Sejarah Perkembangan Bisnis Bank BRI

Profil Bank BRI


Sejarah Bank BRI - Sejarah Bank BRI dimulai sejak 1895. Bank BRI telah berganti nama beberapa kali. Bank BRI pertama kali bernama  De Poerwokertosche Hulpen Spaarbank der Indlandsche Hoofden berubah jadi Hulp en Spaarbank der Indlandsche Bestuurs Ambtenareen, setelah itu mengalami perubahan lagi dengan nama De Poerwokertosche Hulp Spaaren Landbouw Credietbank atau Volksbank.

Bunga Deposito Bank BRI: Cara Menghitung Bunga Deposito BRI

Bank BRI

Bunga Deposito Bank BRI - Deposito BRI adalah simpanan berjangka dalam periode waktu tertentu dengan memberikan keuntungan berupa bunga deposito kepada nasabah.

Pendapatan bunga deposito BRI dapat dioptimalkan dengan cara memperpanjang pokok dan bunga. Bank BRI memberikan penawaran ke nasabah untuk meperpanjang pokok dan bunga setiap bulan, sehingga keuntungan yang diperoleh lebih besar. Hal ini sering dikenal dengan istilah bunga berbunga.

Bagi nasabah yang membuka deposito di kantor cabang Bank BRI, sebaiknya meminta ke CS (costumer service) untuk memperpanjang pokok dan bunga tiap bulan. Apabila tidak menyampaikannya, maka secara otomatis yang diperpanjang hanya pokoknya saja.

Dividen Bank BUMN 2021 Mencapai Rp 23,21 Triliun


Dividen Bank BUMN 2021 sebesar Rp 23,21 triliun. Dividen Bank BUMN ini berasal dari bank milik negara yaitu Bank BRI, BNI, BTN dan Mandiri.

Jumlah dividen Bank BUMN yang diterima oleh negara mencapai Rp 13,53 triliun atau sebesar 58 persen dari total dividen yang dibagikan ke pemegang saham. Sisanya diterima oleh pemegang saham publik atau sekitar 42 persen.

Dividen Himbara (Bank BUMN) tahun 2021 ini menurun sebesar 43,33% dibanding jumlah dividen tahun 2020 yang mencapai Rp 40,96 triliun. Dengan demikian penerimaan kas negara juga menurun dibanding perolehan dividen tahun 2020 yang mencapai  Rp 23,9 triliun.


Dividen Bank BRI (BBRI) 2021

Dividen BBRI 2021 sebesar Rp 12,12 triliun atau Rp 98,9 per lembar. Jumlah dividen BBRI 2021 ini menurun 41 persen dibanding jumlah dividen tahun 2020 mencapai Rp 20,62 triliun.

Pendapatan negara dari dividen Bank BRI tahun 2021 juga akhirnya turun jadi Rp 6,88 triliun dari sebelumnya mencapai Rp 11,7 triliun di tahun 2020. Turunnya jumlah dividen Bank BRI disebabkan oleh menurunnya laba bersih yang diperoleh perseroan.

LIHAT JUGA: Histori Dividen BRI Sejak IPO

Dividen Bank Mandiri (BMRI) 2021

Dividen Bank Mandiri (BMRI) 2021 sebesar Rp 10,27 triliun atau  Rp 220,27 per lembar. Jumlah dividen BMRI 2021 ini turun sebesar  37 persen dibanding dividen tahun 2020 mencapai Rp 16,48 triliun.

Dividen yang diperoleh negara dari Bank Mandiri akhirnya juga turun menjadi Rp 6,16 triliun dari sebelumnya di tahun 2020 mencapai Rp 9,89 triliun. Turunnya jumlah dividen yang dibagikan juga sama dengan yang dialami Bank BRI yaitu karena turunnya laba yang diperoleh Bank Mandiri.

