DCI Indonesia (DCII) Catat Pendapatan Rp2,53 Triliun hingga September 2026, Laba Bersih Naik 11,48%

Kuhuni.com, Jakarta — PT DCI Indonesia Tbk (DCII) membukukan pendapatan sebesar Rp2,53 triliun selama sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2026. Pendapatan ini meningkat 31,49% dibandingkan Rp1,92 triliun pada periode yang sama tahun 2025. Sejalan dengan pertumbuhan pendapatan, laba bersih perseroan naik 11,49% menjadi Rp919,88 miliar dari Rp825,09 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian interim per 30 September 2026, pertumbuhan pendapatan diikuti kenaikan beban pokok pendapatan dan beban keuangan. Laba bruto meningkat menjadi Rp1,29 triliun, sedangkan laba usaha mencapai Rp1,17 triliun. Dari sisi posisi keuangan, total aset naik menjadi Rp10,06 triliun, dibandingkan Rp6,65 triliun pada 31 Desember 2025.

Data Center H2 Campus di Kerawang. Dok. DCI Indonesia

Pendapatan DCII Tumbuh 31,49%

Pendapatan DCII selama Januari–September 2026 mencapai Rp2,53 triliun, meningkat Rp605,47 miliar dibandingkan Rp1,92 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Beban pokok pendapatan naik menjadi Rp1,24 triliun dari Rp844,10 miliar. Meskipun beban pokok meningkat, pertumbuhan pendapatan yang lebih besar mendorong laba bruto naik 19,69% menjadi Rp1,29 triliun dari Rp1,08 triliun.

Keterangan Jan–Sep 2026
(Rp juta)
Jan–Sep 2025
(Rp juta)
Perubahan
Pendapatan 2.528.326 1.922.859 +31,49%
Beban pokok pendapatan (1.237.133) (844.097) +46,56%
Laba bruto 1.291.193 1.078.762 +19,69%

Margin laba bruto tercatat sekitar 51,07%, lebih rendah dibandingkan 56,08% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Dengan demikian, meskipun pendapatan dan laba bruto meningkat, pertumbuhan beban pokok pendapatan lebih tinggi daripada pertumbuhan pendapatan.

Laba Usaha Naik Menjadi Rp1,17 Triliun

Laba usaha DCII selama sembilan bulan 2026 mencapai Rp1,17 triliun, meningkat 17,07% dibandingkan Rp999,35 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Beban pemasaran naik menjadi Rp4,91 miliar dari Rp3,13 miliar. Beban umum dan administrasi meningkat menjadi Rp113,86 miliar dari Rp77,93 miliar. Pendapatan operasi lain turun menjadi Rp2,23 miliar dari Rp2,66 miliar, sedangkan beban operasi lain meningkat menjadi Rp4,77 miliar dari Rp1,01 miliar.

Kenaikan laba bruto sebesar Rp212,43 miliar lebih besar daripada peningkatan gabungan sejumlah beban operasional, sehingga laba usaha tetap tumbuh dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Laba Bersih DCII Naik 11,49%

Laba sebelum pajak final dan pajak penghasilan mencapai Rp1,05 triliun, meningkat dari Rp941,24 miliar pada Januari–September 2025. Setelah memperhitungkan beban pajak final dan pajak penghasilan, laba periode berjalan tercatat Rp919,88 miliar, naik 11,49% dibandingkan Rp825,09 miliar.

Pendapatan keuangan neto turun menjadi Rp953 juta dari Rp5,96 miliar. Pada periode 2026, perseroan juga mencatat keuntungan sebesar Rp6,01 miliar dari selisih antara harga transaksi dan nilai wajar yang ditangguhkan pada aset keuangan, sementara pos tersebut tidak tercatat pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca Laporan Keuangan Emiten

  1. Laba Bersih DMAS Meroket 184% Per September 2026
  2. Laporan Keuangan PJAA September 2026: Laba Bersih Rp25,30 Miliar, Turun 56,52%
  3. Laba AKRA Naik 32% Jadi Rp2,44 Triliun hingga September 2026
  4. Laba BTPS Naik 7% Jadi Rp1,01 Triliun hingga September 2026
  5. Clipan Finance Cetak Laba Rp153,65 Miliar hingga September 2026, Pendapatan Masih Tertekan
  6. IPCC Catat Pendapatan Rp645,48 Miliar hingga September 2026, Laba Bersih Turun 6,89%
  7. Sunter Lakeside Hotel (SNLK) Catat Pendapatan Rp32,82 Miliar hingga September 2026, Rugi Menyusut 39,36%
  8. Laporan Keuangan Bank Mandiri (BMRI) per September 2026, Laba Naik 13,86% Jadi Rp47,11 Triliun
  9. Bank Aladin Syariah (BANK) Catat Laba Bersih Rp47,26 Miliar hingga September 2026, Turun 63,10%
  10. Bukalapak (BUKA) Catat Rugi Rp881,06 Miliar hingga September 2026

Beban keuangan meningkat menjadi Rp129,79 miliar dari Rp64,06 miliar, atau naik sekitar 102,60%. Kenaikan beban keuangan ini terjadi bersamaan dengan peningkatan saldo utang bank yang tercatat dalam laporan posisi keuangan.

