Profil dan Sejarah Bank BRI: Dari Volksbank 1895 hingga Raksasa UMKM Indonesia

Profil Bank BRI

Profil PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) – Bank Tertua dan Terbesar di Indonesia


Identitas Perusahaan

KategoriKeterangan
Nama PerusahaanPT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk
Kode SahamBBRI
Bidang Usaha UtamaJasa Perbankan
SektorKeuangan
SubsektorBank
IndustriBank
SubindustriBank
Tanggal Pencatatan di BEI10 November 2003
Papan PencatatanUtama
NPWP0010016087093000
Biro Administrasi EfekDatindo Entrycom

Kantor Pusat dan Kontak

  • Alamat Kantor Pusat:
    Gedung BRI I, Jl. Jenderal Sudirman Kav. 44–46, Jakarta Pusat 10210

  • Telepon: (021) 575 1966

  • Faksimile: (021) 5752010, 5700916

  • Email Resmi: humas@bri.co.id; corsec@bri.co.id

  • Situs Web: www.bri.co.id

1895 – Awal Berdirinya Bank BRI di Purwokerto

Pada tahun 1895, Raden Aria Wiriatmaja mendirikan lembaga keuangan sederhana bernama De Poerwokertosche Hulp en Spaarbank der Inlandsche Hoofden di Purwokerto, Jawa Tengah.
Lembaga ini mengelola dana kas masjid untuk membantu masyarakat pribumi melalui sistem pinjaman berbunga rendah.
Inisiatif ini menjadi cikal bakal lahirnya perbankan rakyat di Indonesia dan menandai awal sejarah panjang Bank Rakyat Indonesia (BRI).

Selama dua dekade pertama, nama lembaga ini beberapa kali berubah — dari Volksbank hingga Centrale Kas Voor Volkscredietwezen Algemene — seiring dengan perkembangan sistem keuangan kolonial di Hindia Belanda.
Transformasi tersebut menunjukkan bahwa sejak awal, BRI telah tumbuh dengan visi inklusi keuangan bagi masyarakat kecil, yang kelak menjadi DNA bisnisnya hingga kini.

1912–1945 – Dari Volkscredietbank hingga Syomin Ginko

Pada tahun 1912, lembaga ini resmi berubah menjadi Centrale Kas Voor Volkscredietwezen Algemene, yang berfungsi sebagai lembaga pusat kredit rakyat.
Tahun 1934, namanya kembali berubah menjadi Algemene Volkscredietbank (AVB) dan menjadi jaringan kredit rakyat terbesar di wilayah jajahan Belanda.

Ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942, AVB diubah menjadi Syomin Ginko, yang tetap berfokus pada penyaluran dana kredit kepada rakyat.
Meski dikelola oleh otoritas Jepang, sistem pembiayaan mikro tetap berjalan, mencerminkan ketahanan dan adaptivitas lembaga keuangan rakyat ini di tengah gejolak politik dan ekonomi.

1946 – Resmi Menjadi Bank Rakyat Indonesia

Fakta penting tercatat pada 22 Februari 1946, ketika Pemerintah Indonesia melalui Peraturan Pemerintah No. 1 Tahun 1946, secara resmi mengubah Syomin Ginko menjadi Bank Rakyat Indonesia (BRI).
Langkah ini menjadikan BRI sebagai bank milik pemerintah pertama Republik Indonesia pasca kemerdekaan.
Sejak saat itu, BRI menjadi ujung tombak pembiayaan pembangunan dan pemberdayaan ekonomi rakyat.

Sebagai bank milik negara, BRI memegang peranan strategis dalam menyalurkan kredit kepada petani, nelayan, dan pedagang kecil.
Keberadaan BRI juga menjadi simbol kedaulatan ekonomi Indonesia di masa awal republik.

1960–1968 – Masa Konsolidasi dan Penetapan Sebagai Bank Umum

Pada tahun 1960, pemerintah mengubah nama BRI menjadi Bank Koperasi Tani Nelayan (BKTN), mencerminkan fokus pemerintah pada sektor agraria.
Namun, perubahan ini bersifat sementara.

Delapan tahun kemudian, berdasarkan Undang-Undang No. 21 Tahun 1968, pemerintah menetapkan kembali nama Bank Rakyat Indonesia (BRI) dengan status sebagai bank umum milik negara (BUMN).
Penetapan ini menjadi tonggak penting karena menandai konsolidasi peran BRI sebagai lembaga keuangan nasional yang melayani seluruh segmen ekonomi rakyat.

1969–1984 – BRI Unit dan Program Kredit Bimas

Sejak tahun 1969, pemerintah menunjuk BRI sebagai satu-satunya bank yang menyalurkan kredit program Bimbingan Massal (Bimas) untuk mendukung sektor pertanian nasional.
Program ini menjadi cikal bakal pembentukan jaringan BRI Unit, yang memperluas layanan hingga pelosok desa.