LIHAT JUGA: Histori Dividen Bank Mandiri Sejak IPO

Dividen Bank BNI (BBNI) 2021

Dividen BBNI 2021 sebesar Rp 820,1 miliar atau Rp 44 per lembar. Jumlah dividen BBNI 2021 turun sebesar 80% dibanding dividen tahun 2020 yang mencapai Rp 3,84 triliun.

Jumlah dividen yang didapatkan negara dari Bank BNI tahun 2021 sebesar Rp 492,58 miliar, turun drastis dibanding dividen tahun 2020 mencapai Rp 2,3 triliun. Penurunan ini juga disebabkan karena turunnya laba bersih Bank BNI di tahun 2020.

Dividen Bank BTN (BBTN) 2021

Bank BTN tahun 2021 tidak membagikan dividen. Alhasil negara tidak mendapat setoran dividen dari bank BUMN yang satu ini. Sementara tahun 2020 Bank BTN masih membagikan dividen sebesar Rp 20,92 miliar dan negara mendapat dividen sebesar Rp 12,55 miliar dari Bank BTN.

LIHAT JUGA: Histori Dividen Bank BTN Sejak IPO

185 Saham Margin Juni 2021


Saham Margin adalah saham yang bisa kita beli dengan cara mengutang. Saham margin dapat dibeli lebih dari jumlah uang yang tersedia di rekening nasabah. Misalnya, kamu punya uang di rekening 10 juta rupiah. Kamu bisa membeli saham yang masuk dalam kategori saham margin hingga 20 juta rupiah atau lebih.

Broker/sekuritas biasaya memberikan pinjaman pada setiap nasabah untuk menggunakan margin trading. Margin trading yang tersendia biasanya berbeda-beda setiap sekuritas.

Kredit Macet Bank BRI, BNI, BCA dan Mandiri Kuartal I/2021, Siapa Terbesar?


Kuhuni.com
– Kredit macet adalah kredit yang cicilannya terlambat dibayar dan berpotensi untuk tidak dibayar. Untuk itu setiap bank biasanya melakukan pengawasan terhadap kredit yang diberikan ke setiap debitur. Baik dibitur perorangan maupun korporasi.

Kredit macet bank seperti Bank BCA, BRI, BNI dan Bank Mandiri juga selalu dinformasikan jumlahnya setiap kuartal ke pada publik. Pelaporan ini dilakukan untuk memberikan keterbukaan informasi mengenai kualitas kredit yang dimiliki setiap bank. Berikut akan diuraikan jumlah kredit macet dari masing-masing bank besar di atas pada kuartal 1 tahun 2021. Bank mana yang memiliki kredit macet terbesar? Dan bank mana yang memiliki kredit macet terkecil? Berikut ulasan kredit macetnya.

Kredit Macet Bank BNI, BCA, BRI dan Mandiri Kuartal 1 Tahun 2021

1. Kredit Macet Bank BNI

Kredit macet Bank BNI (BBNI) hingga kuartal I/2021 tercatat sebesar Rp 12,13 triliun. Meningkat sebesar 2,70% dari sebelumnya Rp 11,81 triliun pada akhir tahun 2020.

Bank BNI memiliki rasio rasio kredit bermasalah (NPL) bruto sebesar 4,12% dan rasio NPL neto 1,03%. Rasio kredit bermasalah (NPL) bruto Bank BNI turun dibandingkan akhir tahun 2020 yang NPL bruto mencapai 4,25%. Sementara rasio kredit bermasalah (NPL) neto mengalami kenaikan dari sebelumnya hanya 0,98%.

2. Kredit Macet Bank BCA

Kredit macet Bank BCA kuartal I/2021 macet sebesar Rp 8,13 triliun. Meningkat sebesar 13,14% dibanding akhir tahun 2020 kredit macetnya hanya sebesar Rp 7,18 triliun.

