![]() |
| Trading Saham. Gambar oleh stocksnap /pixabay |
Pernah melihat tulisan di grup WhatsApp seperti ini?
"Besok saham DADA terbang!"
Atau di Telegram:
"Ada info orang
dalam. Katanya perusahaan ini mau dapat proyek besar."
Kemudian ada yang
menambahkan:
"Gas sekarang
sebelum ketinggalan!"
Harga saham pun mulai
naik.
Melihat grafik hijau,
kita ikut membeli.
Awalnya senang.
Harga naik 3%.
Lalu 5%.
Kita mulai
membayangkan keuntungan.
Tetapi tiba-tiba harga
berbalik.
Turun 5%.
Turun lagi 10%.
Besoknya turun lagi.
Kita mulai panik.
Mau jual rugi, rasanya
sayang.
Akhirnya muncul
kalimat yang sangat sering terdengar di pasar saham:
"Ya sudah,
saya simpan saja. Sekarang saya jadi investor jangka panjang."
Padahal, kalau jujur,
sebenarnya bukan menjadi investor.
Tetapi nyangkut.
Inilah salah satu
kesalahan paling umum yang dilakukan trader saham.
Awalnya Mau Trading, Akhirnya Jadi Investor
Kita mulai dari sebuah
cerita sederhana.
Misalnya, ada trader
bernama Andi.
Andi punya uang Rp10
juta.
Tujuannya jelas: trading
saham.
Dia masuk ke sebuah
saham karena melihat pesan di grup Telegram.
Pesannya kira-kira
seperti ini:
"XYZ akan ada
aksi korporasi besar. Target 2.000. Sekarang masih 1.500. Jangan sampai
ketinggalan!"
Andi tidak tahu siapa
yang mengirim informasi tersebut.
Dia juga tidak tahu
sumbernya dari mana.
Tetapi karena banyak
anggota grup ikut membahas saham tersebut, Andi merasa informasi itu benar.
Akhirnya dia membeli
saham XYZ di harga Rp1.500.
Beberapa jam kemudian
harga naik menjadi Rp1.550.
Andi senang.
"Benar nih
informasinya!"
Keesokan harinya harga
justru turun.
Rp1.500.
Rp1.450.
Rp1.400.
Andi mulai berpikir:
"Mungkin besok
naik lagi."
Ternyata besok turun
menjadi Rp1.300.
Kerugian sudah sekitar
13%.
Andi mulai bingung.
Kalau dijual sekarang,
kerugiannya sekitar Rp1,3 juta.
Akhirnya dia memilih
tidak menjual.
Dia berkata:
"Saya simpan
saja. Anggap investasi."
Di sinilah
masalahnya.
Andi tidak pernah
membeli saham itu untuk investasi.
Dia membelinya untuk
trading.
Karena harga turun,
rencana trading berubah menjadi investasi.
Apa Bedanya Trader dan Investor?
Sebenarnya sederhana.
Trader membeli
karena melihat peluang pergerakan harga.
Investor membeli
karena percaya pada bisnis perusahaan dalam jangka panjang.
Misalnya harga saham
ABC Rp1.000.
Trader mungkin
berpikir:
"Kalau naik ke
Rp1.100, saya jual."
Berarti targetnya
berdasarkan pergerakan harga.
Sementara investor
mungkin berpikir:
"Perusahaan ini
labanya tumbuh, utangnya terkendali, bisnisnya bagus, dan saya yakin lima tahun
lagi perusahaan ini akan lebih besar."
Berarti alasan membeli
berdasarkan bisnis perusahaan.
Jadi ketika saham
turun, keduanya juga berbeda.
Trader harus bertanya:
"Apakah alasan
trading saya masih berlaku?"
Investor harus
bertanya:
"Apakah bisnis
perusahaan masih bagus?"
Masalah terjadi ketika
seseorang membeli sebagai trader, tetapi ketika rugi tiba-tiba menggunakan
alasan investor.
"Saya Jadi
Investor" Kadang Hanya Alasan karena Rugi
Ini bagian yang sering
tidak enak untuk dibicarakan.
Ada orang yang
mengatakan:
"Saya bukan
nyangkut. Saya memang investasi jangka panjang."
Padahal tiga hari
sebelumnya dia membeli saham karena ada rumor di grup Telegram.
Kalau memang sejak
awal ingin investasi, seharusnya sebelum membeli dia sudah mempelajari
perusahaan.
Misalnya:
- perusahaan bergerak di bidang apa;
- berapa laba perusahaan;
- apakah labanya tumbuh;
- berapa utangnya;
- bagaimana arus kasnya;
- bagaimana prospek bisnisnya;
- apakah harga sahamnya masuk akal.
Kalau semua itu tidak
dilakukan, kemudian setelah harga turun baru berkata "saya investor
jangka panjang", itu bukan strategi investasi.