Setelah program Bimas berakhir pada 1984, BRI mengubah orientasi bisnisnya menjadi pengelola kredit mikro komersial.
Langkah ini menjadikan BRI pelopor microbanking modern di Indonesia, dengan jaringan yang menjangkau lebih dari 6.000 unit kerja pada akhir 1980-an.

1992 – Transformasi Menjadi Persero

Pada tahun 1992, melalui Peraturan Pemerintah No. 21 Tahun 1992, status hukum BRI berubah menjadi Perseroan (Persero).
Dengan perubahan ini, BRI memiliki fleksibilitas manajerial dan operasional untuk bersaing di industri perbankan nasional.

Transformasi ini membuka jalan bagi BRI untuk memperluas lini bisnis, meningkatkan efisiensi, dan memperkuat permodalan.
Langkah tersebut juga menjadi fondasi menuju go public di bursa saham satu dekade berikutnya.

2003 – Melantai di Bursa Efek Indonesia (BBRI)

Tepat pada 10 November 2003, BRI resmi menjadi perusahaan publik (Tbk) melalui pencatatan saham perdana di Bursa Efek Jakarta (sekarang BEI) dengan kode BBRI. Cek harga saham BBRI di sini, lihat analisis fundamental dan teknikal saham BRI.
Penawaran umum perdana (IPO) tersebut berhasil menghimpun modal signifikan untuk memperkuat ekspansi kredit mikro dan digitalisasi layanan. Cek di sini Dividen BBRI dari tahun ke tahun yang dibagikan ke investor sejak melantai di Bursa Efek Indonesia

Sejak IPO, harga saham BBRI menunjukkan tren pertumbuhan konsisten.
Hingga tahun 2024, kapitalisasi pasar Bank BRI tercatat mencapai lebih dari Rp850 triliun, menempatkannya sebagai salah satu emiten bank terbesar di Asia Tenggara.

2007–2011 – Ekspansi Bisnis dan Digitalisasi Awal

Pada 2007, BRI mengakuisisi Bank Jasa Artha yang kemudian menjadi BRI Syariah — langkah awal menuju diversifikasi layanan berbasis prinsip syariah.
Selanjutnya pada 2011, BRI mengakuisisi PT Bank Agroniaga Tbk. dan BRIngin Remittance Ltd. di Hong Kong, memperkuat kehadiran internasionalnya.

Pada periode ini pula, BRI mencatat 6.480 jaringan kerja online real-time, menjadi bank dengan jaringan terluas di Indonesia.
Strategi ini memperkokoh posisi BRI sebagai bank mikro terbesar di dunia.

2014–2016 – Era Satelit BRIsat dan Ekspansi Global

Pada 28 April 2014, BRI menandatangani kontrak dengan Space Systems/Loral (SSL) dan Arianespace untuk meluncurkan satelit BRIsat.
Peluncuran BRIsat berhasil dilakukan pada 18 Juni 2016 dari Kourou, Guyana Prancis.
BRIsat menjadi satelit perbankan pertama di dunia yang dimiliki oleh lembaga keuangan komersial — memperluas jangkauan layanan digital BRI hingga ke ribuan pulau terpencil.

Pada periode yang sama, BRI membuka kantor cabang luar negeri di Singapura, serta meluncurkan program digitalisasi UMKM seperti e-Pasar dan Teras BRI Digital.
Langkah ini memperkuat posisi BRI sebagai bank digital berbasis kerakyatan.

2017–2019 – Ekspansi Digital dan Penguatan UMKM

Fakta menarik terjadi pada 2019, ketika Bank BRI menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) senilai Rp87,9 triliun kepada lebih dari 4 juta pelaku UMKM.
Dari total tersebut, 86,1% atau Rp75,7 triliun disalurkan khusus untuk segmen mikro.
Sejak 2015, total penyaluran KUR BRI mencapai Rp323,4 triliun kepada lebih dari 16,6 juta pelaku usaha kecil di seluruh Indonesia.

Pada tahun yang sama, BRI meluncurkan aplikasi BRImo dan CERIA, dua inovasi digital lending yang mempercepat proses pinjaman tanpa tatap muka. BRI juga aktif memberikan layanan kartu kredit ke nasabahnya. Cek informasi jenis-jenis kartu kredit BRI di sini dan mana yang terbaik.
Langkah ini memperkuat BRI sebagai bank BUMN paling agresif dalam transformasi digital.

