Laporan Keuangan Bank Mandiri (BMRI) per September 2026, Laba Naik 13,86% Jadi Rp47,11 Triliun

Kuhuni.com, Jakarta — PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (IDX: BMRI) membukukan laba bersih konsolidasian sebesar Rp47,11 triliun selama sembilan bulan pertama 2026, meningkat 13,86% dibandingkan Rp41,37 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan laba berlangsung ketika pendapatan bunga dan syariah bersih mengalami penurunan, sementara beban operasional lainnya berhasil ditekan.

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian interim per 30 September 2026, laba operasional Bank Mandiri mencapai Rp57,85 triliun, tumbuh 12,47% dari Rp51,43 triliun pada Januari–September 2025. Laba sebelum pajak juga meningkat menjadi Rp57,83 triliun dari Rp51,55 triliun.

Di sisi neraca, total aset tercatat Rp2.588,30 triliun pada akhir September 2026, turun dibandingkan Rp2.829,95 triliun per 31 Desember 2025. Pada periode yang sama, total liabilitas meningkat, sedangkan ekuitas mengalami penurunan.

Paparan Publik Laporan Keuangan Bank Mandiri Kuartal III/2026. Dok Bank Mandiri

Laba Bersih Bank Mandiri Tumbuh 13,86%

Selama Januari hingga September 2026, Bank Mandiri mencatat laba periode berjalan sebesar Rp47,11 triliun, dibandingkan Rp41,37 triliun pada periode yang sama tahun 2025. Dengan demikian, laba bersih konsolidasian bertambah sekitar Rp5,74 triliun.

Laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp45,53 triliun, naik dari Rp37,73 triliun pada tahun sebelumnya. Sementara itu, laba yang diatribusikan kepada kepentingan nonpengendali turun menjadi Rp1,58 triliun dari Rp3,64 triliun.

Indikator Jan–Sep 2026 Jan–Sep 2025 Perubahan
Laba operasional Rp57,85 triliun Rp51,43 triliun +12,47%
Laba sebelum pajak Rp57,83 triliun Rp51,55 triliun +12,19%
Laba periode berjalan Rp47,11 triliun Rp41,37 triliun +13,86%
Laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk Rp45,53 triliun Rp37,73 triliun +20,68%
Laba per saham dasar dan dilusian Rp488,13 Rp404,25 +20,75%

Laba per saham dasar dan dilusian meningkat menjadi Rp488,13 dari Rp404,25. Pertumbuhan laba per saham tersebut sejalan dengan kenaikan laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk.

Pendapatan Bunga dan Syariah Bersih Turun

Total pendapatan bunga dan pendapatan syariah Bank Mandiri tercatat Rp110,23 triliun selama sembilan bulan pertama 2026, lebih rendah dibandingkan Rp122,30 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Penurunan ini terutama terlihat pada komponen pendapatan syariah, yang turun dari Rp18,47 triliun menjadi Rp2,04 triliun.

Pendapatan bunga justru meningkat menjadi Rp108,20 triliun dari Rp103,83 triliun. Namun, kenaikan tersebut belum cukup untuk mengimbangi penurunan pendapatan syariah. Akibatnya, total pendapatan bunga dan syariah bersih turun menjadi Rp69,81 triliun dari Rp78,26 triliun.

Komponen pendapatan Jan–Sep 2026 Jan–Sep 2025 Perubahan
Pendapatan bunga Rp108,20 triliun Rp103,83 triliun +4,21%
Pendapatan syariah Rp2,04 triliun Rp18,47 triliun -88,98%
Total pendapatan bunga dan syariah Rp110,23 triliun Rp122,30 triliun -9,86%
Beban bunga dan syariah Rp40,42 triliun Rp44,04 triliun -8,22%
Pendapatan bunga dan syariah bersih Rp69,81 triliun Rp78,26 triliun -10,80%
Pendapatan asuransi bersih Rp710,31 miliar Rp300,26 miliar +136,57%
Pendapatan bunga, syariah, dan asuransi bersih Rp70,52 triliun Rp78,56 triliun -10,23%

Pendapatan operasional lainnya memberikan kontribusi positif. Pos ini naik menjadi Rp35,03 triliun dari Rp33,04 triliun, atau tumbuh sekitar 6,01%.

Pendapatan provisi dan komisi meningkat menjadi Rp19,46 triliun dari Rp18,87 triliun. Pendapatan dari kelompok nilai wajar melalui laba rugi bersih naik menjadi Rp5,26 triliun dari Rp4,71 triliun, sedangkan pendapatan operasional lainnya pada kategori lain-lain meningkat menjadi Rp10,31 triliun dari Rp9,46 triliun.

