Cara Memilih Saham untuk Trading: Panduan Pemula agar Tidak Salah Pilih

Memilih saham untuk trading tidak cukup hanya dengan melihat saham yang harganya sedang naik.

Banyak pemula justru melakukan kesalahan di bagian ini. Ketika melihat sebuah saham naik 10%, 20%, atau bahkan lebih dalam sehari, mereka langsung ikut membeli karena takut ketinggalan.

Padahal, saham yang sedang naik belum tentu menjadi saham yang bagus untuk dibeli.

Dalam trading, pemilihan saham harus dilakukan sebelum membeli. Trader perlu melihat beberapa hal seperti likuiditas, volume perdagangan, pergerakan harga, tren, support dan resistance, volatilitas, berita, serta kondisi fundamental perusahaan.

Artikel ini akan membahas cara memilih saham untuk trading dari dasar dengan bahasa sederhana, sehingga bisa dipahami oleh pemula.

cara membeli saham bbca
Ilustrasi: Melakukan analisis sebelum membeli saham BBCA. Dokumentasi Kuhuni.com

Apa Itu Memilih Saham untuk Trading?

Memilih saham untuk trading adalah proses mencari saham yang memiliki kondisi dan pergerakan harga sesuai dengan strategi trading yang digunakan.

Tujuannya bukan mencari saham yang pasti naik.

Tidak ada saham yang bisa dijamin selalu naik.

Tujuan memilih saham adalah mencari peluang trading yang memiliki potensi keuntungan dengan risiko yang masih bisa dikendalikan.

Misalnya ada dua saham.

Saham A

  • transaksi sangat ramai;
  • volume besar;
  • bid dan offer aktif;
  • harga bergerak cukup teratur.

Saham B

  • transaksi sepi;
  • volume kecil;
  • antrean bid dan offer tipis;
  • harga bisa berubah sangat cepat.

Untuk trader pemula, saham A biasanya lebih mudah dipelajari karena aktivitas perdagangannya lebih ramai.

BEI menjelaskan bahwa likuiditas menunjukkan seberapa mudah sebuah saham dibeli atau dijual. Saham yang likuid umumnya mempunyai antrean bid dan offer serta volume perdagangan yang besar.

Mengapa Pemilihan Saham Penting dalam Trading?

Bayangkan Anda mempunyai uang Rp1 juta.

Anda tentu tidak ingin membeli saham secara asal hanya karena melihat warnanya hijau.

Sebelum membeli, Anda harus tahu:

  • saham apa yang dibeli;
  • mengapa saham tersebut dipilih;
  • berapa harga belinya;
  • berapa target keuntungan;
  • di mana batas kerugian;
  • berapa jumlah lot;
  • dan kapan harus keluar.

Dengan kata lain:

Trading yang baik dimulai sebelum tombol Buy ditekan.

Kesalahan memilih saham dapat membuat trader masuk ke saham yang sulit dijual, terlalu berisiko, atau sudah terlalu tinggi setelah mengalami kenaikan besar.

Cara Memilih Saham untuk Trading

Berikut beberapa langkah yang bisa digunakan pemula.

1. Pilih Saham yang Likuid

Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah likuiditas.

Sederhananya, likuid berarti saham tersebut mudah dibeli dan dijual karena banyak pelaku pasar yang melakukan transaksi.

Ciri-cirinya antara lain:

  • transaksi aktif;
  • volume perdagangan cukup besar;
  • antrean bid tersedia;
  • antrean offer tersedia;
  • spread tidak terlalu lebar;
  • dan terdapat banyak pembeli serta penjual.

Mengapa likuiditas penting?

Karena trader membutuhkan kemampuan untuk masuk dan keluar dari posisi.

Bayangkan Anda membeli saham yang sangat sepi.

Ketika ingin menjual, ternyata hanya sedikit pembeli.

Akibatnya, Anda mungkin harus menunggu lebih lama atau menurunkan harga jual agar transaksi terjadi.