2020 – Bank BRI Fokus Bertahan dan Adaptasi di Tengah Pandemi

Pada tahun 2020, Bank Rakyat Indonesia (BRI) menghadapi tantangan besar akibat pandemi COVID-19.
Meski ekonomi nasional melemah, BRI mencatat pertumbuhan solid dengan menyalurkan lebih dari Rp138 triliun kredit UMKM sepanjang tahun tersebut.
Sebagai respons terhadap krisis, BRI mempercepat transformasi digital dan memperkuat layanan berbasis teknologi, terutama untuk segmen mikro dan kecil.

Langkah strategis ini menjadikan BRI tetap mampu menjaga profitabilitas, dengan rasio kredit bermasalah (NPL) tetap terkendali di bawah 3%, lebih baik dibanding rata-rata industri perbankan nasional.
Keberhasilan ini menunjukkan ketahanan model bisnis BRI yang berfokus pada ekonomi kerakyatan.

2021 – Tahun Aksi Korporasi Terbesar dalam Sejarah BRI

Fakta utama pada 2021: BRI mencatat tiga aksi korporasi raksasa yang mengubah lanskap perbankan nasional.
Pertama, konsolidasi Bank Syariah Indonesia (BSI) meningkatkan valuasi saham BRIS hingga 4 kali lipat sejak penggabungan.
Kedua, kemitraan strategis dengan FWD Financial berhasil meningkatkan valuasi BRI Life sebagai bagian dari upaya memperkuat bisnis asuransi.
Ketiga, pembentukan Holding Ultra Mikro (UMi) bersama Pegadaian dan PNM, dengan nilai rights issue mencapai Rp95,9 triliun — terbesar di Asia Tenggara dan ketiga terbesar di Asia.

Melalui Holding UMi, BRI menjangkau 35,9 juta nasabah ultra mikro di lebih dari 1.032 lokasi co-location di seluruh Indonesia.
Pada tahun yang sama, BRI juga membuka kantor cabang luar negeri keenam di Taipei, Taiwan, dengan izin Full Retail Foreign Bank Branch Office License.

Kinerja 2021 menegaskan posisi BRI sebagai bank BUMN paling inovatif dan ekspansif di Asia Tenggara.

2022 – Tahun Konsolidasi Digital dan Akuisisi Strategis

Pada 2022, BRI memperluas jangkauan layanan dengan mengakuisisi Danareksa Investment Management (DIM), memperkuat visinya sebagai “one stop financial solution” bagi masyarakat Indonesia.
Langkah ini memperkokoh posisi BRI Group sebagai penyedia jasa keuangan terpadu yang melayani dari mikro hingga korporasi.

Dari sisi digitalisasi, BRI meluncurkan Qlola by BRI, sebuah Integrated Corporate Solution Platform dengan sistem single sign-on, yang memudahkan korporasi mengelola keuangan secara terpadu.
Selain itu, BRI memperkuat jaringan AgenBRILink hingga 627.000 agen, tersebar di lebih dari 58.000 desa, mencakup 78% wilayah Indonesia.

Super App BRImo mencatat 23,85 juta pengguna di 2022, menjadikannya aplikasi mobile banking dengan pengguna terbesar di Indonesia.
BRI juga menghadirkan lebih dari 1.000 Gerai Senyum untuk melayani nasabah ultra mikro secara terpadu dengan integrasi 34 juta data nasabah.
Pencapaian ini menegaskan BRI sebagai pelopor inklusi keuangan digital nasional.

2023 – BRI Catat Lompatan Digital dan Transaksi Rp4.159 Triliun

Sepanjang 2023, BRI menorehkan capaian luar biasa dalam digitalisasi perbankan.
Jumlah pengguna aplikasi BRImo mencapai 31,6 juta user, meningkat lebih dari 10 kali lipat hanya dalam 4 tahun, dengan volume transaksi menembus Rp4.159 triliun.
BRImo menjadi mobile banking paling banyak diunduh di Indonesia, mengukuhkan dominasi BRI dalam ekosistem digital banking nasional.

Sementara itu, Holding Ultra Mikro BRI melanjutkan ekspansinya dengan meningkatkan kapasitas layanan pembiayaan mikro di seluruh provinsi Indonesia.
Fokus pemberdayaan UMKM tetap menjadi prioritas utama, sejalan dengan peran BRI sebagai motor penggerak ekonomi rakyat.
Hasilnya, BRI mencatat laba bersih lebih dari Rp51 triliun pada tahun 2023, naik sekitar 16% dibandingkan 2022.

Dengan kinerja ini, BRI bukan hanya bank dengan profit terbesar di Indonesia, tetapi juga pemimpin inovasi digital keuangan di Asia Tenggara.