Beban Operasional Turun Hampir 20%

Di tengah penurunan pendapatan bunga dan syariah bersih, Bank Mandiri mencatat penurunan beban operasional lainnya. Total beban ini menjadi Rp40,31 triliun pada Januari–September 2026, turun 19,22% dibandingkan Rp49,91 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Beban gaji dan tunjangan turun menjadi Rp16,79 triliun dari Rp20,20 triliun. Beban umum dan administrasi juga turun menjadi Rp15,96 triliun dari Rp21,82 triliun. Sementara itu, beban operasional lainnya pada kategori lain-lain menyusut menjadi Rp7,56 triliun dari Rp7,88 triliun.

Komponen beban Jan–Sep 2026 Jan–Sep 2025 Perubahan
Beban gaji dan tunjangan Rp16,79 triliun Rp20,20 triliun -16,87%
Beban umum dan administrasi Rp15,96 triliun Rp21,82 triliun -26,87%
Beban operasional lainnya Rp7,56 triliun Rp7,88 triliun -4,09%
Total beban operasional lainnya Rp40,31 triliun Rp49,91 triliun -19,22%
Pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai Rp8,52 triliun Rp9,38 triliun -9,11%

Pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai juga turun menjadi Rp8,52 triliun dari Rp9,38 triliun. Selain itu, pos pembalikan atau pembentukan penyisihan lainnya dan kerugian risiko operasional mencatat pembalikan bersih sebesar Rp665,01 miliar, dibandingkan pembentukan bersih Rp1,29 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Kombinasi perubahan pendapatan dan beban tersebut tercermin pada laba operasional yang meningkat menjadi Rp57,85 triliun. Laba sebelum pajak mencapai Rp57,83 triliun setelah memperhitungkan beban nonoperasional bersih sebesar Rp15,56 miliar.

Total Aset Bank Mandiri Turun Menjadi Rp2.588,30 Triliun

Per 30 September 2026, Bank Mandiri membukukan total aset Rp2.588,30 triliun, turun 8,54% dibandingkan Rp2.829,95 triliun pada akhir Desember 2025. Dalam periode yang sama, total liabilitas meningkat 3,28% menjadi Rp2.285,50 triliun, sedangkan total ekuitas turun 7,51% menjadi Rp302,80 triliun.

Posisi keuangan 30 Sep 2026 31 Des 2025 Perubahan
Total aset Rp2.588,30 triliun Rp2.829,95 triliun -8,54%
Total liabilitas Rp2.285,50 triliun Rp2.212,93 triliun +3,28%
Dana syirkah temporer — Rp289,62 triliun —
Total ekuitas Rp302,80 triliun Rp327,40 triliun -7,51%

Laporan keuangan menyebutkan bahwa PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk telah didekonsolidasikan sejak 1 Februari 2026. Perubahan struktur konsolidasi ini menjadi konteks penting dalam membaca perbandingan posisi keuangan dan pendapatan tahun berjalan dengan periode sebelumnya, termasuk tidak tercatatnya dana syirkah temporer pada posisi September 2026.

Kredit Bersih Turun, Simpanan Nasabah Relatif Stabil

Kredit yang diberikan dan piutang atau pembiayaan syariah setelah dikurangi cadangan kerugian penurunan nilai tercatat Rp1.606,31 triliun per 30 September 2026. Nilai tersebut turun 10,86% dibandingkan Rp1.801,93 triliun pada 31 Desember 2025.

Secara bruto, kredit dan pembiayaan tercatat Rp1.645,27 triliun, turun dari Rp1.849,97 triliun pada akhir tahun sebelumnya. Cadangan kerugian penurunan nilai untuk pos kredit dan pembiayaan juga turun menjadi Rp38,96 triliun dari Rp48,03 triliun.

Sementara itu, simpanan dari nasabah tercatat Rp1.804,61 triliun, sedikit turun dari Rp1.816,90 triliun pada akhir Desember 2025. Perubahan simpanan bervariasi menurut jenis produk: giro dan giro wadiah meningkat, sedangkan tabungan dan tabungan wadiah turun serta deposito berjangka mencatat kenaikan tipis.