Kredit macet terbesar terjadi di sektor ekonomi Perdangan, Restoran dan Hotel sebesar Rp 4,29 triliun. Bank BCA memiliki rasio kredit bermasalah (NPL) bruto 1,83%, naik dibanding akhir tahun 2020 NPL tercatat sebesar 1,79%.

LIHAT JUGA: Luar Biasa! Laba BCA Salip BRI dan Mandiri Kuartal I/2021

3. Kredit Macet Bank Mandiri

Kredit macet Bank Mandiri sebesar Rp 20,00 triliun. Turun sebesar 12% dari sebelumnya mencapai Rp 22,78 triliun di akhir tahun 2020. Kredit bermasalah banyak terjadi di modal kerja sebesar Rp 11,84 dan investasi sebesar Rp 2,05 triliun.

Bank Mandiri memiliki rasio kredit bermasalah (NPL) bruto 3,30%, meningkat dibanding akhir tahun 2020 hanya 3,29%.

4. Kredit Macet BRI

Kredit macet BRI sebesar Rp 9,47 triliun di kuartal 1 tahun 2021. Naik 10% dibanding tahun 2020 kredit macetnya hanya Rp 8,60 triliun. Bank BRI memiliki rasio kredit bermasalah (NPL) bruto 3,12% meningkat dibanding akhir tahun 2020 hanya 2,94%.

LIHAT JUGA: Aplikasi Trading Saham Terbaik dan Resmi Terdaftar di OJK

Kesimpulan

Bank Mandiri memiliki jumlah kredit macet paling besar yaitu Rp 20 triliun. Lalu diikuti kredit macet Bank BNI sebesar Rp 12,13 triliun. Kredit Macet Bank BCA paling sedikit hanya sebesar Rp 8, 13 triliun dan diikuti Bank BRI Rp 9,47 triliun.

Kredit macet yang paling besar dimiliki oleh BNI. Bank BNI memiliki rasio kredit bermasalah (NPL) bruto paling tinggi yaitu sebesar 4,12%, kemudian diikuti oleh Bank Mandiri sebesar 3,30%. Bank BCA memiliki rasio kredit bermasalah (NPL) bruto paling rendah hanya 1,83%.

LIHAT JUGA: Histori Dividen BCA Sejak IPO

Luar Biasa! Laba BCA Salip BRI dan Mandiri Kuartal I/2021


Kuhuni.com
– Laba bersih Bank BRI (BBRI) kuartal 1 tahun 2021 Rp 16,37 triliun. Laba bersih BBRI kuartal I/2021 turun 16,37 persen dibanding periode yang sama tahun 2020. Dari segi pendapatan BBRI juga mengalami penurunan di kuartal I/2021 jadi Rp 29,63 triliun dari sebelumnya mencapai Rp 30,38 triliun. Alhasil laba bersih per saham BBRI pada kuartal 1 tahun 2021 menjadi Rp 55 per lembar saham (QI-2020 Rp 66 per lembar saham).

Jadi kenapa laba bersih Bank BRI turun? Laba Bersih Bank BRI kuartal I/2021 turun karena naiknya beban penyisihan kerugian penurunan nilai aset keuangan Bank BRI menjadi Rp 8,46 triliun sedangkan kuartal I/2020 hanya Rp 6,54 triliun atau naik 29,3 persen.

Pendapatan Bank BRI Kuartal I/2021 Rp 29,63 Triliun


Kuhuni.com
– Pendapatan Bank BRI (BBRI) kuartal 1 tahun 2021 sebesar Rp 29,63 triliun. Pendapatan ini turun dibanding periode yang sama tahun 2020 yang mencapai Rp 30,38 triliun. Sementara beban bunga dan syariah mengalami penurunan tajam jadi Rp 6,45 triliun dari sebelumnya mencapai Rp 10,37 triliun di kuartal 1 tahun 2020. Dengan demikian pada kuartal 1 tahun 2021 pendapatan bersih bunga dan syariah Bank BRI naik manjadi Rp 23,18 triliun dari sebelumnya hanya Rp 20,96 triliun.

