PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WKST) mencatat pendapatan usaha sebesar Rp8,13 triliun pada sembilan bulan pertama 2026. Angka ini meningkat 53,7% dibandingkan Rp5,29 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski pendapatan tumbuh signifikan, perusahaan konstruksi pelat merah tersebut masih membukukan rugi periode berjalan sebesar Rp3,26 triliun hingga 30 September 2026. Kerugian itu menyusut dibandingkan Rp3,58 triliun pada sembilan bulan pertama 2025, tetapi tekanan terhadap kinerja keuangan Waskita Karya masih terlihat.
Laporan keuangan konsolidasian interim untuk periode yang berakhir pada 30 September 2026 juga menunjukkan perubahan pada struktur aset, liabilitas, dan ekuitas perusahaan. Total aset meningkat menjadi Rp73,07 triliun, sementara total liabilitas naik menjadi Rp72,03 triliun dan total ekuitas turun menjadi Rp1,04 triliun.
![]() |
| Jalan Tol Bali Madura. Sumber foto: Waskita Karya |
Pendapatan Waskita Karya Naik 53,7%
Pendapatan usaha Waskita Karya mencapai Rp8,125 triliun pada periode Januari–September 2026, meningkat dari Rp5,285 triliun pada periode yang sama 2025. Kenaikan tersebut setara dengan pertumbuhan sekitar 53,7% secara tahunan.
Namun, pertumbuhan pendapatan belum diikuti peningkatan laba bruto. Laba bruto perusahaan tercatat Rp959,44 miliar, sedikit lebih rendah dibandingkan Rp979,97 miliar pada sembilan bulan pertama tahun sebelumnya.
Perbedaan ini berkaitan dengan kenaikan beban pokok pendapatan. Sepanjang sembilan bulan 2026, beban pokok pendapatan mencapai Rp7,166 triliun, dibandingkan Rp4,305 triliun pada periode yang sama 2025.
| Pos Laporan Keuangan | 9 Bulan 2026 | 9 Bulan 2025 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Pendapatan usaha | Rp8,125 triliun | Rp5,285 triliun | +53,7% |
| Laba bruto | Rp959,44 miliar | Rp979,97 miliar | -2,1% |
| Rugi sebelum pajak | Rp3,247 triliun | Rp3,579 triliun | Rugi turun 9,3% |
| Rugi periode berjalan | Rp3,256 triliun | Rp3,582 triliun | Rugi turun 9,1% |
| Rugi komprehensif | Rp3,260 triliun | Rp3,576 triliun | Rugi turun 8,8% |
Laba Bruto Menurun di Tengah Kenaikan Pendapatan
Kenaikan pendapatan usaha belum menghasilkan pertumbuhan laba bruto. Pada sembilan bulan 2026, laba bruto Waskita Karya turun sekitar 2,1% menjadi Rp959,44 miliar dari Rp979,97 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Beban pokok pendapatan meningkat menjadi Rp7,166 triliun dari Rp4,305 triliun. Dengan demikian, sebagian besar pendapatan usaha terserap untuk menutup beban pokok pendapatan.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa kenaikan pendapatan saja belum cukup untuk memperbaiki hasil usaha. Kemampuan perusahaan menjaga beban operasional dan biaya pendanaan juga menjadi faktor penting dalam pemulihan kinerja keuangan.
Beban Keuangan Waskita Karya Masih Rp2,79 Triliun
Beban keuangan masih menjadi salah satu komponen biaya besar dalam laporan keuangan Waskita Karya. Pada Januari–September 2026, beban keuangan tercatat sebesar Rp2,791 triliun.
Nilai tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan Rp2,837 triliun pada periode yang sama 2025, atau turun sekitar 1,6%. Meski demikian, beban keuangan masih jauh melampaui laba bruto perusahaan yang berada di bawah Rp1 triliun.
Selain beban keuangan, Waskita Karya mencatat bagian rugi bersih dari entitas asosiasi dan ventura bersama sebesar Rp149,41 miliar pada sembilan bulan pertama 2026.