Komponen neraca 30 Sep 2026 31 Des 2025 Perubahan
Kredit dan pembiayaan bersih Rp1.606,31 triliun Rp1.801,93 triliun -10,86%
Simpanan nasabah Rp1.804,61 triliun Rp1.816,90 triliun -0,68%
Giro dan giro wadiah Rp679,14 triliun Rp666,11 triliun +1,96%
Tabungan dan tabungan wadiah Rp594,30 triliun Rp621,91 triliun -4,44%
Deposito berjangka Rp531,17 triliun Rp528,87 triliun +0,44%

Selain simpanan nasabah, simpanan dari bank lain naik menjadi Rp29,57 triliun dari Rp20,76 triliun. Posisi ini mencakup giro dan tabungan, inter-bank call money, serta deposito berjangka dari bank lain.

Baca Laporan Keuangan Emiten Lainnya

  1. Laba Bersih DMAS Meroket 184% Per September 2026
  2. Laporan Keuangan Saham ARNA September 2026: Penjualan Rp2,51 Triliun, Laba Naik 22,82%
  3. Laporan keuangan PTPP September 2026: pendapatan turun 12,69% dan laba tahun berjalan Rp4,57 miliar.
  4. Laporan Keuangan PJAA September 2026: Laba Bersih Rp25,30 Miliar, Turun 56,52%
  5. Laba AKRA Naik 32% Jadi Rp2,44 Triliun hingga September 2026
  6. Laba BTPS Naik 7% Jadi Rp1,01 Triliun hingga September 2026
  7. Clipan Finance Cetak Laba Rp153,65 Miliar hingga September 2026, Pendapatan Masih Tertekan
  8. Rugi Onix Capital Membengkak Jadi Rp25,34 Miliar pada September 2026, Tertekan Rugi Kurs
  9. IPCC Catat Pendapatan Rp645,48 Miliar hingga September 2026, Laba Bersih Turun 6,89%
  10. UVCR Catat Penjualan Rp917,99 Miliar, Laba Bersih Melonjak 395,8% hingga September 2026
  11. Sunter Lakeside Hotel (SNLK) Catat Pendapatan Rp32,82 Miliar hingga September 2026, Rugi Menyusut 39,36%
  12. Laporan Keuangan Bank Mandiri (BMRI) per September 2026, Laba Naik 13,86% Jadi Rp47,11 Triliun

Kas dan Setara Kas serta Portofolio Efek Berubah

Pos kas turun menjadi Rp24,94 triliun per 30 September 2026, dibandingkan Rp33,86 triliun pada akhir Desember 2025. Giro pada Bank Indonesia juga turun menjadi Rp101,89 triliun dari Rp238,29 triliun.

Di sisi lain, efek-efek bersih meningkat menjadi Rp162,72 triliun dari Rp124,73 triliun. Tagihan atas efek-efek yang dibeli dengan janji dijual kembali naik menjadi Rp19,91 triliun dari Rp3,90 triliun, sedangkan tagihan derivatif bertambah menjadi Rp18,79 triliun dari Rp7,28 triliun.

Obligasi pemerintah tercatat Rp265,72 triliun, turun dari Rp292,82 triliun pada akhir 2025. Perubahan pada beberapa kelompok aset tersebut menjadi bagian dari pergeseran komposisi neraca Bank Mandiri selama sembilan bulan pertama 2026.

Kesimpulan

Kinerja Bank Mandiri hingga September 2026 menunjukkan pertumbuhan laba bersih menjadi Rp47,11 triliun atau naik 13,86% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Laba operasional meningkat 12,47%, didukung oleh kenaikan pendapatan operasional lainnya dan penurunan beban operasional lainnya sebesar 19,22%.

Namun, pendapatan bunga dan syariah bersih turun 10,80%. Dari sisi neraca, total aset menyusut menjadi Rp2.588,30 triliun, kredit dan pembiayaan bersih turun menjadi Rp1.606,31 triliun, sedangkan simpanan nasabah relatif stabil pada Rp1.804,61 triliun. Perbandingan dengan periode sebelumnya juga perlu dibaca dalam konteks dekonsolidasi Bank Syariah Indonesia sejak Februari 2026.

Disclaimer: Artikel ini bertujuan sebagai informasi edukasi dan bukan rekomendasi atau perintah untuk membeli maupun menjual saham tertentu. Investasi saham memiliki risiko fluktuasi harga. Redaksi Kuhuni.com tidak bertanggung jawab atas keputusan investasi pembaca.

Dividen BMRI dari Tahun ke Tahun: Riwayat, Pertumbuhan, dan Dividend Yield Bank Mandiri

Dividen BMRI dari tahun ke tahun menjadi salah satu informasi penting bagi investor yang ingin memiliki saham Bank Mandiri (BMRI) dalam jangka panjang.

Alasannya sederhana.