Pada kuartal 1 tahun 2021 pendapatan operasional Bank BRI naik tipis jadi Rp 8,25 triliun dari sebelumnya Rp 8 triliun. Pendapatan operasional ini terdiri dari pendapatan provisi dan komisi Rp 3,79 triliun, pendapatan kembali aset yang telah dihapusbukukan Rp 1,79 triliun dan keuntungan dari penjualan efek dan obligasi sebesar Rp 1,07 triliun dan lain-lain sebesar Rp 1,21 triliun.

Jumlah Kredit Macet Bank BRI, BNI, BCA dan Mandari, Lihat Kredit Macet Terbesar dan Terkecil!

Kredit Macet Bank Tahun 2020

Kuhuni.com
– Perbankan raksasa di Indonesia telah melaporkan hasil kinerja sepanjang tahun 2020. Rata-rata kinerja bank besar di Indonesia mencatatkan penurunan laba bersih.


Bank besar di Indonesia seperti Bank BRI, Mandiri, BCA dan BNI sepanjang tahun 2020 kompak mengalami penurunan laba bersih. Penurunan laba bersih rata-rata terjadi kerena meningkatnya cadangan kerugian penurunan nilai setiap bank.


Dari laporang keuangan masing-masing bank juga menunjukkan adanya peningkatan terhadap kredit macet. Berikut ini akan diuraikan jumlah kredit macet dari masing-masing bank besar di atas. Bank manakah jumlah kredit macetnya paling besar? Dan bank Mana jumlah kredit macetnya yang paling kecil?

Jadwal Dividen BBRI 2021

Jadwal Dividen BRI 2021

Kuhuni.com –
 Dividen tunai BBRI (Bank BRI) tahun 2021 sebesar Rp 98,9 per saham. Jadwal pembagian dividen BBRI kepada pemegang saham akan dibayarkan pada tanggal 28 April 2021.

Dividen BBRI Tahun 2021 Rp 12,12 T

Dividen BBRI 2021

Kuhuni.com – Dividen tunai Bank BRI Tbk (BBRI) tahun 2021 sebesar ±Rp 98 per lembar saham. Jumlah ini setara dengan Rp 12,12 triliun yang akan dibagikan ke seluruh pemegang saham. Jumlah dividen BBRI tahun 2021 turun 41% dibanding tahun 2020 yang mencapai Rp 168,20 per lembar saham.

Dividen BRI 2021

Dividen  Bank BRI 2021

Kuhuni.com – Dividen tunai Bank BRI Tbk (BBRI) tahun 2021 diproyeksikan akan membagi dividen sebesar ±Rp 7,86 – 9,43 triliun atau ±Rp 75,5 – 90,6 per lembar saham. Estimasi jumlah dividen tahun 2021 ini berdasarkan histori pembagian dividen BBRI dari tahun-tahun sebelumnya. Rasio pembagian dividen BBRI tahun 2019-2020 yaitu sebesar 50%-60% dari laba bersih.

Kenapa Laba BCA Lebih Mantap dibanding BRI dan Mandiri? Ternyata Ini Alasannya!

Laba BCA 2020

Kuhuni.com –Laba bersih Bank BCA (BBCA) tahun 2020 tercatat sebesar Rp 27,13 triliun. Laba bersih per saham BBCA tahun 2020 Rp 1.100. Bila kita bandingkan dengan laba bersih BBCA tahun 2019 yang mencapai Rp 28,56 triliun, maka penurunan laba bersih tahun 2020 hanya 5,02% atau turun sebesar Rp 1,43 triliun.

Saham LQ45 2020 – 2021

Bursa Efek Indonesia telah menerbitkan daftar saham lq45 untuk periode Agustus 2020 - Januari 2021. Daftar saham lq45 untuk tahun 2020-2021 ini ada 3 saham baru yang masuk yaitu saham MDKA (Merdeka Copper Gold Tbk), saham MIKA (Mitra Keluarga Kayasehat Tbk) dan saham SMRA (Summarecon Agung Tbk.