BEI juga menjelaskan bahwa saham yang tidak likuid dapat lebih sulit dijual dan pergerakannya dapat berubah drastis ketika permintaan dan penawaran sedikit.

2. Perhatikan Volume Perdagangan

Setelah melihat likuiditas, perhatikan volume.

Volume menunjukkan aktivitas perdagangan saham.

Saham dengan volume besar biasanya menunjukkan bahwa transaksi sedang ramai.

Contoh sederhana:

Saham

Volume

Kondisi

ABCD

500 juta saham

Sangat aktif

EFGH

50 juta saham

Aktif

IJKL

500 ribu saham

Relatif sepi

Angka volume tidak boleh digunakan sendirian untuk menentukan keputusan.

Namun, volume bisa menjadi salah satu alat untuk melihat apakah suatu saham sedang ramai diperdagangkan.

3. Jangan Hanya Melihat Harga Saham

Kesalahan umum pemula adalah menganggap saham Rp100 lebih murah daripada saham Rp5.000.

Itu tidak selalu benar.

Harga per lembar tidak menentukan apakah sebuah perusahaan murah atau mahal.

Misalnya:

Saham A = Rp100

Saham B = Rp5.000

Bukan berarti saham A otomatis lebih murah.

Untuk mengetahui apakah sebuah saham murah atau mahal, perlu melihat kondisi perusahaan dan valuasinya.

Dalam analisis fundamental, OJK menjelaskan bahwa investor antara lain melihat kondisi fundamental perusahaan dan harga wajarnya. Analisis juga dapat menggunakan berbagai rasio keuangan yang perlu disesuaikan dengan karakteristik industrinya.

4. Cari Saham yang Sedang Memiliki Tren

Trader juga perlu melihat tren harga.

Secara sederhana, ada tiga kondisi:

  • uptrend;
  • downtrend;
  • sideways.

Uptrend berarti harga cenderung bergerak naik.

Downtrend berarti harga cenderung bergerak turun.

Sideways berarti harga bergerak dalam rentang tertentu.

Untuk pemula, memahami arah tren sangat penting.

Contohnya:

Harga bergerak:

Rp1.000 → Rp1.050 → Rp1.100 → Rp1.150

Harga tersebut menunjukkan kecenderungan naik.

Sebaliknya:

Rp1.500 → Rp1.400 → Rp1.300 → Rp1.200

Menunjukkan kecenderungan turun.

Jangan hanya melihat satu candle.

Lihat pergerakan harga secara keseluruhan.

5. Perhatikan Support

Support adalah area harga yang sering menjadi tempat munculnya tekanan beli.

Contohnya, saham berkali-kali turun mendekati Rp1.000 tetapi kemudian kembali naik.

Area Rp1.000 tersebut dapat menjadi salah satu area support.

Bukan berarti harga pasti memantul dari support.

Support bisa ditembus.

Namun, area ini dapat membantu trader menentukan rencana entry dan batas risiko.

6. Perhatikan Resistance

Kebalikan dari support adalah resistance.

Resistance merupakan area harga yang sering menjadi tempat munculnya tekanan jual.

Misalnya saham beberapa kali naik mendekati Rp1.200 tetapi kemudian turun.

Area Rp1.200 dapat menjadi resistance.

Trader dapat menggunakan support dan resistance sebagai salah satu bahan untuk menentukan:

  • area beli;
  • target keuntungan;
  • dan risiko.

BEI dalam materi edukasinya untuk pemula juga menyarankan penggunaan analisis teknikal dasar seperti tren, support, dan resistance ketika memilih saham.

7. Jangan Membeli Saham di Puncak Hanya karena FOMO

Ini salah satu kesalahan paling sering dilakukan pemula.

Misalnya saham naik:

Rp1.000 → Rp1.100 → Rp1.200 → Rp1.300.

Anda baru melihat saham tersebut ketika harganya sudah Rp1.300.

Karena takut ketinggalan, Anda langsung membeli.

Beberapa saat kemudian harga justru turun menjadi Rp1.200.

Anda panik.

Kemudian turun lagi menjadi Rp1.100.