Ketika seseorang membeli saham BMRI, keuntungan yang didapat bukan hanya dari kenaikan harga saham. Investor juga bisa mendapatkan dividen, yaitu pembagian sebagian keuntungan perusahaan kepada pemegang saham.

dividen bmri dari tahun ke tahun
Ilustrasi pertumbuhan dividen BMRI dari tahun ke tahun

Pertanyaannya, apakah dividen BMRI terus naik setiap tahun?

Jawabannya tidak selalu.

Data historis menunjukkan dividen BMRI mengalami kenaikan dan penurunan dari tahun ke tahun. Namun, dalam jangka panjang, nilai dividen per saham menunjukkan kecenderungan meningkat.

Bahkan berdasarkan data di bawah, dividen BMRI tahun 2026 mencapai sekitar Rp542,96 per saham, lebih tinggi dibandingkan Rp466,18 per saham pada 2025.

Cara Mencari NPL di Laporan Keuangan Perbankan Tahun 2026

 

Non Performing Loan
Cara Mencari NPL Bank tahun 2026


Non Performing Loan (NPL) – NPL adalah jumlah kredit bermasalah yang dimiliki oleh suatu bank. Nilai NPL didapat dengan cara membagi jumlah kredit bermasalah dengan total kredit yang diberikan oleh bank.

Di tahun 2026 ini, NPL menjadi perhatian penting untuk diamati. Sebab NPL sangat berpengaruh bersar terhadap laba yang diperoleh sebauh bank.

Dalam analisis saham perbankan, khususnya yang menggunakan analisis fundamental. Nilai NPL saham bank perlu diperhatikan untuk melihat kinerja bank tersebut. Apakah banknya bagus atau tidak dalam mengelola kredit yang disalurkan.

Sebelum itu mari kita lihat jenis-jenis NPL yang ada di perbankan berdasarkan peraturan OJK. Jadi, OJK mewajibkan semua bank untuk mencantumkan nilai NPL bank dalam laporan keuangannya.

Laporan Keuangan BMRI Oktober 2025 Laba Bersih Turun 9,70% Jadi Rp 38,88 T

Ilustrasi Laporan Keuangan Bank Mandiri / Kuhuni.com

 Rangkuman Laporan Keuangan BMRI Oktober 2025

Analisis Laporan Keuangan Bulanan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) per 31 Oktober 2025 menunjukkan neraca yang semakin kuat dan ekspansi kredit yang solid, namun laba bersih mengalami koreksi. Berikut adalah poin-poin pentingnya:

  • Total Aset tumbuh impresif 14,00% YoY, menembus angka Rp 2.000 triliun.
  • Didorong oleh kenaikan Kredit yang Diberikan sebesar 11,07% YoY.
  • Pendapatan Bunga Bersih (NII) mencatatkan pertumbuhan sebesar 3,55% YoY.
  • Beban Impairment (Kerugian Penurunan Nilai Aset) turun signifikan 25,08%, mengindikasikan perbaikan kualitas aset.
  • Laba Bersih Periode Berjalan terkoreksi sebesar 9,70% YoY.
  • Terjadi lonjakan masif pada Deposito sebesar 51,37% YoY, yang dapat memengaruhi biaya dana (cost of fund) bank.

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) kembali menunjukkan posisi yang kokoh dengan rilis Laporan Keuangan Bulanan per 31 Oktober 2025. Analisis komprehensif ini membedah pertumbuhan Aset, Liabilitas, serta mengevaluasi kinerja Laba/Rugi Bank Mandiri dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (31 Oktober 2024).

10 Saham yang Diborong dan Dijual Asing 2025: Asing "Buang" Big Banks, Borong TLKM & Sektor Mineral

Net Buy Asing
Ilustrasi Net Sell dan Net Buy Asing / Kuhuni.com


Kuhuni.com – Pergerakan investor asing di pasar saham Indonesia sepanjang tahun 2025 menunjukkan pola rotasi sektor yang sangat drastis. Hingga penutupan perdagangan 3 Desember 2025, data transaksi menunjukkan tekanan jual (net sell) yang masif pada sektor perbankan raksasa, sementara arus dana masuk (net buy) mengalir deras ke sektor telekomunikasi dan pertambangan mineral.

Bagi Anda yang sedang menyusun strategi investasi akhir tahun atau rebalancing portofolio 2026, memahami peta aliran dana asing ini sangat krusial. Berikut adalah ulasan lengkap data Net Sell dan Net Buy Investor Asing Sepanjang 2025.

