rp2,33 miliar | Naik sekitar 514% |
| Anjak piutang | Rp413,34 juta | Rp985,05 juta | Turun 58,04% |
| Penghasilan lain-lain | Rp11,59 miliar | Rp13,35 miliar | Turun 13,17% |
| Total pendapatan | Rp473,74 miliar | Rp332,70 miliar | Naik 42,39% |
Pembiayaan konsumen menjadi sumber pendapatan terbesar dengan kontribusi sekitar 53,6% terhadap total pendapatan. Nilainya meningkat menjadi Rp253,92 miliar dari Rp188,64 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pendapatan administrasi juga tumbuh cukup kuat menjadi Rp138,63 miliar. Sementara itu, pendapatan dari fasilitas modal kerja meningkat dari Rp2,33 miliar menjadi Rp14,31 miliar. Pertumbuhan pada beberapa sumber pendapatan ini mendukung kenaikan pendapatan konsolidasian BPFI.
Laba Bersih BPFI Tumbuh Hampir 89%
Laba sebelum pajak BPFI mencapai Rp119,01 miliar selama sembilan bulan pertama 2026, naik dari Rp65,72 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Setelah dikurangi beban pajak penghasilan neto sebesar Rp21,21 miliar, laba tahun berjalan tercatat Rp97,81 miliar.
Pada periode Januari–September 2025, laba tahun berjalan perusahaan tercatat Rp51,81 miliar. Dengan demikian, laba tahun berjalan meningkat sekitar 88,77% secara tahunan.
Margin laba sebelum pajak naik dari sekitar 19,75% menjadi 25,12%. Sementara itu, margin laba tahun berjalan meningkat dari sekitar 15,57% menjadi 20,65%. Perkembangan ini menunjukkan bahwa pertumbuhan laba lebih cepat daripada pertumbuhan pendapatan.
Meski demikian, investor perlu menilai pertumbuhan laba bersama kenaikan beban keuangan dan perkembangan arus kas. Dalam bisnis pembiayaan, pertumbuhan portofolio dapat meningkatkan pendapatan, tetapi juga membutuhkan pendanaan dan pengelolaan risiko kredit yang memadai.
Beban Keuangan dan Pemasaran Ikut Meningkat
Total beban usaha BPFI mencapai Rp354,72 miliar hingga September 2026, meningkat dari Rp266,98 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan beban tersebut terutama terlihat pada biaya keuangan, pemasaran, serta gaji dan tunjangan.
| Komponen beban | Jan–Sep 2026 | Jan–Sep 2025 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Gaji dan tunjangan | Rp114,55 miliar | Rp93,85 miliar | Naik 22,06% |
| Umum dan administrasi | Rp61,90 miliar | Rp53,14 miliar | Naik 16,49% |
| Keuangan | Rp80,32 miliar | Rp48,03 miliar | Naik 67,23% |
| Kerugian penurunan nilai | Rp43,04 miliar | Rp48,01 miliar | Turun 10,35% |
| Pemasaran | Rp54,91 miliar | Rp23,96 miliar | Naik 129,13% |
| Total beban usaha | Rp354,72 miliar | Rp266,98 miliar | Naik 32,86% |
Beban keuangan meningkat menjadi Rp80,32 miliar dari Rp48,03 miliar. Kenaikan ini sejalan dengan bertambahnya kebutuhan pendanaan yang juga tercermin pada peningkatan utang bank.
Beban pemasaran naik menjadi Rp54,91 miliar dari Rp23,96 miliar. Pada saat yang sama, beban kerugian penurunan nilai turun menjadi Rp43,04 miliar dari Rp48,01 miliar. Penurunan beban penurunan nilai menjadi salah satu faktor yang mendukung hasil kinerja, meskipun beban keuangan dan pemasaran meningkat.
