JAKARTA, Kuhuni.com — PT Bank BTPN Syariah Tbk (IDX: BTPS) membukukan laba bersih konsolidasian sebesar Rp1,01 triliun selama sembilan bulan pertama 2026, meningkat 7,03% dibandingkan Rp945,42 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Di tengah kenaikan laba, pendapatan pengelolaan dana oleh bank sebagai mudharib sedikit menurun, sedangkan beban pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai mengalami penurunan cukup besar.
Hingga 30 September 2026, total aset BTPS mencapai Rp23,99 triliun, naik dari Rp22,75 triliun pada akhir 2025. Ekuitas juga meningkat, tetapi total liabilitas bertambah lebih cepat. Dari sisi arus kas, kas bersih yang diperoleh dari aktivitas operasi turun menjadi Rp622,47 miliar dari Rp1,42 triliun pada sembilan bulan pertama 2025.
![]() |
| Karyawan BTPN Syariah memberikan penjelasan pada nasabah. Dokumentasi/BTPN Syariah |
Berikut ulasan laporan keuangan konsolidasian BTPS untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2026, berdasarkan data laporan keuangan yang tersedia.
Laba Bersih BTPS Naik 7,03% Menjadi Rp1,01 Triliun
BTPS mencatat laba bersih konsolidasian Rp1,01 triliun pada Januari–September 2026, meningkat 7,03% dari Rp945,42 miliar pada periode yang sama 2025. Laba sebelum pajak penghasilan tumbuh menjadi Rp1,29 triliun dari Rp1,22 triliun.
| Indikator | 9M 2026 | 9M 2025 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Pendapatan pengelolaan dana oleh bank sebagai mudharib | Rp3,86 triliun | Rp3,92 triliun | -1,55% |
| Hak bank atas bagi hasil | Rp3,51 triliun | Rp3,56 triliun | -1,30% |
| Pendapatan operasional lainnya | Rp23,82 miliar | Rp35,82 miliar | -33,49% |
| Pendapatan operasional bersih | Rp1,29 triliun | Rp1,22 triliun | +5,64% |
| Laba sebelum pajak penghasilan | Rp1,29 triliun | Rp1,22 triliun | +5,67% |
| Laba bersih | Rp1,01 triliun | Rp945,42 miliar | +7,03% |
| Laba per saham dasar/dilusian | Rp131 | Rp123 | +6,50% |
Angka dalam rupiah telah dibulatkan. Persentase perubahan dihitung dari angka laporan keuangan.
Pertumbuhan laba terjadi ketika pendapatan pengelolaan dana sedikit menurun. Salah satu perubahan penting terlihat pada pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai, yang turun dari Rp630,81 miliar menjadi Rp381,10 miliar. Penurunan beban ini membantu menopang pendapatan operasional bersih, meskipun tidak dapat dijadikan satu-satunya ukuran kualitas pembiayaan.
Pendapatan Pengelolaan Dana Sedikit Menurun
Pendapatan pengelolaan dana oleh bank sebagai mudharib turun sekitar 1,55%, dari Rp3,92 triliun menjadi Rp3,86 triliun. Di dalamnya, pendapatan margin murabahah turun dari Rp3,43 triliun menjadi Rp3,35 triliun.
| Komponen pendapatan | 9M 2026 | 9M 2025 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Pendapatan margin murabahah | Rp3,35 triliun | Rp3,43 triliun | -2,35% |
| Pendapatan bagi hasil pembiayaan mudharabah | Rp7,61 miliar | — | Baru tercatat pada 2026 |
| Pendapatan bagi hasil pembiayaan musyarakah | Rp46,29 miliar | Rp25,81 miliar | +79,33% |
| Pendapatan usaha utama lainnya | Rp455,90 miliar | Rp464,23 miliar | -1,79% |
| Total pendapatan pengelolaan dana | Rp3,86 triliun | Rp3,92 triliun | -1,55% |
| Hak pihak ketiga atas bagi hasil dana syirkah temporer | Rp352,61 miliar | Rp367,47 miliar | -4,04% |
| Hak bagi hasil milik bank | Rp3,51 triliun | Rp3,56 triliun | -1,30% |
Pendapatan bagi hasil dari pembiayaan musyarakah meningkat cukup besar secara persentase, tetapi nilainya masih jauh lebih kecil dibandingkan pendapatan margin murabahah. Karena itu, penurunan pendapatan murabahah tetap menjadi faktor penting dalam membaca perubahan total pendapatan pengelolaan dana.