Beban keuangan yang besar menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam menilai kemampuan perusahaan memperbaiki profitabilitas. Pertumbuhan pendapatan perlu diikuti dengan perbaikan margin dan pengelolaan biaya agar berdampak lebih kuat terhadap hasil akhir.
Rugi Bersih Waskita Karya Turun Menjadi Rp3,26 Triliun
Waskita Karya membukukan rugi sebelum pajak sebesar Rp3,247 triliun pada sembilan bulan 2026. Angka ini lebih rendah dibandingkan rugi sebelum pajak Rp3,579 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Setelah memperhitungkan beban pajak penghasilan, rugi periode berjalan tercatat sebesar Rp3,256 triliun, turun dari Rp3,582 triliun pada sembilan bulan pertama 2025. Secara nominal, kerugian berkurang sekitar Rp325,68 miliar.
Meski terdapat perbaikan, Waskita Karya masih belum mencatatkan laba. Penurunan rugi tersebut perlu dilihat bersama perkembangan pendapatan, laba bruto, beban keuangan, dan kondisi neraca perusahaan.
Rugi yang Diatribusikan kepada Pemilik Perusahaan
Dari total rugi periode berjalan, sebesar Rp2,872 triliun diatribusikan kepada pemilik perusahaan. Sementara itu, rugi yang diatribusikan kepada kepentingan non-pengendali mencapai Rp384,06 miliar.
| Keterangan | 9 Bulan 2026 | 9 Bulan 2025 |
|---|---|---|
| Rugi periode berjalan | Rp3.256.049.730.045 | Rp3.581.734.407.336 |
| Rugi pemilik perusahaan | Rp2.871.992.961.364 | Rp3.174.737.188.143 |
| Rugi kepentingan non-pengendali | Rp384.056.768.681 | Rp406.997.219.193 |
Total Aset Waskita Karya Naik Menjadi Rp73,07 Triliun
Per 30 September 2026, total aset Waskita Karya mencapai Rp73,070 triliun, meningkat dibandingkan Rp70,734 triliun pada 31 Desember 2025. Kenaikannya sekitar 3,3%.
Namun, perubahan aset menunjukkan arah yang berbeda antara aset lancar dan aset tidak lancar. Aset lancar turun menjadi Rp13,178 triliun dari Rp16,892 triliun pada akhir 2025. Sebaliknya, aset tidak lancar meningkat menjadi Rp59,892 triliun dari Rp53,842 triliun.
| Pos Aset | 30 September 2026 | 31 Desember 2025 |
|---|---|---|
| Aset lancar | Rp13,178 triliun | Rp16,892 triliun |
| Aset tidak lancar | Rp59,892 triliun | Rp53,842 triliun |
| Total aset | Rp73,070 triliun | Rp70,734 triliun |
Kas dan Setara Kas Turun 65,9%
Kas dan setara kas Waskita Karya tercatat sebesar Rp1,503 triliun per 30 September 2026. Jumlah tersebut turun dari Rp4,408 triliun pada 31 Desember 2025.
Secara nominal, kas dan setara kas berkurang sekitar Rp2,905 triliun atau 65,9% dibandingkan posisi akhir tahun sebelumnya.
Selain kas dan setara kas, perusahaan memiliki kas yang dibatasi penggunaannya sebesar Rp1,168 triliun per September 2026. Angka tersebut turun dari Rp1,335 triliun pada akhir 2025.
Penurunan saldo kas menjadi salah satu aspek penting dalam membaca kondisi keuangan perusahaan, terutama ketika liabilitas masih besar dan perusahaan terus mencatat kerugian. Saldo kas pada satu tanggal perlu dibaca bersama laporan arus kas dan rincian kewajiban untuk memahami pergerakan dana secara menyeluruh.
Hak Pengusahaan Jalan Tol Mencapai Rp42,07 Triliun
Hak Pengusahaan Jalan Tol (HPJT) menjadi salah satu komponen besar dalam aset tidak lancar Waskita Karya. Per 30 September 2026, nilai HPJT tercatat Rp42,065 triliun, meningkat dari Rp32,149 triliun pada akhir 2025.
Goodwill juga meningkat, dari Rp2,515 triliun pada 31 Desember 2025 menjadi Rp3,885 triliun per 30 September 2026.