Baca Laporan Keuangan Emiten
- Laporan Keuangan DEWA 9 Bulan 2026: Laba Melonjak 114,5% Jadi Rp513 Miliar
- Pendapatan Waskita Karya (WKST) Naik 53,7% pada 9 Bulan 2026, Rugi Bersih Masih Rp3,26 Triliun
- Laporan Keuangan DIGI September 2026: Pendapatan Turun, Rugi Bersih Menyusut Jadi Rp730 Juta
- Laporan Keuangan AXIO September 2026: Pendapatan Naik 24%, Laba Bersih Tembus Rp61 Miliar
- Laporan Keuangan BPFI September 2026: Laba Bersih Naik 89% Jadi Rp97,81 Miliar
Total Aset BPFI Naik Menjadi Rp3,48 Triliun
Per 30 September 2026, total aset BPFI tercatat sebesar Rp3.475.521.152.059, meningkat dari Rp2.742.568.220.735 pada 31 Desember 2025. Pertumbuhan aset ini terutama terlihat pada piutang pembiayaan konsumen dan piutang fasilitas modal kerja.
Piutang pembiayaan konsumen setelah dikurangi cadangan kerugian kredit ekspektasian mencapai Rp2,50 triliun, naik dari Rp1,81 triliun pada akhir 2025. Pos ini menjadi komponen aset terbesar perusahaan dan mencerminkan besarnya portofolio pembiayaan konsumen yang tercatat dalam laporan keuangan.
Piutang fasilitas modal kerja juga meningkat menjadi Rp207,06 miliar dari Rp140,20 miliar. Sebaliknya, piutang sewa pembiayaan turun menjadi Rp549,82 miliar dari Rp576,92 miliar.
| Komponen aset | 30 September 2026 | 31 Desember 2025 |
|---|---|---|
| Kas dan bank | Rp38,83 miliar | Rp28,32 miliar |
| Piutang sewa pembiayaan | Rp549,82 miliar | Rp576,92 miliar |
| Piutang pembiayaan konsumen | Rp2,50 triliun | Rp1,81 triliun |
| Piutang fasilitas modal kerja | Rp207,06 miliar | Rp140,20 miliar |
| Piutang anjak piutang | Rp1,68 miliar | Rp6,43 miliar |
| Total aset | Rp3,48 triliun | Rp2,74 triliun |
Kenaikan piutang pembiayaan perlu dicermati bersama kualitas aset dan kemampuan debitur memenuhi kewajiban. Perusahaan mencatat cadangan kerugian kredit ekspektasian atas sejumlah jenis piutang, termasuk piutang pembiayaan konsumen dan piutang sewa pembiayaan.
Utang Bank BPFI Meningkat Menjadi Rp2,14 Triliun
Total liabilitas BPFI mencapai Rp2,23 triliun per 30 September 2026, naik dari Rp1,58 triliun pada akhir 2025. Utang bank menjadi komponen utama liabilitas dengan nilai Rp2.138.563.008.468, meningkat dari Rp1.502.860.050.550.
Dengan demikian, saldo utang bank bertambah sekitar Rp635,70 miliar atau 42,30% dibandingkan posisi 31 Desember 2025. Peningkatan pendanaan ini terjadi ketika perusahaan juga memperluas portofolio piutang pembiayaan.
| Komponen liabilitas | 30 September 2026 | 31 Desember 2025 |
|---|---|---|
| Utang bank | Rp2,14 triliun | Rp1,50 triliun |
| Biaya masih harus dibayar | Rp54,46 miliar | Rp38,36 miliar |
| Utang pajak | Rp12,43 miliar | Rp7,26 miliar |
| Liabilitas sewa | Rp476,75 juta | Rp3,76 miliar |
| Liabilitas imbalan pascakerja | Rp26,85 miliar | Rp24,13 miliar |
| Total liabilitas | Rp2,23 triliun | Rp1,58 triliun |
Dalam bisnis pembiayaan, utang bank merupakan salah satu sumber pendanaan untuk mendukung penyaluran pembiayaan. Namun, pertumbuhan utang perlu diimbangi dengan kemampuan menghasilkan pendapatan, menjaga kualitas piutang, dan memenuhi kewajiban pembayaran pendanaan.