Tanggapan Bank BRI Terkait Dampak Covid-19 Periode Juni 2020


Tanggapan Bank BRI Terkait Dampak Covid-19 Periode Juni 2020

Manajemen Bank BRI  (BBRI) telah memberikan keterangan resmi kepada Bursa Efek Indonesia mengenai dampak Covid-19 terhadap Bank BRI. Bursa Efek telah memberikan beberapa pertanyaan guna untuk mengetahui informasi terkini mengenai kondisi operasional dan kinerja keuangan.  Manajemen Bank BRI telah memberikan tanggapan sebagai berikut:

  1. Bagaimana kondisi kelangsungan usaha Perseroan saat ini? Terganggu oleh Covid-19
  2. Apakah Pandemi Covid-19 berdampak pada penghentian dan/atau pembatasan operasional Perseroan dan/atau Entitas Anak? Ya, berdampak pada pembatasan operasional sebagian.
  3. Berapa lama perkiraan jangka waktu penghentian/pembatasan operasional? Antara 1–3 bulan.
  4. Agar dijelaskan lebih lanjut rincian jenis kegiatan yang mengalami penghentian dan/atau pembatasan operasional Perseroan dan/atau Entitas Anak (misalnya: segmen usaha yang terhenti, bisnis unit yang terhenti, lokasi kegiatan usaha yang berhenti,dll).
    Pembatasan jam kerja operasional
    di kantor cabang disebabkan penerapan standar protokol Covid19 dan diterapakannya program Work from home bagi sebahagian pegawai.
  5. Seberapa besar kontribusi pendapatan dari kegiatan operasional yang terhenti dan/atau mengalami pembatasan operasional tersebut terhadap total pendapatan (konsolidasi) tahun 2019? 51%-75%
  6. Jumlah karyawan di PHK. Kondisi karyawan periode Januari 2020 hingga saat ini? 0 (kosong)
  7. Jumlah karyawan yang terdampak dengan status lainnya (contoh: pemotongan gaji, penyesuaian shift/hari/jam kerja, dll). Kondisi karyawan periode Januari 2020 hingga saat ini? 0 (kosong).
  8. Seberapa besar perkiraan perubahan total pendapatan (konsolidasi) untuk periode terkini di tahun 2020 (dapat menggunakan proforma) dibandingkan periode yang sama di tahun 2019? Penurunan total pendapatan < 25%
  9. Seberapa besar perkiraan perubahan laba (rugi) bersih (konsolidasi) untuk periode terkini di tahun 2020 (dapat menggunakan proforma) dibandingkan periode yang sama di tahun 2019? Penurunan laba bersih < 25%
  10. Perkiraan total pendapatan dan laba (rugi) bersih yang digunakan Perseroan di atas berdasarkan? Periode yang berakhir per 31 Maret 2020 dibandingkan 31 Maret 2019.
  11. Apakah Pandemi Covid-19 berdampak pada pemenuhan kewajiban keuangan jangka pendek yang terkini Perseroan dan/atau Entitas Anak (Utang Usaha, Utang Bank/Lembaga Keuangan, Kupon dan/atau Pokok Obligasi, MTN dll)? Tidak berdampak
  12. Apakah Pandemi Covid-19 berdampak pada Permasalahan hukum yang bersifat material seperti gugatan pailit/PKPU terhadap Perseroan dan/atau Entitas Anak? Tidak
  13. Apakah Pandemi Covid-19 berdampak pada Permasalahan hukum yang bersifat material seperti pembatalan kontrak material terhadap Perseroan dan/atau Entitas Anak? Tidak
  14. Apakah Pandemi Covid-19 berdampak pada Permasalahan hukum yang bersifat material seperti somasi atau tuntutan hukum karena wanprestasi terhadap Perseroan dan/atau Entitas Anak? Tidak
  15. Apakah Pandemi Covid-19 berdampak pada Permasalahan hukum yang bersifat material selain 3(tiga) dampak di atas terhadap Perseroan dan/atau Entitas Anak? Tidak
  16. Bagaimana strategi/upaya Perseroan dalam mempertahankan kelangsungan usaha di tengah kondisi Pandemi Covid-19?
    Untuk menjaga pertumbuhan kinerja yang berkesinambungan, BRI melakukan penyesuaian terhadap strategi perusahaan baik di sisi operasional dan bisnis. Di masa pandemik, BRI tetap mengutamakan keselamatan dan kesehatan pekerja dengan mengaktifkan protokol Business Continuity Management yang menerapkan 3 Pillar of Crisis, yaitu people first, business process dan good corporate governance.
    Selama masa PSBB dan penerapan kebijakan WFH (work from home), BRI juga melakukan mitigasi risiko dan meningkatkan awareness terhadap data security. Sebagai langkah antisipatif pada sisi bisnis, BRI fokus untuk melakukan selective growth yang fokus melakukan penyaluran di wilayah dan sektor yang kurang/tidak terdampak Covid-19. BRI juga melakukan prioritasisasi program restrukturisasi kredit yang terdampak Covid-19. Dengan pembelakukan PSBB dan himbauan physical distancing, BRI menyadari bahwa terjadi perubahan pola transaksi keuangan masyarakat menjadi digital. Oleh karenanya BRI mengandalkan layanan transaksi digital untuk kebutuhan transaksi nasabah.
Sumber: Bursa Efek Indonesia (www.idx.co.id)
 Baca Juga