Inilah contoh sederhana mengapa FOMO bisa berbahaya.

FOMO atau fear of missing out adalah rasa takut ketinggalan peluang.

Jangan membeli saham hanya karena orang lain sudah mendapatkan keuntungan.

8. Perhatikan Volatilitas

Volatilitas menunjukkan seberapa besar dan cepat harga bergerak.

Contohnya:

Saham A:

Rp1.000 → Rp1.010 → Rp1.005 → Rp1.015

Saham B:

Rp1.000 → Rp1.100 → Rp950 → Rp1.150

Saham B mempunyai pergerakan yang jauh lebih agresif.

Volatilitas tinggi memang dapat memberikan peluang keuntungan lebih besar dalam waktu singkat.

Namun, risikonya juga lebih tinggi.

Karena itu, jangan menganggap saham yang bergerak paling cepat sebagai saham terbaik.

Untuk trader pemula, yang lebih penting adalah memahami pergerakannya dan mampu mengendalikan risiko.

9. Perhatikan Bid dan Offer

Bid dan offer dapat memberikan gambaran mengenai antrean pembeli dan penjual.

Contohnya:

Bid

Offer

Rp995

Rp1.005

Rp990

Rp1.010

Rp985

Rp1.015

Bid menunjukkan harga yang ingin digunakan pembeli.

Offer menunjukkan harga yang ditawarkan penjual.

Semakin aktif antrean transaksi, biasanya semakin mudah trader melihat kondisi permintaan dan penawaran.

Namun, jangan mengambil keputusan hanya berdasarkan bid dan offer.

Antrean dapat berubah dengan cepat.

10. Perhatikan Spread

Spread adalah selisih antara harga bid dan offer.

Contohnya:

Bid = Rp1.000

Offer = Rp1.010

Maka spread-nya adalah Rp10.

Jika spread terlalu lebar, trader dapat menghadapi biaya masuk dan keluar yang secara praktis lebih besar.

Karena itu, spread juga menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan ketika memilih saham untuk trading.

11. Perhatikan Berita dan Sentimen

Harga saham tidak bergerak hanya karena grafik.

Berita perusahaan dan kondisi pasar juga dapat memengaruhi harga.

Contohnya:

  • laporan keuangan;
  • aksi korporasi;
  • pembagian dividen;
  • perubahan manajemen;
  • kontrak bisnis;
  • aturan pemerintah;
  • harga komoditas;
  • suku bunga;
  • kondisi ekonomi;
  • dan sentimen global.

Trader tidak harus membaca semua berita.

Namun, sebelum membeli saham, sebaiknya periksa apakah terdapat berita penting yang dapat memengaruhi pergerakannya.

12. Perhatikan Kondisi Fundamental Perusahaan

Walaupun trading lebih berorientasi pada pergerakan harga, bukan berarti fundamental perusahaan boleh diabaikan.

Minimal pahami:

  • perusahaan bergerak di bidang apa;
  • apakah perusahaan menghasilkan pendapatan;
  • bagaimana laba perusahaan;
  • bagaimana utangnya;
  • apakah bisnisnya sedang berkembang;
  • dan apakah ada masalah besar yang sedang dihadapi.

OJK menjelaskan bahwa analisis fundamental digunakan antara lain untuk menilai kondisi fundamental perusahaan dan harga wajarnya.

Untuk trader jangka pendek, analisis fundamental tidak harus sedalam investor jangka panjang.

Namun, mengetahui bisnis perusahaan tetap membantu.

13. Perhatikan Kapitalisasi Pasar

Kapitalisasi pasar merupakan nilai pasar seluruh saham perusahaan.

Secara sederhana:

Kapitalisasi pasar = jumlah saham beredar × harga saham

Kapitalisasi pasar dapat membantu memberikan gambaran mengenai ukuran perusahaan.

Namun, jangan menjadikan kapitalisasi pasar sebagai satu-satunya dasar memilih saham.

Perusahaan besar tidak otomatis selalu naik.

Perusahaan kecil juga tidak otomatis selalu buruk.