Ekuitas BPFI Meningkat Menjadi Rp1,24 Triliun
Total ekuitas BPFI tercatat Rp1.242.743.392.556 pada 30 September 2026, naik dari Rp1.166.192.604.795 pada 31 Desember 2025. Kenaikannya sekitar 6,56%.
Modal saham tetap sebesar Rp267,40 miliar dan tambahan modal disetor neto sebesar Rp174,18 miliar. Saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya meningkat dari Rp619,32 miliar menjadi Rp697,06 miliar.
Perubahan saldo laba tersebut sejalan dengan pencatatan laba selama periode berjalan. Ekuitas yang meningkat memberikan tambahan penyangga terhadap liabilitas, meskipun kenaikannya lebih rendah daripada pertumbuhan aset dan utang perusahaan.
Arus Kas Operasi BPFI Negatif Rp578,04 Miliar
Di tengah pertumbuhan pendapatan dan laba, arus kas dari aktivitas operasi BPFI menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Selama sembilan bulan pertama 2026, perusahaan mencatat arus kas neto yang digunakan untuk aktivitas operasi sebesar Rp578,04 miliar, lebih besar daripada arus keluar Rp202,52 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Penerimaan kas dari transaksi pembiayaan tercatat Rp2,17 triliun. Namun, pembayaran kas untuk transaksi pembiayaan mencapai Rp2,47 triliun. Selisih arus kas dari kedua pos tersebut menjadi salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap arus kas operasi negatif.
Perusahaan juga mencatat pengeluaran untuk operasional, beban keuangan, dan pajak penghasilan. Kondisi ini menunjukkan bahwa peningkatan aktivitas pembiayaan membutuhkan arus dana yang besar, sehingga laba dan arus kas perlu dianalisis secara bersamaan.
Arus kas investasi tercatat negatif Rp10,91 miliar, terutama terkait perolehan aset tetap. Sementara itu, arus kas pendanaan positif Rp599,47 miliar, didukung penerimaan utang bank sebesar Rp730,75 miliar, setelah memperhitungkan pembayaran utang bank dan dividen tunai.
| Komponen arus kas | Jan–Sep 2026 | Jan–Sep 2025 |
|---|---|---|
| Aktivitas operasi | (Rp578,04 miliar) | (Rp202,52 miliar) |
| Aktivitas investasi | (Rp10,91 miliar) | (Rp9,50 miliar) |
| Aktivitas pendanaan | Rp599,47 miliar | Rp210,84 miliar |
| Kenaikan (penurunan) neto kas dan bank | Rp10,51 miliar | (Rp1,19 miliar) |
| Kas dan bank akhir periode | Rp38,83 miliar | Rp24,81 miliar |
Meskipun arus kas operasi dan investasi negatif, arus kas pendanaan yang positif membuat kas dan bank meningkat Rp10,51 miliar selama periode berjalan. Saldo kas dan bank pada akhir September 2026 mencapai Rp38,83 miliar, dibandingkan Rp28,32 miliar pada awal tahun.
Laba per Saham BPFI Naik Menjadi Rp36,58
Laba per saham dasar BPFI mencapai Rp36,58 hingga 30 September 2026, meningkat dari Rp19,38 pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini sejalan dengan pertumbuhan laba tahun berjalan yang tercatat dalam laporan keuangan.
Laba per saham atau earnings per share (EPS) menunjukkan besarnya laba yang diatribusikan per saham berdasarkan perhitungan perusahaan. Meski EPS dapat menjadi salah satu indikator untuk menilai kinerja, angka ini tidak secara langsung menentukan harga saham atau menjamin kenaikan harga di pasar.
Untuk menilai valuasi saham BPFI, investor juga perlu membandingkan harga saham di bursa dengan laba per saham, nilai buku, prospek pertumbuhan, kualitas aset pembiayaan, serta risiko pendanaan.