Laba Bersih BRI, Mandiri, dan BCA Semester I 2025: BRI dan Mandiri Turun, BCA Melesat Naik 11%”

Kuhuni.com – Laba bersih Bank BRI (BBRI) semester I tahun 2025 tercatat sebesar Rp26,53 triliun. Laba bersih BBRI semester I/2025 turun 11,3 persen dibanding periode yang sama tahun 2024 yang mencapai Rp29,89 triliun.

Dari segi pendapatan, BRI justru masih mencatatkan kenaikan. Pendapatan bunga dan syariah BBRI semester I/2025 naik menjadi Rp102,37 triliun dari sebelumnya Rp99,79 triliun atau tumbuh 2,6 persen dibandingkan tahun lalu. Namun, meski pendapatan tumbuh, laba bersih BRI tetap turun.

Jadi kenapa laba bersih Bank BRI turun? Penyebab utamanya adalah naiknya beban penyisihan kerugian penurunan nilai aset (CKPN). Semester I/2025, beban CKPN BRI naik menjadi Rp23,49 triliun sedangkan semester I/2024 hanya Rp21,34 triliun atau naik 10,1 persen.

Bank Mandiri (BMRI)

Bagaimana dengan laba Bersih Bank Mandiri (BMRI) Semester 1 Tahun 2025? Laba bersih Bank Mandiri semester I/2025 tercatat Rp30,76 triliun, turun 2,5% dibanding semester I/2024 yang mencapai Rp31,55 triliun.

Pendapatan bunga dan syariah Bank Mandiri naik menjadi Rp102,38 triliun dari sebelumnya Rp99,79 triliun (naik 2,6%). Namun, kenaikan beban cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) membuat laba bersih sedikit tertekan.

Jadi, mengapa laba bersih Bank Mandiri turun? Laba Bersih BMRI kuartal I/2021 turun karena membengkaknya cadangan kerugian penurunan nilai. Beban CKPN Mandiri naik signifikan menjadi Rp22,84 triliun pada Semester I 2025. Angka ini meningkat Rp2,11 triliun atau 10,2% dibanding Semester I 2024 yang tercatat Rp20,73 triliun.


Bank Central Asia (BCA) – BBCA

Berbeda dengan dua bank BUMN, BCA justru mencatat kinerja positif. Laba bersih BCA semester I/2025 mencapai Rp23,62 triliun, naik 11% dibandingkan semester I/2024 yang sebesar Rp21,27 triliun.

Pendapatan bunga dan syariah naik menjadi Rp49,31 triliun dari Rp46,07 triliun (naik 7%). Meski beban bunga meningkat, BCA berhasil menekan beban operasional sehingga efisiensi tetap terjaga.

 Baca Juga: 10 Aplikasi Trading Saham Terdaftar OJK: Paling Banyak Digunakan

Analisis Perbandingan

Dari hasil kinerja tiga bank besar tersebut, terlihat bahwa:

  • BCA unggul dalam pertumbuhan laba meskipun asetnya lebih kecil dibanding Mandiri dan BRI. Kenaikan laba bersih 11% menunjukkan kemampuan BCA menekan beban bunga dan operasional.
  • BRI mengalami penurunan laba cukup dalam (-11,3%) akibat kenaikan CKPN yang signifikan, walaupun pendapatan bunga tetap tumbuh.
  • Mandiri turun tipis (-2,5%), lebih stabil dibanding BRI, tetapi tetap belum mampu menjaga pertumbuhan laba bersih.

Menariknya, dari sisi aset, Bank Mandiri (Rp2.514,68 triliun) dan BRI (Rp2.106,37 triliun) jauh lebih besar daripada BCA (Rp1.504,12 triliun). Namun justru BCA berhasil mencatatkan pertumbuhan laba positif, sementara dua bank pelat merah mengalami penurunan.

Laba Bersih Bank Mandiri (IDX: BMRI) 2021 Meningkat 66,8%, Jadi Rp 28,03 T

IDX BMRI 

Kuhuni.com – Jakarta, 27 Januari 2022. Bank Mandiri (IDX: BMRI) sepanjang tahun 2021 berhasil meraih laba bersih sebesar Rp 28,03 triliun atau meningkat 66,8% dibanding tahun 2020.

"Sepanjang tahun 2021, Bank Mandiri telah secara aktif mengimplementasikan transformasi digital untuk mencapai strategi jangka panjang dan menghasilkan pertumbuhan bisnis berkelanjutan," ujar Darmawan Junaidi Direktur Utama Bank Mandiri dalam Paparan Kinerja Bank Mandiri 2021 di Jakarta, Kamis (27/1).