Gunakan kapitalisasi pasar bersama faktor lainnya.

14. Perhatikan Saham yang Sedang Ramai

Trader sering mencari saham yang sedang menjadi perhatian pasar.

Misalnya karena:

  • volume meningkat;
  • ada berita penting;
  • harga menembus resistance;
  • terjadi perubahan tren;
  • atau ada sentimen sektor.

Namun, saham yang ramai bukan berarti harus langsung dibeli.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Mengapa saham ini ramai dan apakah masih ada peluang yang masuk akal?”

15. Perhatikan Sektor Saham

Jangan hanya melihat satu saham.

Lihat juga sektornya.

Misalnya:

  • perbankan;
  • energi;
  • pertambangan;
  • konsumer;
  • teknologi;
  • properti;
  • infrastruktur;
  • kesehatan;
  • dan sektor lainnya.

Jika banyak saham dalam satu sektor bergerak naik, mungkin terdapat sentimen yang memengaruhi sektor tersebut.

Sebaliknya, jika seluruh sektor sedang tertekan, trader perlu lebih berhati-hati.

Cara Memilih Saham untuk Day Trading

Day trading berarti posisi trading biasanya dibuka dan ditutup dalam hari perdagangan yang sama.

Untuk strategi seperti ini, trader umumnya membutuhkan saham yang:

  • likuid;
  • volume aktif;
  • spread relatif efisien;
  • mempunyai pergerakan harga;
  • dan memiliki momentum yang dapat dianalisis.

Contoh sederhana:

Pada pagi hari saham ABCD diperdagangkan Rp1.000.

Harga kemudian naik menjadi Rp1.050.

Jika analisis dan rencana trading mendukung, trader dapat memanfaatkan pergerakan tersebut.

Namun, jika harga justru bergerak tidak sesuai rencana, trader harus mempunyai batas risiko.

Jangan memaksakan trading hanya karena ingin transaksi setiap hari.

Pengertian Support dan Resistance Saham
Pengertian Support dan Resistance pada saham

Cara Memilih Saham untuk Swing Trading

Swing trading biasanya memanfaatkan pergerakan harga dalam beberapa hari hingga beberapa minggu, tergantung strategi trader.

Karena waktu pegang lebih lama dibanding day trading, trader dapat memberikan perhatian lebih besar kepada:

  • tren;
  • support;
  • resistance;
  • volume;
  • pola harga;
  • sentimen;
  • dan kondisi fundamental.

Contohnya:

Harga saham berada di Rp1.000.

Trader melihat tren mulai membaik dan resistance berada di Rp1.100.

Trader kemudian membuat rencana:

Entry: sekitar Rp1.000–Rp1.020

Target: sekitar Rp1.100

Batas risiko: ditentukan berdasarkan level teknikal yang digunakan.

Angka tersebut hanya contoh untuk memahami konsep, bukan rekomendasi membeli saham tertentu.

Cara Memilih Saham untuk Scalping

Scalping merupakan strategi yang berusaha mengambil keuntungan dari pergerakan harga yang relatif kecil dalam waktu sangat singkat.

Karena transaksinya cepat, faktor seperti:

  • likuiditas;
  • spread;
  • volume;
  • kecepatan eksekusi;
  • dan volatilitas

Namun, scalping bukan berarti lebih mudah.

Justru karena pergerakannya cepat, kesalahan kecil dapat berdampak pada hasil trading. Strategi ini sebaiknya tidak menjadi langkah pertama bagi pemula yang belum memahami dasar pasar saham.

Baca: 12 Teknik Scalping Saham Paling Efektif untuk Dapat Cuan (Update Terbaru)

Apakah Saham Murah Bagus untuk Trading?

Belum tentu.

Ini adalah salah satu kesalahpahaman yang sering terjadi.

Misalnya ada saham Rp50.

Anda berpikir:

“Murah sekali. Kalau naik ke Rp100 saya untung 100%.”

Secara matematika memang demikian.

Tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah:

Apakah saham tersebut cukup likuid?