Kenaikan kedua pos tersebut menjadi bagian dari perubahan komposisi aset perusahaan. Namun, nilai aset yang besar tidak otomatis mencerminkan ketersediaan kas untuk memenuhi kewajiban jangka pendek karena karakter dan likuiditas setiap jenis aset berbeda.
Total Liabilitas Waskita Karya Naik Menjadi Rp72,03 Triliun
Total liabilitas Waskita Karya mencapai Rp72,032 triliun per 30 September 2026, meningkat dari Rp67,062 triliun pada 31 Desember 2025.
Perubahan juga terlihat pada komposisi liabilitas. Liabilitas jangka pendek turun dari Rp33,104 triliun menjadi Rp25,658 triliun. Sementara itu, liabilitas jangka panjang meningkat dari Rp33,958 triliun menjadi Rp46,374 triliun.
| Liabilitas | 30 September 2026 | 31 Desember 2025 |
|---|---|---|
| Liabilitas jangka pendek | Rp25,658 triliun | Rp33,104 triliun |
| Liabilitas jangka panjang | Rp46,374 triliun | Rp33,958 triliun |
| Total liabilitas | Rp72,032 triliun | Rp67,062 triliun |
Dengan total liabilitas yang meningkat dan aset sebesar Rp73,070 triliun, selisih antara total aset dan total liabilitas menjadi relatif tipis. Kondisi ini sejalan dengan posisi ekuitas perusahaan yang turun tajam pada akhir September 2026.
Ekuitas Waskita Karya Turun Menjadi Rp1,04 Triliun
Total ekuitas Waskita Karya per 30 September 2026 tercatat sebesar Rp1,039 triliun, turun dari Rp3,672 triliun pada akhir 2025.
Ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik perusahaan berada pada posisi negatif Rp3,343 triliun, dibandingkan negatif Rp1,032 triliun pada 31 Desember 2025. Sementara itu, kepentingan non-pengendali tercatat sebesar Rp4,382 triliun, turun dari Rp4,704 triliun.
| Komponen Ekuitas | 30 September 2026 | 31 Desember 2025 |
|---|---|---|
| Ekuitas pemilik perusahaan | -Rp3,343 triliun | -Rp1,032 triliun |
| Kepentingan non-pengendali | Rp4,382 triliun | Rp4,704 triliun |
| Total ekuitas | Rp1,039 triliun | Rp3,672 triliun |
Penurunan ekuitas ini menjadi salah satu sorotan utama dalam laporan keuangan WKST. Ekuitas pemilik perusahaan yang negatif menunjukkan bahwa nilai tercatat ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk berada di bawah nol. Kondisi tersebut perlu dicermati bersama perkembangan kerugian dan struktur liabilitas.
Rugi per Saham WKST Membaik
Rugi per saham dasar Waskita Karya pada sembilan bulan 2026 tercatat sebesar Rp99,70 per saham. Angka tersebut membaik dibandingkan rugi per saham dasar Rp110,21 per saham pada periode yang sama 2025.
Perbaikan rugi per saham sejalan dengan penurunan rugi periode berjalan. Namun, perusahaan masih mencatat kerugian sehingga angka tersebut belum menunjukkan kembalinya Waskita Karya ke posisi laba.
Kesimpulan Kinerja Keuangan Waskita Karya 9 Bulan 2026
Kinerja keuangan Waskita Karya pada sembilan bulan 2026 memperlihatkan pertumbuhan pendapatan yang kuat, tetapi belum diikuti pemulihan profitabilitas. Pendapatan usaha naik 53,7% menjadi Rp8,125 triliun, sedangkan rugi periode berjalan turun menjadi Rp3,256 triliun dari Rp3,582 triliun.
Di sisi neraca, total aset meningkat menjadi Rp73,070 triliun, tetapi total liabilitas juga naik menjadi Rp72,032 triliun. Pada saat yang sama, total ekuitas menyusut menjadi Rp1,039 triliun dan ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik perusahaan tercatat negatif Rp3,343 triliun.