Menurut Darmawan Junaidi, pertumbuhan laba bersih tersebut ditopang oleh optimalisasi fungsi intermediasi perseroan yang sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang positif. Tercatat, hingga akhir 2021, laju kredit perseroan secara konsolidasi mampu tumbuh positif sebesar 8,86% secara YoY menjadi Rp 1.050,16 triliun lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit Industri sebesar 5,2% YoY.

Laporan Keuangan Saham Bank KBMI 4 2021, Cek Bank Terbaik!

Laporan Keuangan Saham Bank KBMI 4 2021

Laporan Keuangan Saham – Saham perbankan Bank KBMI 4 telah merilis laporan keuangan kuartal 3 tahun 2021. Rata-rata saham Bank 4 menunjukkan kinerja yang bagus di triwulan ketiga ini.

Bank KBMI 4 adalah bank yang memiliki modal inti lebih dari Rp 70 triliun. Daftar Bank KBMI 4 yaitu Bank BRI, Bank BCA, Bank Mandiri dan Bank BNI.

Berikut laporang keuangan saham-saham Bank KBMI 4 yang ada di Bursa Efek Indonesia:

1. Laporan Keuangan Saham BBRI (Bank BRI) Kuartal Q3 2021

Laporan keuangan saham BBRI / Bank BRI telah dirilis perseroan. Dari hasil laporan keuangan Bank BRI menunjukkan laba bersih BRI kuartal 3 2021 naik jadi Rp 19.25 triliun, meningkat 36,41% dibandingkan kuartal 3 tahun 2020 laba bersih hanya Rp 14,11 triliun. Dengan demikian laba bersih per saham BBRI pada kuartal 3 tahun 2021 menjadi Rp 154 per lembar saham (Q3-2020  Rp 115 per lembar saham).

LIHAT JUGA: Histori Dividen BBRI dari Tahun ke Tahun

Bank BRI (IDX: BBRI) kuartal 3 tahun 2021 berhasil meraih pendapatan bunga dan syariah sebesar Rp 90 triliun. Pendapatan ini meningkat dibanding periode yang sama tahun 2020 sebesar Rp 85,85 triliun.

Dividen Bank BUMN 2021 Mencapai Rp 23,21 Triliun


Dividen Bank BUMN 2021 sebesar Rp 23,21 triliun. Dividen Bank BUMN ini berasal dari bank milik negara yaitu Bank BRI, BNI, BTN dan Mandiri.

Jumlah dividen Bank BUMN yang diterima oleh negara mencapai Rp 13,53 triliun atau sebesar 58 persen dari total dividen yang dibagikan ke pemegang saham. Sisanya diterima oleh pemegang saham publik atau sekitar 42 persen.

Dividen Himbara (Bank BUMN) tahun 2021 ini menurun sebesar 43,33% dibanding jumlah dividen tahun 2020 yang mencapai Rp 40,96 triliun. Dengan demikian penerimaan kas negara juga menurun dibanding perolehan dividen tahun 2020 yang mencapai  Rp 23,9 triliun.


Dividen Bank BRI (BBRI) 2021

Dividen BBRI 2021 sebesar Rp 12,12 triliun atau Rp 98,9 per lembar. Jumlah dividen BBRI 2021 ini menurun 41 persen dibanding jumlah dividen tahun 2020 mencapai Rp 20,62 triliun.

Pendapatan negara dari dividen Bank BRI tahun 2021 juga akhirnya turun jadi Rp 6,88 triliun dari sebelumnya mencapai Rp 11,7 triliun di tahun 2020. Turunnya jumlah dividen Bank BRI disebabkan oleh menurunnya laba bersih yang diperoleh perseroan.

LIHAT JUGA: Histori Dividen BRI Sejak IPO

Dividen Bank Mandiri (BMRI) 2021

Dividen Bank Mandiri (BMRI) 2021 sebesar Rp 10,27 triliun atau  Rp 220,27 per lembar. Jumlah dividen BMRI 2021 ini turun sebesar  37 persen dibanding dividen tahun 2020 mencapai Rp 16,48 triliun.

Dividen yang diperoleh negara dari Bank Mandiri akhirnya juga turun menjadi Rp 6,16 triliun dari sebelumnya di tahun 2020 mencapai Rp 9,89 triliun. Turunnya jumlah dividen yang dibagikan juga sama dengan yang dialami Bank BRI yaitu karena turunnya laba yang diperoleh Bank Mandiri.