Apakah ada pembeli ketika Anda ingin menjual?

Bagaimana kondisi perusahaan?

Bagaimana tren harganya?

Mengapa harganya berada di Rp50?

Harga rendah bukan jaminan saham tersebut menarik untuk trading.

Apakah Saham Mahal Tidak Bagus untuk Trading?

Juga belum tentu.

Saham dengan harga Rp5.000 atau Rp10.000 tetap bisa diperdagangkan.

Yang perlu diperhatikan bukan hanya harga per lembar, tetapi:

  • jumlah lot yang mampu dibeli;
  • likuiditas;
  • volatilitas;
  • tren;
  • spread;
  • volume;
  • dan risiko.

Jadi, jangan memilih saham hanya berdasarkan apakah harga per lembarnya murah atau mahal.

Contoh Cara Memilih Saham untuk Trading

Misalnya pada suatu hari terdapat tiga saham:

Faktor

Saham A

Saham B

Saham C

Likuiditas

Tinggi

Rendah

Tinggi

Volume

Tinggi

Rendah

Tinggi

Tren

Naik

Turun

Sideways

Spread

Relatif kecil

Lebar

Relatif kecil

Volatilitas

Sedang

Sangat tinggi

Rendah

Berita

Positif

Negatif

Netral

Jika Anda seorang pemula, Anda tidak perlu langsung memilih saham yang pergerakannya paling ekstrem.

Saham A misalnya dapat masuk ke dalam watchlist karena mempunyai likuiditas tinggi, volume aktif, tren naik, dan volatilitas yang masih relatif mudah diamati.

Tetapi tetap harus dilakukan analisis lanjutan sebelum membeli.

Watchlist bukan berarti rekomendasi beli.

Buat Watchlist Saham

Daripada setiap hari melihat ratusan saham, pemula dapat membuat watchlist.

Misalnya hanya memilih 5–10 saham untuk diamati.

Contoh kriteria:

  1. Likuid.
  2. Volume aktif.
  3. Tren jelas.
  4. Tidak sedang mengalami pergerakan yang terlalu kacau.
  5. Ada area support dan resistance.
  6. Tidak ada risiko fundamental atau berita besar yang belum dipahami.
  7. Sesuai dengan modal.

Dengan watchlist, Anda tidak perlu mengejar semua saham yang bergerak.

Gunakan Screening Saham

Jika jumlah saham terlalu banyak, Anda dapat menggunakan stock screener.

Stock screener membantu menyaring saham berdasarkan kriteria tertentu.

Misalnya:

  • harga;
  • volume;
  • perubahan harga;
  • kapitalisasi pasar;
  • PER;
  • PBV;
  • ROE;
  • dan indikator lainnya.

Contohnya Anda ingin mencari saham dengan:

Volume tinggi + tren naik + likuiditas baik.

Hasil penyaringan tersebut kemudian dapat dipelajari lebih lanjut.

Namun, hasil screener bukan berarti saham tersebut otomatis harus dibeli.

Screening hanya membantu mempersempit pilihan.

Kesalahan Menggunakan Analisis Teknikal

Jangan Menggunakan Terlalu Banyak Indikator

Pemula sering berpikir:

“Semakin banyak indikator, semakin akurat.”

Belum tentu.

Jika menggunakan:

  • RSI;
  • MACD;
  • Bollinger Bands;
  • Stochastic;
  • Moving Average;
  • Ichimoku;
  • Fibonacci;
  • dan banyak indikator lainnya

secara bersamaan, Anda justru bisa semakin bingung.

Mulailah dari yang sederhana.

Misalnya:

Tren + volume + support/resistance.

Setelah memahami ketiganya, Anda dapat mempelajari indikator tambahan jika memang dibutuhkan.

Tentukan Risiko Sebelum Membeli

Ini bagian yang sangat penting.

Jangan memilih saham hanya berdasarkan potensi keuntungan.

Tanyakan juga:

“Kalau saya salah, berapa kerugiannya?”

Misalnya modal trading Rp1 juta.