Itu lebih mirip mengubah
nama kerugian menjadi investasi.
Kenapa Rumor Sangat Berbahaya?
Karena rumor biasanya
datang ketika kita tidak punya cukup informasi.
Contohnya begini.
Di grup WhatsApp
muncul pesan:
"Katanya
perusahaan ABC akan mendapatkan proyek Rp10 triliun."
Kita langsung
tertarik.
Masalahnya, kata "katanya"
tidak bisa dipakai untuk membeli saham.
Kita tidak tahu:
- siapa yang mengatakan;
- dari mana informasinya;
- apakah proyek benar-benar ada;
- apakah perusahaan sudah mendapat kontrak;
- berapa keuntungan yang akan diperoleh;
- kapan proyek dimulai;
- apakah informasi tersebut sudah diumumkan
secara resmi.
Tetapi karena
terdengar menarik, kita langsung membeli.
Inilah yang sering
terjadi.
Rumor masuk lebih
cepat daripada analisis.
Grup Telegram dan WhatsApp Bukan Masalah
Yang perlu dipahami,
bukan berarti semua grup Telegram atau WhatsApp itu buruk.
Ada banyak grup yang
isinya edukasi.
Ada juga orang yang
berbagi analisis dengan serius.
Masalahnya adalah
ketika kita menelan informasi mentah-mentah.
Misalnya seseorang
menulis:
"BBBR akan naik.
Ada bandar masuk!"
Kita jangan langsung
bertanya:
"Beli di harga
berapa?"
Pertanyaan pertama
seharusnya:
"Dasarnya
apa?"
Kalau jawabannya:
"Katanya teman
saya."
Kita harus berhenti.
Karena kalau kita
membeli hanya berdasarkan informasi yang tidak jelas, kita sebenarnya sedang meminjam
keyakinan orang lain untuk mempertaruhkan uang sendiri.
Media Sosial Juga Bisa Membuat Kita Terjebak
Sekarang informasi
saham sangat mudah ditemukan.
Buka TikTok.
Ada orang membahas
saham.
Buka Instagram.
Ada yang menunjukkan
keuntungan trading.
Buka YouTube.
Ada yang mengatakan:
"Saham ini bisa
10 kali lipat!"
Buka X atau media
sosial lainnya.
Ada orang yang
mengatakan:
"Besok saham ini
akan terbang!"
Masalahnya, kita
sering hanya melihat bagian akhirnya.
Kita melihat orang
tersebut mendapatkan keuntungan.
Kita tidak melihat
berapa kali dia salah.
Kita juga tidak tahu
apakah dia benar-benar membeli saham tersebut.
Bahkan kita tidak tahu
apakah tujuan kontennya memang memberikan edukasi atau sekadar mendapatkan
penonton.
Contoh sederhana
Ada seseorang membuat
video:
"Saya cuan Rp20
juta dari saham ABC!"
Kita melihat hasilnya.
Tetapi kita tidak
melihat mungkin sebelum itu dia mengalami kerugian Rp30 juta.
Atau mungkin modalnya
Rp500 juta, sehingga keuntungan Rp20 juta hanya sekitar 4%.
Kalau kita hanya
melihat angka Rp20 juta, kita bisa mendapatkan gambaran yang salah.
Media sosial sering
menunjukkan hasil, tetapi tidak selalu menunjukkan seluruh proses.
Masalah Terbesar Bukan Rumornya
Sebenarnya masalah
terbesar bukan rumor.
Masalahnya adalah kita
membeli saham tanpa memiliki alasan sendiri.
Bayangkan kita membeli
rumah.
Apakah kita akan
membeli rumah hanya karena tetangga berkata:
"Rumah ini nanti
pasti mahal."
Tentu tidak.
Kita mungkin akan
melihat:
- lokasi;
- kondisi bangunan;
- harga;
- akses jalan;
- lingkungan;
- sertifikat;
- potensi kawasan.
Saham seharusnya juga
begitu.
Saham bukan sekadar
kode seperti BBRI, BBCA, ANTM atau lainnya.
Di balik kode tersebut
ada perusahaan dan bisnis nyata.
Kalau kita membeli
saham, sebenarnya kita sedang membeli sebagian kecil dari sebuah perusahaan.
Karena itu, kita harus
tahu apa yang kita beli.
Baca:
Aplikasi Trading Saham Terbaik 2026 Terdaftar Resmi di OJK
Jangan Membeli Saham Hanya karena Takut Ketinggalan
Ada satu penyakit yang
sangat sering terjadi pada trader pemula:
FOMO.
Fear of Missing Out.
Artinya, takut
ketinggalan.
Misalnya kita melihat
saham ABC naik 10%.
Kita merasa:
"Waduh, kalau
tidak beli sekarang saya ketinggalan."
Akhirnya kita membeli.
Padahal harga sudah
naik jauh.
Kemudian harga
berhenti naik.