LIHAT JUGA: Histori Dividen Bank Mandiri Sejak IPO

Dividen Bank BNI (BBNI) 2021

Dividen BBNI 2021 sebesar Rp 820,1 miliar atau Rp 44 per lembar. Jumlah dividen BBNI 2021 turun sebesar 80% dibanding dividen tahun 2020 yang mencapai Rp 3,84 triliun.

Jumlah dividen yang didapatkan negara dari Bank BNI tahun 2021 sebesar Rp 492,58 miliar, turun drastis dibanding dividen tahun 2020 mencapai Rp 2,3 triliun. Penurunan ini juga disebabkan karena turunnya laba bersih Bank BNI di tahun 2020.

Dividen Bank BTN (BBTN) 2021

Bank BTN tahun 2021 tidak membagikan dividen. Alhasil negara tidak mendapat setoran dividen dari bank BUMN yang satu ini. Sementara tahun 2020 Bank BTN masih membagikan dividen sebesar Rp 20,92 miliar dan negara mendapat dividen sebesar Rp 12,55 miliar dari Bank BTN.

LIHAT JUGA: Histori Dividen Bank BTN Sejak IPO

185 Saham Margin Juni 2021


Saham Margin adalah saham yang bisa kita beli dengan cara mengutang. Saham margin dapat dibeli lebih dari jumlah uang yang tersedia di rekening nasabah. Misalnya, kamu punya uang di rekening 10 juta rupiah. Kamu bisa membeli saham yang masuk dalam kategori saham margin hingga 20 juta rupiah atau lebih.

Broker/sekuritas biasaya memberikan pinjaman pada setiap nasabah untuk menggunakan margin trading. Margin trading yang tersendia biasanya berbeda-beda setiap sekuritas.

Kredit Macet Bank BRI, BNI, BCA dan Mandiri Kuartal I/2021, Siapa Terbesar?


Kuhuni.com
– Kredit macet adalah kredit yang cicilannya terlambat dibayar dan berpotensi untuk tidak dibayar. Untuk itu setiap bank biasanya melakukan pengawasan terhadap kredit yang diberikan ke setiap debitur. Baik dibitur perorangan maupun korporasi.

Kredit macet bank seperti Bank BCA, BRI, BNI dan Bank Mandiri juga selalu dinformasikan jumlahnya setiap kuartal ke pada publik. Pelaporan ini dilakukan untuk memberikan keterbukaan informasi mengenai kualitas kredit yang dimiliki setiap bank. Berikut akan diuraikan jumlah kredit macet dari masing-masing bank besar di atas pada kuartal 1 tahun 2021. Bank mana yang memiliki kredit macet terbesar? Dan bank mana yang memiliki kredit macet terkecil? Berikut ulasan kredit macetnya.

Kredit Macet Bank BNI, BCA, BRI dan Mandiri Kuartal 1 Tahun 2021

1. Kredit Macet Bank BNI

Kredit macet Bank BNI (BBNI) hingga kuartal I/2021 tercatat sebesar Rp 12,13 triliun. Meningkat sebesar 2,70% dari sebelumnya Rp 11,81 triliun pada akhir tahun 2020.

Bank BNI memiliki rasio rasio kredit bermasalah (NPL) bruto sebesar 4,12% dan rasio NPL neto 1,03%. Rasio kredit bermasalah (NPL) bruto Bank BNI turun dibandingkan akhir tahun 2020 yang NPL bruto mencapai 4,25%. Sementara rasio kredit bermasalah (NPL) neto mengalami kenaikan dari sebelumnya hanya 0,98%.

2. Kredit Macet Bank BCA

Kredit macet Bank BCA kuartal I/2021 macet sebesar Rp 8,13 triliun. Meningkat sebesar 13,14% dibanding akhir tahun 2020 kredit macetnya hanya sebesar Rp 7,18 triliun.

Kredit macet terbesar terjadi di sektor ekonomi Perdangan, Restoran dan Hotel sebesar Rp 4,29 triliun. Bank BCA memiliki rasio kredit bermasalah (NPL) bruto 1,83%, naik dibanding akhir tahun 2020 NPL tercatat sebesar 1,79%.

LIHAT JUGA: Luar Biasa! Laba BCA Salip BRI dan Mandiri Kuartal I/2021

3. Kredit Macet Bank Mandiri

Kredit macet Bank Mandiri sebesar Rp 20,00 triliun. Turun sebesar 12% dari sebelumnya mencapai Rp 22,78 triliun di akhir tahun 2020. Kredit bermasalah banyak terjadi di modal kerja sebesar Rp 11,84 dan investasi sebesar Rp 2,05 triliun.