Anda membuat batas risiko maksimal 3%.

Berarti risiko yang direncanakan sekitar:

Rp1.000.000 × 3% = Rp30.000

Angka ini hanya contoh untuk memahami konsep manajemen risiko.

Batas risiko setiap trader dapat berbeda sesuai strategi dan kemampuan finansial.

OJK menekankan bahwa strategi investasi tidak cukup hanya mengejar return, tetapi juga perlu mempertimbangkan pengelolaan risiko, terutama ketika volatilitas pasar meningkat.

Modal kecil dan sedang untuk trading saham. Kuhuni.com

Jangan Masukkan Semua Modal ke Satu Saham

Misalnya Anda mempunyai Rp10 juta.

Kemudian seluruh uang tersebut digunakan untuk membeli satu saham.

Jika harga saham turun 10%, nilai posisi Anda secara kasar turun Rp1 juta sebelum memperhitungkan biaya.

Risiko tersebut tentu berbeda jika modal dibagi ke beberapa posisi.

Namun, diversifikasi juga bukan berarti membeli terlalu banyak saham.

Terlalu banyak saham justru dapat membuat trader sulit memantau semuanya.

Jadi, yang penting adalah menyesuaikan jumlah posisi dengan kemampuan mengelola risiko.

Baca: Cara Main Saham Modal Kecil: Mulai Rp100 Ribu, Rp500 Ribu, atau Rp1 Juta

Buat Rencana Trading Sebelum Membeli

Sebelum membeli, tulis rencana sederhana:

Saham: ABCD

Harga entry: Rp1.000

Target: Rp1.100

Batas risiko: Rp950

Jumlah: 5 lot

Alasan beli: tren naik + volume meningkat + area support bertahan

Dengan cara seperti ini, Anda tahu alasan membeli.

Jika analisis ternyata salah, Anda juga sudah mengetahui kapan harus keluar.

Jangan Memilih Saham Berdasarkan Grup atau Media Sosial

Informasi dari grup saham, media sosial, forum, atau komunitas bisa membantu menambah wawasan.

Tetapi jangan menjadikannya satu-satunya dasar keputusan.

Kalimat seperti:

“Besok saham ini terbang.”

“Pasti ARA.”

“Target 2.000.”

tidak dapat dianggap sebagai jaminan.

BEI dalam edukasinya juga mengingatkan pemula untuk tidak FOMO dan tetap belajar dari laporan keuangan serta berita pasar.

Selalu lakukan pemeriksaan sendiri sebelum membeli.

Kesalahan dalam Memilih Saham untuk Trading

1. Memilih Saham Hanya karena Naik

Harga yang sudah naik tinggi tidak otomatis berarti akan terus naik.

2. Memilih Saham karena Harganya Murah

Harga Rp50 tidak otomatis lebih murah daripada harga Rp5.000.

3. Mengabaikan Likuiditas

Saham sepi dapat menyulitkan ketika ingin keluar.

4. Tidak Melihat Volume

Volume dapat membantu melihat aktivitas perdagangan.

5. Tidak Menentukan Stop Loss

Jika analisis salah, kerugian dapat semakin besar.

6. Mengikuti Rekomendasi Tanpa Analisis

Trader harus memahami alasan membeli saham.

7. Mengejar Saham yang Sudah Terbang

FOMO sering membuat trader membeli ketika harga sudah terlalu jauh bergerak.

8. Menggunakan Seluruh Modal

Satu kesalahan dapat memberikan dampak besar terhadap seluruh modal.

Checklist Cara Memilih Saham untuk Trading

Sebelum memasukkan order Buy, gunakan checklist berikut:

  • Apakah saham cukup likuid?
  • Apakah volume perdagangan aktif?
  • Bagaimana tren harganya?
  • Di mana support?
  • Di mana resistance?
  • Bagaimana spread bid dan offer?
  • Apakah volatilitasnya sesuai dengan strategi?
  • Apakah ada berita penting?
  • Bagaimana kondisi fundamental perusahaan?
  • Apakah sektor saham sedang kuat atau lemah?
  • Di mana harga entry?
  • Di mana target profit?
  • Di mana batas kerugian?
  • Berapa lot yang akan dibeli?
  • Apakah keputusan berdasarkan analisis atau FOMO?