Lalu turun.
Kita panik.
Padahal kalau kita
tidak membeli karena FOMO, tidak ada kerugian sama sekali.
Tidak membeli saham
juga merupakan keputusan.
Kita tidak harus
memiliki saham setiap hari.
Pasar saham buka
hampir setiap hari perdagangan.
Peluang akan selalu
muncul lagi.
Baca: Cara Mendapatkan Dividen dari Saham: Panduan Lengkap untuk Investor Pemula
Kalau Sudah Terlanjur Nyangkut, Apa yang Harus Dilakukan?
Ini pertanyaan
penting.
Misalnya kita sudah
membeli saham karena rumor.
Kemudian saham turun
20%.
Jangan langsung
berkata:
"Saya jadi
investor."
Berhenti sebentar.
Lalu tanyakan tiga
hal.
Pertama: Kenapa
saya membeli saham ini?
Apakah karena
fundamental?
Atau karena rumor?
Atau karena seseorang
di Telegram mengatakan akan naik?
Kalau jawabannya hanya
rumor, berarti kita harus mengakui bahwa alasan awalnya memang lemah.
Kedua: Kalau hari
ini saya belum punya saham ini, apakah saya masih mau membelinya?
Ini pertanyaan yang
sangat bagus.
Bayangkan uang kita
kembali menjadi cash.
Kemudian saham
tersebut sekarang berada di harga yang sama.
Apakah kita akan
membeli?
Kalau jawabannya tidak,
mengapa kita masih mempertahankannya?
Ketiga: Apa alasan
saya tetap memegang saham ini?
Kalau jawabannya:
"Karena sudah
rugi."
Itu bukan alasan
investasi.
Kerugian masa lalu
tidak otomatis membuat saham tersebut layak dipertahankan.
Baca:5 Trik Pemula Trading Saham agar Tidak Rugi Sejak Hari Pertama
Jangan Mengubah Trading yang Salah Menjadi Investasi
Inilah pelajaran
paling penting.
Trading yang gagal
tidak otomatis berubah menjadi investasi.
Kalau kita membeli
saham karena berharap naik 10% dalam beberapa hari, lalu harga turun 30%, kita
tidak bisa begitu saja mengatakan:
"Saya pegang lima
tahun."
Boleh saja.
Tetapi sebelum itu,
kita harus melakukan analisis ulang.
Apakah perusahaannya
memang layak dimiliki selama lima tahun?
Kalau iya, kita
memiliki alasan baru untuk menjadi investor.
Kalau tidak, kita
sebenarnya hanya sedang menunggu harga kembali ke modal.
Dan itu dua hal yang
berbeda.
Kesalahan Ini Bisa
Terjadi pada Siapa Saja
Tidak perlu malu kalau
pernah mengalaminya.
Hampir semua orang
yang pernah masuk pasar saham pasti pernah membuat keputusan yang salah.
Masalahnya bukan
pernah salah.
Masalahnya adalah tidak
belajar dari kesalahan tersebut.
Kalau hari ini kita
nyangkut karena rumor, kita bisa belajar.
Mulai sekarang,
sebelum membeli saham, biasakan bertanya:
"Kenapa saya
membeli saham ini?"
Kemudian tulis
jawabannya.
Misalnya:
"Saya membeli
karena laba perusahaan tumbuh, valuasinya masih masuk akal dan saya melihat
prospek bisnisnya bagus."
Atau:
"Saya membeli
untuk trading karena ada pola harga tertentu dan saya sudah menentukan batas
kerugian."
Dengan begitu, ketika
harga turun, kita tahu apa yang harus dilakukan.
Kita tidak perlu
membuat alasan baru.
Baca:Rahasia Trading Saham yang Jarang Diketahui, Pemula Bisa Untung Besar
Kesimpulan
Membeli saham
berdasarkan rumor dari Telegram, WhatsApp, TikTok, YouTube atau media sosial
adalah salah satu kesalahan yang sering dilakukan trader pemula.
Bukan berarti semua
informasi dari media sosial salah.
Tetapi informasi
orang lain tidak boleh menggantikan keputusan kita sendiri.
Jangan membeli hanya
karena seseorang berkata:
"Besok
terbang."
Jangan membeli hanya
karena:
"Bandar
masuk."
Dan jangan membeli
hanya karena:
"Kalau tidak beli
sekarang, bakal ketinggalan."
Yang paling penting
adalah tahu kenapa kita membeli saham tersebut.
Karena ketika harga
naik, kita tahu kapan harus mengambil keuntungan.
Ketika harga turun,
kita juga tahu kapan harus mengakui bahwa analisis kita salah.
Dan yang paling
penting:
Jangan sampai niat
awalnya trading, tetapi karena nyangkut akhirnya mengaku menjadi investor.
Menjadi investor
itu Keputusan, bukan karena nyangkut.

0 comments
Posting Komentar