Keterangan Jan–Sep 2026
(Rp juta)
Jan–Sep 2025
(Rp juta)
Perubahan
Laba usaha 1.169.894 999.346 +17,07%
Pendapatan keuangan neto 953 5.958 -84,01%
Keuntungan dari transaksi aset keuangan 6.009 — Baru tercatat
Beban keuangan (129.787) (64.062) +102,60%
Laba sebelum pajak penghasilan 1.045.469 939.931 +11,23%
Laba periode berjalan 919.879 825.086 +11,49%

Arus Kas Operasi Mencapai Rp1,01 Triliun

Kas neto yang diperoleh dari aktivitas operasi selama sembilan bulan 2026 mencapai Rp1,01 triliun, turun 12,53% dibandingkan Rp1,15 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Penerimaan dari pelanggan meningkat menjadi Rp2,54 triliun dari Rp1,98 triliun. Namun, pembayaran kepada pemasok naik lebih tinggi, dari Rp620,17 miliar menjadi Rp1,18 triliun. Pembayaran kepada karyawan meningkat menjadi Rp114,25 miliar dari Rp90,89 miliar, sedangkan pembayaran pajak penghasilan dan pajak pertambahan nilai naik menjadi Rp230,02 miliar dari Rp113,06 miliar.

Kas yang diperoleh dari operasi sebelum pembayaran pajak dan pembayaran lainnya tercatat Rp1,24 triliun, sedikit lebih rendah dibandingkan Rp1,27 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Keterangan Jan–Sep 2026
(Rp juta)
Jan–Sep 2025
(Rp juta)
Perubahan
Penerimaan dari pelanggan 2.539.150 1.978.301 +28,35%
Pembayaran kepada pemasok (1.180.519) (620.172) +90,35%
Pembayaran kepada karyawan (114.254) (90.889) +25,71%
Kas diperoleh dari operasi 1.244.377 1.267.240 -1,80%
Pembayaran pajak penghasilan dan PPN (230.024) (113.061) +103,46%
Kas neto dari aktivitas operasi 1.007.916 1.152.276 -12,53%

Investasi Aset Tetap Meningkat Signifikan

Arus kas yang digunakan untuk aktivitas investasi mencapai Rp2,98 triliun, meningkat dibandingkan Rp887,43 miliar pada Januari–September 2025. Penggunaan kas untuk perolehan aset tetap mencapai Rp2,96 triliun, naik dari Rp861,69 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Selain itu, perseroan menggunakan Rp15,40 miliar untuk perolehan aset takberwujud. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, pembayaran untuk aset takberwujud mencapai Rp31,70 miliar.

Peningkatan belanja aset tetap sejalan dengan kenaikan nilai aset tetap neto yang tercatat dalam laporan posisi keuangan per 30 September 2026.

Arus Kas Pendanaan Didukung Penarikan Utang Bank

Arus kas neto dari aktivitas pendanaan tercatat positif Rp2,11 triliun, berbalik dari penggunaan kas sebesar Rp12,68 miliar pada periode yang sama tahun 2025.

Perseroan menerima pinjaman bank sebesar Rp2,48 triliun dan membayar kembali pinjaman bank sebesar Rp227,20 miliar. Selain itu, pembayaran beban keuangan mencapai Rp133,87 miliar, sedangkan pembayaran liabilitas sewa tercatat Rp1,10 miliar.

Keterangan Jan–Sep 2026
(Rp juta)
Jan–Sep 2025
(Rp juta)
Penerimaan dari utang bank 2.475.000 250.000
Pembayaran utang bank (227.201) (197.738)
Pembayaran liabilitas sewa (1.104) (1.123)
Pembayaran beban keuangan (133.866) (63.816)
Kas neto dari aktivitas pendanaan 2.112.829 (12.677)

Kas dan setara kas pada akhir September 2026 mencapai Rp402,30 miliar, meningkat dari Rp255,78 miliar pada awal tahun. Kenaikan tersebut mencakup kenaikan neto kas dan setara kas sebesar Rp143,06 miliar serta dampak positif perubahan nilai tukar sebesar Rp3,46 miliar.

Total Aset DCII Naik Menjadi Rp10,06 Triliun

Total aset konsolidasian DCII per 30 September 2026 mencapai Rp10,06 triliun, meningkat 51,38% dibandingkan Rp6,65 triliun pada 31 Desember 2025. Aset lancar naik dari Rp938,96 miliar menjadi Rp1,46 triliun, sedangkan aset tidak lancar meningkat dari Rp5,71 triliun menjadi Rp8,61 triliun.