Prospek Saham BPFI Setelah Laporan Keuangan September 2026
Laporan keuangan BPFI hingga September 2026 memperlihatkan pertumbuhan pendapatan dan laba yang kuat. Pendapatan meningkat 42,39%, sementara laba tahun berjalan naik 88,77% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan piutang pembiayaan konsumen juga menunjukkan ekspansi pada salah satu lini usaha utama perusahaan.
Di sisi lain, total liabilitas dan utang bank meningkat seiring dengan ekspansi aset. Arus kas operasi yang negatif Rp578,04 miliar juga menjadi perhatian karena menunjukkan besarnya kebutuhan dana dalam aktivitas pembiayaan selama periode tersebut.
Beberapa faktor yang layak dipantau investor pada laporan berikutnya meliputi:
- Pertumbuhan pendapatan dan laba setelah September 2026.
- Perkembangan piutang pembiayaan konsumen dan fasilitas modal kerja.
- Kualitas piutang serta kecukupan cadangan kerugian kredit ekspektasian.
- Perubahan utang bank dan beban keuangan.
- Kemampuan menghasilkan arus kas serta menjaga likuiditas.
Prospek saham BPFI tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan laba. Harga saham, valuasi, risiko kredit, biaya pendanaan, dan kondisi industri pembiayaan juga perlu menjadi bagian dari pertimbangan investasi.
Kesimpulan
Kinerja keuangan BPFI hingga 30 September 2026 menunjukkan peningkatan pendapatan menjadi Rp473,74 miliar dan laba tahun berjalan menjadi Rp97,81 miliar. Laba per saham dasar juga naik menjadi Rp36,58 dari Rp19,38 pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Total aset meningkat menjadi Rp3,48 triliun, sedangkan total ekuitas mencapai Rp1,24 triliun. Namun, total liabilitas bertambah menjadi Rp2,23 triliun, terutama karena kenaikan utang bank menjadi Rp2,14 triliun.
Arus kas operasi yang negatif Rp578,04 miliar menjadi salah satu aspek penting untuk diperhatikan di tengah pertumbuhan laba. Karena itu, investor perlu melihat pertumbuhan profitabilitas bersama kualitas piutang, kebutuhan pendanaan, dan kemampuan perusahaan menjaga arus kas sebelum mengambil keputusan terkait saham BPFI.
FAQ Laporan Keuangan BPFI September 2026
Berapa pendapatan BPFI hingga September 2026?
Pendapatan BPFI mencapai Rp473,74 miliar selama sembilan bulan pertama 2026, naik dari Rp332,70 miliar pada periode yang sama tahun 2025.
Berapa laba bersih BPFI pada September 2026?
Laba tahun berjalan BPFI tercatat Rp97,81 miliar hingga 30 September 2026, meningkat dari Rp51,81 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Berapa laba per saham BPFI?
Laba per saham dasar BPFI mencapai Rp36,58 hingga September 2026, dibandingkan Rp19,38 pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Berapa total aset BPFI per September 2026?
Total aset BPFI tercatat sebesar Rp3,48 triliun per 30 September 2026, naik dari Rp2,74 triliun pada 31 Desember 2025.
Mengapa arus kas operasi BPFI negatif?
Arus kas operasi BPFI negatif Rp578,04 miliar selama sembilan bulan pertama 2026. Salah satu faktor yang terlihat dalam laporan adalah pembayaran kas untuk transaksi pembiayaan sebesar Rp2,47 triliun, lebih besar daripada penerimaan kas dari transaksi pembiayaan sebesar Rp2,17 triliun.
Apa yang perlu diperhatikan investor dari laporan keuangan BPFI?
Investor dapat mencermati pertumbuhan laba, kualitas piutang pembiayaan, kenaikan utang bank, beban keuangan, serta arus kas operasi. Seluruh faktor tersebut perlu dipertimbangkan bersama valuasi dan harga saham BPFI sebelum mengambil keputusan investasi.

0 comments
Posting Komentar