Hak pihak ketiga atas bagi hasil dana syirkah temporer turun menjadi Rp352,61 miliar dari Rp367,47 miliar. Setelah memperhitungkan bagian pemilik dana tersebut, hak bagi hasil milik bank tercatat Rp3,51 triliun.
Baca Laporan Keuangan Emiten Lainnya
- Laporan Keuangan AXIO September 2026: Pendapatan Naik 24%, Laba Bersih Tembus Rp61 Miliar
- Laporan Keuangan BPFI September 2026: Laba Bersih Naik 89% Jadi Rp97,81 Miliar
- Laba Bersih DMAS Meroket 184% Per September 2026
- Laporan Keuangan BOBA September 2026: Penjualan dan Laba Bersih Meningkat
- Laporan Keuangan Saham ARNA September 2026: Penjualan Rp2,51 Triliun, Laba Naik 22,82%
- GUNA Raup Pendapatan Rp1,49 Triliun, Laba Bersih Naik 15,01% hingga September 2026
- Laporan keuangan PTPP September 2026: pendapatan turun 12,69% dan laba tahun berjalan Rp4,57 miliar.
- Laporan Keuangan PJAA September 2026: Laba Bersih Rp25,30 Miliar, Turun 56,52%
- PAMG Catat Rugi Rp2,56 Miliar hingga September 2026, Pendapatan Turun 10,78%
- Laba AKRA Naik 32% Jadi Rp2,44 Triliun hingga September 2026
- Laba BTPS Naik 7% Jadi Rp1,01 Triliun hingga September 2026
Beban Cadangan Kerugian Penurunan Nilai Turun
BTPS membukukan beban pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai sebesar Rp381,10 miliar selama sembilan bulan pertama 2026, turun 39,58% dibandingkan Rp630,81 miliar pada periode yang sama 2025.
| Komponen beban operasional | 9M 2026 | 9M 2025 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Beban tenaga kerja | Rp1,24 triliun | Rp1,19 triliun | +4,26% |
| Beban umum dan administrasi | Rp585,55 miliar | Rp518,02 miliar | +13,04% |
| Pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai | Rp381,10 miliar | Rp630,81 miliar | -39,58% |
| Beban operasional lainnya | Rp45,87 miliar | Rp40,96 miliar | +11,99% |
| Total beban operasional lainnya | Rp2,25 triliun | Rp2,38 triliun | -5,34% |
Penurunan beban pencadangan merupakan perubahan material dalam laporan laba rugi. Namun, untuk menyimpulkan apakah risiko pembiayaan benar-benar membaik, investor perlu melihat informasi tambahan seperti rasio pembiayaan bermasalah, tingkat pemulihan, penghapusbukuan, serta rincian kualitas aset pada catatan laporan keuangan. Angka-angka tersebut tidak seluruhnya tersedia dalam data yang digunakan untuk artikel ini.
Di sisi lain, beban tenaga kerja meningkat 4,26% dan beban umum serta administrasi naik 13,04%. Dengan demikian, penurunan total beban operasional pada periode ini terutama terjadi bersamaan dengan berkurangnya beban pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai.
Total Aset BTPS Naik Menjadi Rp23,99 Triliun
Per 30 September 2026, total aset BTPS tercatat Rp23,99 triliun, meningkat 5,45% dibandingkan Rp22,75 triliun pada 31 Desember 2025. Kenaikan terutama terlihat pada giro dan penempatan pada Bank Indonesia, piutang murabahah neto, serta pembiayaan musyarakah.