Daftar Jumlah Kredit Macet Bank Buku Empat, Siapa Juaranya?


Kuhuni.com – Jakarta. Kredit macet bank buku empat (IV) akan mengalami kenaikan akibat pandemi Virus Corona yang sedang melanda Indonesia. Saat ini ada 7 bank yang masuk dalam daftar bank buku empat. Yaitu Bank BRI, Mandiri, BCA, BNI, Danamon, CIMB Niaga dan Bank Pan Indonesia. Bank buku empat sendiri yaitu bank yang memiliki modal inti di atas 30 triliun.


Ada beberapa bank yang berpotensi masuk ke dalam daftar bank buku empat yaitu Bank BTPN. Saat ini Bank BTPN memiliki ekuitas Rp 29,9 triliun, hampir mencapai di atas 30 triliun. Bank  OCBC NISP Tbk juga menjadi kandidat bank buku empat. Sekarang, Bank OCBC memiliki ekuitas sebesar Rp 27,9 triliun. Sehingga tim riset Kuhuni akan memasukkan daftar kredit macet Bank BTPN dan Bank OCBC sebagai tambahan.

Pada kuartal pertama tahun 2020 ini, daftar bank di atas telah melaporkan kinerjanya dalam laporan keuangannya masing-masing. Berikut daftar kredit macet masing-masing dari bank tersebut.

Histori Dividen Bank BRI Sejak IPO 2003

Dividen Bank BRI Mulai Tahun 2004

Kuhuni.com - Histori dividen Bank BRI (BBRI) sejak IPO tahun 2003 menunjukkan bahwa BBRI selalu rutin membagikan dividen ke investor. Dividen yield BBRI bahkan pernah mencapai 10% di tahun 2005 dan ini merupakan dividen yield tertinggi. Sementara dividen yield terendah ada di tahun 2011 yaitu 1%.

Berita Utama

7 Saham Ini Bagi Dividen Oktober 2021: Cek Dividen Tertinggi!

Dividen saham Tertinggi Oktober 2021 yaitu dividen saham MBAP dan saham UNTR. Sementara saham-saham lainnya membagikan dividen yang lebih ...

Pilihan Pembaca