2024 – BRIvolution 3.0 dan Visi Menjadi “The Most Trusted Lifetime Financial Partner”

Pada 2024, Bank BRI meluncurkan BRIvolution 3.0, peta jalan strategis jangka panjang yang menetapkan visi baru:

“The Most Trusted Lifetime Financial Partner for Sustainable Growth.”

Fokus utama BRIvolution 3.0 adalah keberlanjutan, digitalisasi, dan kemitraan finansial jangka panjang.
Program ini menjadi panduan arah transformasi bisnis hingga 2030, dengan misi memperluas ekosistem keuangan untuk segmen ultra mikro, UMKM, dan korporasi berkelanjutan.

Melalui Holding Ultra Mikro, BRI telah melayani 35,9 juta nasabah aktif dengan lebih dari 1.000 titik co-location layanan keuangan terpadu.
Dengan terus memperkuat infrastruktur digital, BRI menargetkan peningkatan 20% transaksi digital year-on-year, sekaligus memperkuat posisi sebagai bank dengan portofolio UMKM terbesar di dunia.

BRIvolution 3.0 menegaskan bahwa BRI bukan hanya bank nasional, tetapi juga institusi finansial visioner yang berperan penting dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan Indonesia.

Kesimpulan: Jejak Langkah Bank BRI dari 1895 hingga 2024 – Dari Lembaga Simpan Pinjam Rakyat ke Bank Digital Terbesar di Asia Tenggara

Sejak berdiri pada 16 Desember 1895 di Purwokerto oleh Raden Aria Wiriatmaja, Bank Rakyat Indonesia (BRI) telah menempuh perjalanan panjang selama lebih dari 129 tahun. Bermula sebagai lembaga pengelola dana sosial masyarakat, BRI berkembang menjadi bank tertua sekaligus bank rakyat terbesar di Indonesia. Dari masa kolonial dengan nama De Poerwokertosche Hulp en Spaarbank der Inlandsche Hoofden, BRI bertransformasi melalui berbagai era — dari Volksbank, Syomin Ginko di masa pendudukan Jepang, hingga resmi menjadi Bank Rakyat Indonesia pada 22 Februari 1946.

Selama dekade-dekade berikutnya, BRI menjadi ujung tombak pembangunan ekonomi rakyat. Melalui program Bimbingan Massal (Bimas) tahun 1969 dan pembentukan BRI Unit, BRI memperluas akses keuangan hingga ke pelosok pedesaan. Perubahan status menjadi Persero (1992) dan go public di Bursa Efek Indonesia (2003) memperkuat fondasi keuangannya, menjadikan BRI lebih modern, efisien, dan berdaya saing global.

Memasuki era 2000-an, BRI mempercepat transformasi melalui inovasi digital, akuisisi strategis (BRISyariah, BRI Agro, BRI Life, BRI Ventures), dan peluncuran satelit BRIsat (2016) — satelit perbankan pertama di dunia. Pencapaian ini mengukuhkan BRI sebagai bank dengan infrastruktur digital paling luas di Indonesia, melayani jutaan nasabah dari Sabang sampai Merauke.

Rentang 2020–2024 menjadi babak baru perjalanan BRI. Dalam periode ini, BRI meluncurkan berbagai terobosan monumental:

  • Holding Ultra Mikro (UMi) senilai Rp95,9 triliun, yang menyatukan BRI, Pegadaian, dan PNM, menjangkau 35,9 juta nasabah ultra mikro.

  • Pertumbuhan pengguna BRImo menjadi 31,6 juta user dengan volume transaksi Rp4.159 triliun (2023).

  • Peluncuran BRIvolution 3.0 (2024) sebagai visi baru menuju “The Most Trusted Lifetime Financial Partner for Sustainable Growth.”

Dengan lebih dari 627 ribu AgenBRILink, 1.032 co-location UMi, dan jaringan kerja di >58.000 desa, BRI kini bukan hanya bank, melainkan ekosistem keuangan terbesar dan paling inklusif di Asia Tenggara.

Dari lembaga simpan pinjam sederhana pada abad ke-19 hingga menjadi bank digital global di abad ke-21, Bank BRI telah membuktikan bahwa inklusi keuangan dan inovasi teknologi dapat berjalan seiring dalam memberdayakan masyarakat kecil.
BRI bukan sekadar lembaga keuangan — ia adalah saksi perjalanan ekonomi rakyat Indonesia, yang terus tumbuh, beradaptasi, dan memimpin transformasi keuangan berkelanjutan hingga 2024 dan seterusnya.

*Update data per November 2025. Data diolah dari laporan tahun Bank BRI tahun 2019 dan 2024 (https://www.ir-bri.com/misc/AR/flipbook/AR2024-ID/index.html)

0 comments

Posting Komentar

Terbaru

    Rekomendasi

      Trading Saham