| Pos aset | 30 Sep 2026 | 31 Des 2025 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Kas | Rp490,82 miliar | Rp628,08 miliar | -21,85% |
| Giro dan penempatan pada Bank Indonesia | Rp2,03 triliun | Rp1,48 triliun | +37,14% |
| Investasi pada surat berharga beserta pendapatan yang akan diterima | Rp10,02 triliun | Rp10,03 triliun | -0,14% |
| Piutang murabahah neto | Rp8,88 triliun | Rp8,39 triliun | +5,85% |
| Pembiayaan musyarakah neto | Rp1,21 triliun | Rp963,05 miliar | +25,70% |
| Aset tetap neto | Rp372,48 miliar | Rp334,37 miliar | +11,40% |
| Aset takberwujud neto | Rp180,82 miliar | Rp184,44 miliar | -1,97% |
| Total aset | Rp23,99 triliun | Rp22,75 triliun | +5,45% |
Piutang murabahah neto meningkat menjadi Rp8,88 triliun. Nilai ini sudah memperhitungkan pendapatan margin yang ditangguhkan dan cadangan kerugian penurunan nilai sebagaimana disajikan dalam laporan. Pembiayaan musyarakah neto naik menjadi Rp1,21 triliun dari Rp963,05 miliar.
Investasi pada surat berharga beserta pendapatan yang akan diterima relatif stabil, sekitar Rp10,02 triliun. Pos tersebut tetap menjadi salah satu komponen aset terbesar BTPS.
Cadangan Kerugian Piutang Murabahah Menurun
Piutang murabahah dari pihak ketiga sebelum dikurangi cadangan kerugian tercatat Rp9,62 triliun pada September 2026, meningkat dari Rp9,19 triliun pada akhir 2025. Cadangan kerugian penurunan nilai turun menjadi Rp815,80 miliar dari Rp881,23 miliar.
| Komponen piutang murabahah | 30 Sep 2026 | 31 Des 2025 |
|---|---|---|
| Piutang murabahah pihak ketiga | Rp9,62 triliun | Rp9,19 triliun |
| Pendapatan yang akan diterima | Rp79,83 miliar | Rp81,86 miliar |
| Cadangan kerugian penurunan nilai | Rp815,80 miliar | Rp881,23 miliar |
| Piutang murabahah neto | Rp8,88 triliun | Rp8,39 triliun |
Penurunan cadangan secara nominal terjadi bersamaan dengan kenaikan piutang murabahah. Secara sederhana, cadangan yang tercatat setara sekitar 8,48% dari piutang murabahah sebelum cadangan pada September 2026, dibandingkan sekitar 9,59% pada akhir 2025. Perhitungan ini bukan rasio pembiayaan bermasalah dan tidak cukup untuk menilai kecukupan pencadangan tanpa informasi kualitas pembiayaan dan metodologi pencadangan yang lebih lengkap.
Liabilitas dan Dana Syirkah Temporer
Total liabilitas BTPS meningkat menjadi Rp3,41 triliun dari Rp2,86 triliun pada akhir 2025. Pada saat yang sama, dana syirkah temporer naik tipis menjadi Rp9,96 triliun dari Rp9,93 triliun.
| Komponen | 30 Sep 2026 | 31 Des 2025 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Total liabilitas | Rp3,41 triliun | Rp2,86 triliun | +19,24% |
| Simpanan nasabah | Rp2,40 triliun | Rp2,28 triliun | +5,25% |
| Liabilitas kepada Bank Indonesia | Rp319,69 miliar | — | Tercatat pada 2026 |
| Liabilitas sewa | Rp66,51 miliar | Rp29,51 miliar | +125,40% |
| Dana syirkah temporer | Rp9,96 triliun | Rp9,93 triliun | +0,34% |
| Total ekuitas | Rp10,62 triliun | Rp9,96 triliun | +6,58% |
Dalam struktur pendanaan syariah, dana syirkah temporer disajikan terpisah dari liabilitas dan ekuitas. Oleh karena itu, kenaikan total liabilitas tidak boleh dibaca tanpa memperhatikan perubahan dana syirkah temporer dan ekuitas.
Liabilitas kepada Bank Indonesia tercatat Rp319,69 miliar pada September 2026, sedangkan pada akhir 2025 pos tersebut tidak memiliki saldo. Data yang tersedia menunjukkan adanya pendanaan dari Bank Indonesia dalam arus kas pendanaan periode berjalan dengan nilai yang sama.