Kenaikan aset tidak lancar terutama terlihat pada aset tetap neto, yang meningkat dari Rp5,13 triliun menjadi Rp8,00 triliun. Sementara itu, persediaan naik dari Rp20,28 miliar menjadi Rp214,64 miliar dan pajak pertambahan nilai dibayar di muka meningkat dari Rp34,13 miliar menjadi Rp187,36 miliar.

Kas dan setara kas naik menjadi Rp402,30 miliar dari Rp255,78 miliar. Piutang usaha pihak ketiga tercatat Rp601,58 miliar, relatif stabil dibandingkan Rp599,89 miliar pada akhir 2025.

Keterangan 30 Sep 2026
(Rp juta)
31 Des 2025
(Rp juta)
Perubahan
Kas dan setara kas 402.297 255.781 +57,28%
Total aset lancar 1.457.058 938.956 +55,18%
Aset tetap neto 8.001.851 5.130.503 +55,97%
Total aset tidak lancar 8.607.453 5.709.459 +50,76%
Total aset 10.064.511 6.648.415 +51,38%

Liabilitas Naik Menjadi Rp5,14 Triliun

Total liabilitas DCII per 30 September 2026 mencapai Rp5,14 triliun, meningkat dari Rp2,64 triliun pada akhir 2025. Liabilitas jangka pendek naik menjadi Rp1,37 triliun dari Rp988,67 miliar, sedangkan liabilitas jangka panjang meningkat menjadi Rp3,77 triliun dari Rp1,65 triliun.

Utang bank jangka pendek yang jatuh tempo dalam satu tahun tercatat Rp425,97 miliar, naik dari Rp289,13 miliar. Utang bank jangka panjang setelah dikurangi bagian yang jatuh tempo dalam satu tahun meningkat menjadi Rp3,70 triliun dari Rp1,59 triliun.

Beban akrual meningkat menjadi Rp425,96 miliar dari Rp180,49 miliar. Utang usaha pihak ketiga naik menjadi Rp267,11 miliar, sedangkan utang usaha pihak berelasi turun menjadi Rp12,16 miliar dari Rp84,59 miliar.

Ekuitas Meningkat Menjadi Rp4,93 Triliun

Total ekuitas DCII per 30 September 2026 tercatat Rp4,93 triliun, naik 22,97% dibandingkan Rp4,01 triliun pada akhir 2025. Saldo laba belum ditentukan penggunaannya meningkat menjadi Rp4,10 triliun dari Rp3,18 triliun.

Cadangan umum naik menjadi Rp30 miliar dari Rp25 miliar. Sementara itu, modal saham, tambahan modal disetor, komponen lainnya dari ekuitas, dan surplus revaluasi masing-masing tercatat tetap dibandingkan posisi akhir 2025.

Keterangan 30 Sep 2026
(Rp juta)
31 Des 2025
(Rp juta)
Perubahan
Total liabilitas jangka pendek 1.369.437 988.671 +38,52%
Total liabilitas jangka panjang 3.769.660 1.654.209 +127,89%
Total liabilitas 5.139.097 2.642.880 +94,45%
Total ekuitas 4.925.414 4.005.535 +22,97%
Total liabilitas dan ekuitas 10.064.511 6.648.415 +51,38%

Kesimpulan Kinerja DCII hingga September 2026

PT DCI Indonesia Tbk mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 31,49% dan kenaikan laba bersih sebesar 11,49% selama sembilan bulan 2026. Laba bruto dan laba usaha juga meningkat, meskipun beban pokok pendapatan tumbuh lebih cepat daripada pendapatan dan beban keuangan meningkat signifikan.

Dari sisi arus kas, kas neto dari aktivitas operasi mencapai Rp1,01 triliun, sedangkan aktivitas investasi menggunakan Rp2,98 triliun, terutama untuk perolehan aset tetap. Arus kas pendanaan positif Rp2,11 triliun, sejalan dengan penerimaan pinjaman bank sebesar Rp2,48 triliun.

Pada akhir September 2026, total aset mencapai Rp10,06 triliun dan ekuitas Rp4,93 triliun. Pada saat yang sama, total liabilitas meningkat menjadi Rp5,14 triliun, termasuk kenaikan utang bank jangka panjang. Dengan demikian, kinerja DCII menunjukkan pertumbuhan pendapatan dan laba, disertai peningkatan investasi aset tetap serta penggunaan pendanaan perbankan.

Disclaimer: Artikel ini bertujuan sebagai informasi edukasi dan bukan rekomendasi atau perintah untuk membeli maupun menjual saham tertentu. Investasi saham memiliki risiko fluktuasi harga. Redaksi Kuhuni.com tidak bertanggung jawab atas keputusan investasi pembaca.

0 comments

Posting Komentar

Terbaru

      Konten Pilihan