Bagi investor yang mencermati saham WKST, indikator penting untuk dipantau meliputi keberlanjutan pertumbuhan pendapatan, kemampuan menekan beban pokok dan beban keuangan, perkembangan saldo kas, serta perbaikan struktur liabilitas dan ekuitas. Pertumbuhan pendapatan menjadi perkembangan positif, tetapi pemulihan keuangan perusahaan juga bergantung pada kemampuannya memperbaiki hasil usaha dan menjaga kondisi neraca.
Serial Belajar Saham:
- Apa Itu Trading? Pengertian Trading untuk Pemula
- Manajemen Risiko dalam Trading: Panduan Lengkap untuk Pemula
- Apa Itu Trading Saham? Pengertian, Cara Kerja dan Contohnya untuk Pemula
- Cara Menjual Saham untuk Pemula: Panduan Lengkap dari Nol
- 20 Istilah Penting Dalam Saham yang Wajib Diketahui Pemula
- Panduan Lengkap Investasi Saham untuk Pemula
- Cara Trading Saham untuk Pemula: Panduan Lengkap dari Nol
- Cara Main Saham Modal Kecil: Mulai Rp100 Ribu, Rp500 Ribu, atau Rp1 Juta
- 25 Aplikasi Trading Terpercaya dan Resmi di Indonesia yang Terdaftar OJK dan BEI
- Daftar Kode Broker Asing dan Lokal di Indonesia: Resmi Terdaftar di BEI dan OJK
- 12 Teknik Scalping Saham Paling Efektif untuk Dapat Cuan
- Analisis Teknikal untuk Pemula: Cara Membaca Grafik Saham dari Nol
- Cara Membaca Grafik Saham untuk Pemula: Panduan Lengkap dari Nol
- Apa Itu Support dan Resistance? Pengertian, Cara Menentukan dan Contohnya
- Cara Membaca Candlestick Saham: Panduan Lengkap untuk Pemula
- Apa Itu Volume Saham? Pengertian, Cara Membaca dan Contohnya
- Apa Itu Moving Average? Pengertian, Cara Membaca, Rumus dan Contohnya
- Apa Itu RSI? Pengertian, Cara Membaca dan Menggunakan RSI Saham
- Apa Itu Stop Loss? Pengertian, Cara Menentukan dan Contohnya
- Apa Itu Take Profit? Pengertian, Cara Menggunakan dan Contohnya
- Apa Itu Bid dan Offer dalam Saham? Pengertian, Cara Membaca dan Contohnya
- Berapa Modal Minimal untuk Trading Saham?
- Apa Itu Lot dalam Saham? Pengertian, Cara Menghitung dan Contohnya
- Apa Itu Margin Trading? Pengertian, Cara Kerja, Contoh dan Risikonya
- Alat Bantu Kalkulator Average Down Saham Online
FAQ Laporan Keuangan Waskita Karya 2026
Berapa pendapatan Waskita Karya pada 9 bulan 2026?
Pendapatan usaha Waskita Karya mencapai Rp8,125 triliun pada Januari–September 2026, meningkat sekitar 53,7% dibandingkan Rp5,285 triliun pada periode yang sama 2025.
Berapa rugi bersih Waskita Karya pada 9 bulan 2026?
Waskita Karya mencatat rugi periode berjalan sebesar Rp3,256 triliun hingga 30 September 2026, turun dari Rp3,582 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Apakah kerugian Waskita Karya membaik?
Ya. Rugi periode berjalan turun sekitar Rp325,68 miliar secara tahunan. Meski demikian, perusahaan masih membukukan kerugian pada sembilan bulan pertama 2026.
Berapa total aset Waskita Karya per September 2026?
Total aset Waskita Karya per 30 September 2026 tercatat sebesar Rp73,070 triliun, naik dari Rp70,734 triliun pada 31 Desember 2025.
Berapa total liabilitas Waskita Karya per September 2026?
Total liabilitas Waskita Karya mencapai Rp72,032 triliun per 30 September 2026, meningkat dari Rp67,062 triliun pada akhir 2025.
Berapa ekuitas Waskita Karya per September 2026?
Total ekuitas Waskita Karya tercatat sebesar Rp1,039 triliun per 30 September 2026. Ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik perusahaan berada pada posisi negatif Rp3,343 triliun.

0 comments
Posting Komentar