Komposisi Dana Nasabah Berubah
Simpanan nasabah meningkat menjadi Rp2,40 triliun dari Rp2,28 triliun. Di dalamnya, tabungan wadiah bertambah, sementara giro wadiah menurun dibandingkan akhir 2025.
| Komponen simpanan | 30 Sep 2026 | 31 Des 2025 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Giro wadiah | Rp26,09 miliar | Rp42,56 miliar | -38,71% |
| Tabungan wadiah | Rp2,37 triliun | Rp2,24 triliun | +6,05% |
| Tabungan wadiah pihak berelasi | Rp1,30 miliar | Rp610 juta | +113,28% |
| Total simpanan nasabah | Rp2,40 triliun | Rp2,28 triliun | +5,25% |
Dana syirkah temporer juga menunjukkan perubahan komposisi. Tabungan mudharabah meningkat, sedangkan deposito mudharabah menurun.
| Komponen dana syirkah temporer | 30 Sep 2026 | 31 Des 2025 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Tabungan mudharabah | Rp1,37 triliun | Rp886,64 miliar | +54,34% |
| Deposito mudharabah | Rp8,59 triliun | Rp9,04 triliun | -4,96% |
| Total dana syirkah temporer | Rp9,96 triliun | Rp9,93 triliun | +0,34% |
Kenaikan tabungan mudharabah dan penurunan deposito mudharabah membuat komposisi dana syirkah temporer berubah dibandingkan akhir tahun sebelumnya. Perubahan ini perlu dipantau bersama perkembangan biaya bagi hasil, jatuh tempo deposito, dan kebutuhan pendanaan bank.
Ekuitas Meningkat Menjadi Rp10,62 Triliun
Total ekuitas BTPS mencapai Rp10,62 triliun pada 30 September 2026, naik 6,58% dari Rp9,96 triliun pada 31 Desember 2025. Saldo laba belum dicadangkan meningkat menjadi Rp8,78 triliun dari Rp8,15 triliun, sementara saldo laba dicadangkan naik menjadi Rp185 miliar dari Rp165 miliar.
Modal saham tetap Rp770,37 miliar, dengan jumlah saham ditempatkan dan disetor penuh sebanyak 7,7037 miliar saham. Tambahan modal disetor juga tetap Rp842,79 miliar.
Jika dibandingkan dengan total aset, ekuitas berada di kisaran 44,26% pada September 2026, sedikit lebih tinggi daripada sekitar 43,78% pada akhir 2025. Perhitungan sederhana ini menunjukkan porsi ekuitas terhadap aset meningkat, meskipun penilaian permodalan bank secara menyeluruh perlu menggunakan rasio regulasi dan data tambahan yang relevan.
Arus Kas Operasi Turun 56,02%
Kas bersih yang diperoleh dari aktivitas operasi BTPS turun menjadi Rp622,47 miliar pada sembilan bulan pertama 2026, dibandingkan Rp1,42 triliun pada periode yang sama 2025. Penurunan ini terjadi karena perubahan aset dan liabilitas operasi, termasuk kenaikan piutang murabahah dan pembiayaan musyarakah yang menyerap kas.
| Arus kas | 9M 2026 | 9M 2025 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Arus kas sebelum perubahan aset dan liabilitas operasi | Rp1,16 triliun | Rp1,14 triliun | +2,04% |
| Kas bersih dari aktivitas operasi | Rp622,47 miliar | Rp1,42 triliun | -56,02% |
| Kas bersih digunakan untuk aktivitas investasi | Rp151,94 miliar | Rp157,53 miliar | Penggunaan turun 3,55% |
| Kas bersih digunakan untuk aktivitas pendanaan | Rp36,22 miliar | Rp465,78 miliar | Penggunaan turun 92,22% |
| Kenaikan bersih kas dan setara kas | Rp434,30 miliar | Rp792,22 miliar | -45,18% |
Arus kas sebelum perubahan aset dan liabilitas operasi justru meningkat tipis menjadi Rp1,16 triliun. Namun, setelah memperhitungkan perubahan pos operasi, arus kas bersih turun. Piutang murabahah menyerap kas Rp427,82 miliar, sementara pembiayaan musyarakah menyerap Rp248,26 miliar.
Di sisi lain, simpanan nasabah memberikan tambahan kas Rp119,71 miliar dan dana syirkah temporer meningkat Rp33,62 miliar. Walaupun arus kas operasi lebih rendah, kas dan setara kas menurut laporan arus kas tetap meningkat Rp434,30 miliar sepanjang periode berjalan.