Jika sebagian besar pertanyaan tersebut belum bisa dijawab, lebih baik jangan terburu-buru membeli.

Berapa Saham yang Sebaiknya Masuk Watchlist?

Tidak ada angka yang wajib.

Untuk pemula, watchlist yang terlalu panjang justru dapat membingungkan.

Misalnya mulai dengan:

5–10 saham.

Amati saham tersebut setiap hari.

Lihat:

  • bagaimana harga bergerak;
  • bagaimana volume berubah;
  • bagaimana saham bereaksi terhadap berita;
  • bagaimana support dan resistance bekerja;
  • dan apakah pola yang Anda gunakan benar-benar membantu.

Setelah semakin terbiasa, jumlah saham yang diamati dapat disesuaikan.

Apakah Saham Big Caps Cocok untuk Trading?

Saham big caps dapat menjadi salah satu pilihan yang dipelajari trader karena banyak di antaranya mempunyai likuiditas yang baik.

Namun, big caps tidak berarti pasti naik.

Harga tetap dapat turun.

Oleh karena itu, ukuran perusahaan tetap harus dikombinasikan dengan:

  • tren;
  • volume;
  • valuasi;
  • sentimen;
  • kondisi pasar;
  • dan strategi trading.

Apakah Saham Gorengan Cocok untuk Pemula?

Istilah “saham gorengan” biasanya digunakan masyarakat untuk menggambarkan saham yang pergerakannya sangat spekulatif atau tidak wajar menurut persepsi pasar.

Saham dengan pergerakan ekstrem dapat memberikan peluang keuntungan besar.

Tetapi risiko kerugiannya juga dapat sangat besar.

Untuk pemula, mengejar saham hanya karena pergerakannya ekstrem bukanlah cara yang bijak.

Lebih baik belajar dari saham yang pergerakannya lebih mudah dipahami dan likuiditasnya memadai.

Cara Memilih Saham untuk Trading dalam 5 Langkah

Jika semua penjelasan di atas diringkas, pemula dapat menggunakan lima langkah sederhana:

1. Cari saham yang likuid.

Jangan mulai dari saham yang sulit diperjualbelikan.

2. Lihat volume dan tren.

Cari tahu apakah saham sedang aktif dan bagaimana arah pergerakannya.

3. Tentukan support dan resistance.

Gunakan level tersebut untuk menyusun rencana.

4. Cek berita dan kondisi perusahaan.

Jangan membeli saham tanpa mengetahui apa yang sedang terjadi.

5. Tentukan risiko sebelum entry.

Ketahui berapa kerugian yang sanggup ditanggung sebelum membeli.

Ingat:

Memilih saham bukan berarti mencari saham yang pasti naik.

Memilih saham berarti mencari peluang yang masuk akal dengan risiko yang bisa dikendalikan.

Baca:

  1. Apa Itu Trading? Pengertian Trading untuk Pemula
  2. Apa Itu Trading Saham? Pengertian, Cara Kerja dan Contohnya untuk Pemula
  3. Cara Trading Saham untuk Pemula: Panduan Lengkap dari Nol
  4. Panduan Lengkap Investasi Saham untuk Pemula 

Kesimpulan

Cara memilih saham untuk trading dimulai dari memahami bahwa tidak semua saham cocok untuk semua trader.

Pemula sebaiknya tidak memilih saham hanya karena harganya murah, sedang naik, atau sedang ramai dibicarakan di media sosial.

Beberapa faktor yang dapat diperhatikan adalah likuiditas, volume perdagangan, tren, support, resistance, volatilitas, spread bid-offer, berita, sektor, serta kondisi fundamental perusahaan.