Bank Mandiri memiliki rasio kredit bermasalah (NPL) bruto 3,30%, meningkat dibanding akhir tahun 2020 hanya 3,29%.

4. Kredit Macet BRI

Kredit macet BRI sebesar Rp 9,47 triliun di kuartal 1 tahun 2021. Naik 10% dibanding tahun 2020 kredit macetnya hanya Rp 8,60 triliun. Bank BRI memiliki rasio kredit bermasalah (NPL) bruto 3,12% meningkat dibanding akhir tahun 2020 hanya 2,94%.

LIHAT JUGA: Aplikasi Trading Saham Terbaik dan Resmi Terdaftar di OJK

Kesimpulan

Bank Mandiri memiliki jumlah kredit macet paling besar yaitu Rp 20 triliun. Lalu diikuti kredit macet Bank BNI sebesar Rp 12,13 triliun. Kredit Macet Bank BCA paling sedikit hanya sebesar Rp 8, 13 triliun dan diikuti Bank BRI Rp 9,47 triliun.

Kredit macet yang paling besar dimiliki oleh BNI. Bank BNI memiliki rasio kredit bermasalah (NPL) bruto paling tinggi yaitu sebesar 4,12%, kemudian diikuti oleh Bank Mandiri sebesar 3,30%. Bank BCA memiliki rasio kredit bermasalah (NPL) bruto paling rendah hanya 1,83%.

LIHAT JUGA: Histori Dividen BCA Sejak IPO

Histori dividen Bank Mandiri (BMRI) Sejak IPO 2003


Kuhini.com - Histori dividen Bank Mandiri (BMRI) sejak IPO tahun 2003. Bank Mandiri (BMRI) selalu rutin membagikan dividen dari tahun ke tahun ke pemegang saham.

Dividen Bank Mandiri (BMRI) mulai dibagikan pada tahun 2003 lalu tahun 2004 hingga sampai saat ini. Jumlah dividen BMRI senantiasa mengalami perubahan tiap tahun.

Jumlah Kredit Macet Bank BRI, BNI, BCA dan Mandari, Lihat Kredit Macet Terbesar dan Terkecil!

Kredit Macet Bank Tahun 2020

Kuhuni.com
– Perbankan raksasa di Indonesia telah melaporkan hasil kinerja sepanjang tahun 2020. Rata-rata kinerja bank besar di Indonesia mencatatkan penurunan laba bersih.


Bank besar di Indonesia seperti Bank BRI, Mandiri, BCA dan BNI sepanjang tahun 2020 kompak mengalami penurunan laba bersih. Penurunan laba bersih rata-rata terjadi kerena meningkatnya cadangan kerugian penurunan nilai setiap bank.


Dari laporang keuangan masing-masing bank juga menunjukkan adanya peningkatan terhadap kredit macet. Berikut ini akan diuraikan jumlah kredit macet dari masing-masing bank besar di atas. Bank manakah jumlah kredit macetnya paling besar? Dan bank Mana jumlah kredit macetnya yang paling kecil?

Jadwal Dividen BMRI 2021

Jadwal Dividen BMRI 2021

Kuhuni.com –
Dividen tunai Bank Mandiri Tbk (BMRI) tahun 2021 sebesar Rp 220,27 per saham. Jadwal pembagian dividen BMRI kepada pemegang saham akan dibayarkan pada tanggal 12 April 2021.

Dividen Bank Mandiri Tahun 2021 Turun 37,73%

Dividen BMRI 2021
Kuhuni.com – Dividen tunai Bank Mandiri Tbk (BMRI) tahun 2021 sebesar Rp 220 per saham. Atau setara dengan Rp 10,27 triliun yang akan dibagikan sebagai dividen ke pemegang saham. Jumlah dividen tahun 2021 turun 37,73% dibanding tahun 2020 yang mencapai Rp353,34 per saham.

Kenapa Laba BCA Lebih Mantap dibanding BRI dan Mandiri? Ternyata Ini Alasannya!

Laba BCA 2020

Kuhuni.com –Laba bersih Bank BCA (BBCA) tahun 2020 tercatat sebesar Rp 27,13 triliun. Laba bersih per saham BBCA tahun 2020 Rp 1.100. Bila kita bandingkan dengan laba bersih BBCA tahun 2019 yang mencapai Rp 28,56 triliun, maka penurunan laba bersih tahun 2020 hanya 5,02% atau turun sebesar Rp 1,43 triliun.

Terbaru

      ARTIKEL PILIHAN