Kas dan Setara Kas Akhir Periode Rp4,11 Triliun
Kas dan setara kas menurut definisi dalam laporan arus kas mencapai Rp4,11 triliun pada akhir September 2026, turun dari Rp4,44 triliun pada akhir September 2025. Namun, dibandingkan saldo awal tahun 2026 sebesar Rp3,68 triliun, nilai tersebut meningkat Rp434,30 miliar.
Komponen kas dan setara kas pada laporan arus kas mencakup kas, giro dan penempatan pada Bank Indonesia, giro dan penempatan pada bank lain, serta bagian investasi surat berharga yang memenuhi definisi kas dan setara kas. Karena cakupannya berbeda dari satu pos “Kas” di neraca, angka Rp4,11 triliun tidak boleh disamakan dengan saldo kas Rp490,82 miliar pada laporan posisi keuangan.
Kesimpulan: Laba Bertumbuh, Arus Kas Operasi Perlu Diperhatikan
Kinerja BTPS pada sembilan bulan pertama 2026 menunjukkan laba bersih meningkat 7,03% menjadi Rp1,01 triliun. Pendapatan operasional bersih tumbuh 5,64%, sedangkan total aset meningkat 5,45% dibandingkan akhir 2025. Ekuitas juga bertambah 6,58%.
Di sisi lain, pendapatan pengelolaan dana oleh bank sebagai mudharib sedikit turun. Penurunan beban pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai menjadi salah satu perubahan penting dalam laporan laba rugi, tetapi kualitas pembiayaan tetap perlu dinilai menggunakan data yang lebih lengkap.
Hal lain yang perlu dipantau adalah arus kas bersih dari aktivitas operasi, yang turun 56,02% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan piutang murabahah dan pembiayaan musyarakah menyerap kas selama periode berjalan. Perubahan komposisi dana syirkah temporer, pertumbuhan simpanan nasabah, dan perkembangan liabilitas kepada Bank Indonesia juga relevan untuk diperhatikan.
FAQ Laporan Keuangan BTPS September 2026
Berapa laba bersih BTPS hingga September 2026?
Laba bersih konsolidasian BTPS mencapai Rp1,01 triliun selama sembilan bulan pertama 2026, meningkat 7,03% dari Rp945,42 miliar pada periode yang sama 2025.
Berapa total aset BTPS per September 2026?
Total aset BTPS mencapai Rp23,99 triliun pada 30 September 2026, meningkat 5,45% dibandingkan Rp22,75 triliun pada akhir 2025.
Mengapa laba BTPS meningkat?
Laba bersih naik bersamaan dengan peningkatan pendapatan operasional bersih dan penurunan beban pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai. Pendapatan pengelolaan dana sendiri sedikit menurun.
Bagaimana arus kas operasi BTPS?
Kas bersih dari aktivitas operasi tercatat Rp622,47 miliar, turun 56,02% dari Rp1,42 triliun pada sembilan bulan pertama 2025.
Berapa dana syirkah temporer BTPS?
Dana syirkah temporer mencapai Rp9,96 triliun pada 30 September 2026, naik tipis dari Rp9,93 triliun pada akhir 2025.
Apakah penurunan cadangan kerugian berarti kualitas pembiayaan membaik?
Belum tentu. Beban pencadangan dan saldo cadangan adalah indikator yang berbeda. Penilaian kualitas pembiayaan membutuhkan informasi tambahan seperti rasio pembiayaan bermasalah, pemulihan, penghapusbukuan, dan rincian kualitas aset.
Disclaimer
Artikel ini disusun untuk tujuan informasi dan edukasi, bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham BTPS. Angka disajikan sesuai laporan keuangan yang menjadi sumber, dengan pembulatan untuk memudahkan pembacaan. Sejumlah rasio dihitung secara sederhana dari angka yang tersedia dan bukan pengganti rasio resmi perbankan. Investor sebaiknya mempelajari laporan keuangan lengkap beserta catatannya dan mempertimbangkan profil risiko masing-masing sebelum mengambil keputusan investasi.

0 comments
Posting Komentar