Dari semua faktor tersebut, likuiditas menjadi salah satu hal penting, karena trader membutuhkan saham yang relatif mudah untuk dibeli dan dijual. BEI menjelaskan bahwa saham likuid ditandai antara lain oleh aktivitas perdagangan, antrean bid-offer, dan volume yang besar.

Setelah menemukan kandidat saham, jangan langsung membeli.

Masukkan ke dalam watchlist.

Amati pergerakannya.

Tentukan harga entry.

Tentukan target keuntungan.

Tentukan batas kerugian.

Baru kemudian buat keputusan.

Dan yang paling penting:

Jangan mencari saham yang pasti naik. Cari peluang trading yang risikonya dapat Anda pahami dan kendalikan.

Dengan cara berpikir seperti ini, pemula tidak hanya belajar cara memilih saham, tetapi juga belajar menjadi trader yang lebih disiplin.

Baca:

  1. 89 Daftar Aplikasi Trading Saham Resmi di Indonesia
  2. 20 Istilah Penting Dalam Saham yang Wajib Diketahui Pemula
  3. Daftar Kode Broker Asing dan Lokal di Indonesia: Resmi Terdaftar di BEI dan OJK (Update Terbaru)
  4.  15 Aplikasi Trading Terbaik di Indonesia: Pilihan untuk Pemula dan Trader
  5. 25 Aplikasi Trading Terpercaya dan Resmi di Indonesia yang Terdaftar OJK dan BEI

FAQ Cara Memilih Saham untuk Trading

Bagaimana cara memilih saham untuk trading?

Pilih saham dengan memperhatikan likuiditas, volume perdagangan, tren harga, support, resistance, volatilitas, spread bid-offer, berita, kondisi sektor, dan risiko.

Apa ciri-ciri saham yang bagus untuk trading?

Salah satu cirinya adalah memiliki likuiditas dan aktivitas perdagangan yang baik. Namun, saham yang bagus untuk trading tetap bergantung pada strategi dan kondisi pasar.

Apakah saham murah bagus untuk trading?

Belum tentu. Harga saham yang murah tidak otomatis berarti saham tersebut memiliki likuiditas, fundamental, atau peluang trading yang baik.

Apakah saham yang sedang naik bagus untuk dibeli?

Belum tentu. Saham yang sudah naik tinggi tetap dapat mengalami koreksi. Trader perlu melihat tren, volume, support, resistance, dan risiko sebelum membeli.

Apa indikator untuk memilih saham trading?

Beberapa indikator yang dapat digunakan antara lain volume, moving average, RSI, MACD, support, resistance, dan indikator teknikal lainnya. Pemula sebaiknya tidak menggunakan terlalu banyak indikator sekaligus.

Bagaimana cara memilih saham untuk day trading?

Perhatikan saham yang likuid, memiliki volume aktif, spread relatif efisien, serta pergerakan harga yang sesuai dengan strategi day trading.

Bagaimana cara memilih saham untuk swing trading?

Perhatikan tren, support, resistance, volume, sentimen, serta kondisi fundamental perusahaan karena posisi dapat ditahan lebih lama.

Berapa saham yang sebaiknya masuk watchlist?

Tidak ada jumlah wajib. Pemula dapat mulai dengan sekitar 5–10 saham agar lebih mudah dipantau dan dipelajari.

Apakah saham big caps cocok untuk trading?

Bisa menjadi salah satu pilihan untuk dipelajari, terutama jika likuiditasnya baik. Namun, big caps tetap memiliki risiko penurunan harga.

Apakah memilih saham harus menggunakan analisis fundamental?

Tidak selalu dengan kedalaman yang sama seperti investasi jangka panjang. Namun, memahami bisnis dan kondisi dasar perusahaan dapat membantu trader mengambil keputusan yang lebih baik.

Disclaimer: Artikel ini bertujuan sebagai informasi edukasi dan bukan  rekomendasi atau perintah jual atau beli saham tertentu. Investasi saham memiliki risiko fluktuasi harga. Redaksi kuhuni.com tidak bertanggung jawab atas keputusan investasi pembaca.

0 comments

Posting Komentar

Terbaru

      Konten Pilihan