Bank BNI Catat Laba Bersih Rp16,15 Triliun hingga September 2026, Naik 6,03%

Kuhuni.com, Jakarta — PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) membukukan laba bersih konsolidasian sebesar Rp16,15 triliun selama sembilan bulan pertama 2026. Capaian tersebut meningkat 6,03% dibandingkan laba bersih Rp15,23 triliun pada periode Januari–September 2025.

Pertumbuhan laba ditopang oleh kenaikan pendapatan bunga bersih dan laba operasional. Hingga 30 September 2026, total aset BNI juga meningkat menjadi Rp1.481,83 triliun, dibandingkan Rp1.362,05 triliun pada 31 Desember 2025.

Kinerja Bank BNI Kuartal III 2026 Laba Bersih Rp16,15 Triliun

Laba Operasional BNI Tumbuh 9,30%

BNI mencatat laba operasional sebesar Rp20,28 triliun pada sembilan bulan pertama 2026, naik 9,30% dibandingkan Rp18,55 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, laba sebelum pajak mencapai Rp20,15 triliun, bertambah 9,27% dari Rp18,44 triliun.

Pendapatan bunga bersih meningkat menjadi Rp33,24 triliun dari Rp29,25 triliun, atau tumbuh 13,62%. Kenaikan ini terjadi seiring pendapatan bunga yang bertambah 17,28% menjadi Rp60,01 triliun. Pada saat yang sama, beban bunga naik 22,16% menjadi Rp26,77 triliun.

Indikator Keuangan Jan–Sep 2026 Jan–Sep 2025 Perubahan
Pendapatan bunga Rp60,01 triliun Rp51,17 triliun +17,28%
Beban bunga Rp26,77 triliun Rp21,91 triliun +22,16%
Pendapatan bunga bersih Rp33,24 triliun Rp29,25 triliun +13,62%
Pendapatan operasional lainnya Rp17,91 triliun Rp16,67 triliun +7,45%
Laba operasional Rp20,28 triliun Rp18,55 triliun +9,30%
Laba sebelum pajak Rp20,15 triliun Rp18,44 triliun +9,27%
Laba bersih Rp16,15 triliun Rp15,23 triliun +6,03%
Laba per saham dasar dan dilusian Rp432 Rp405 +6,67%

Pendapatan Operasional Lainnya Naik 7,45%

Pendapatan operasional lainnya BNI mencapai Rp17,91 triliun hingga September 2026, meningkat 7,45% dibandingkan Rp16,67 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Komponen pendapatan tersebut antara lain berasal dari provisi dan komisi lainnya sebesar Rp8,44 triliun, penerimaan kembali aset yang telah dihapusbukukan Rp3,97 triliun, keuntungan penjualan aset keuangan dan perubahan nilai wajar sebesar Rp2,21 triliun secara gabungan, serta laba dari entitas asosiasi Rp1,24 triliun.

Di sisi biaya, pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai meningkat menjadi Rp7,26 triliun dari Rp6,12 triliun, atau naik 18,56%. Total beban operasional lainnya bertambah 10,86% menjadi Rp24,20 triliun dari Rp21,83 triliun.

Komponen Jan–Sep 2026 Jan–Sep 2025 Perubahan
Provisi dan komisi lainnya Rp8,44 triliun Rp7,75 triliun +8,93%
Laba dari entitas asosiasi Rp1,24 triliun Rp1,21 triliun +2,85%
Penerimaan kembali aset yang telah dihapusbukukan Rp3,97 triliun Rp3,56 triliun +11,40%
Pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai Rp7,26 triliun Rp6,12 triliun +18,56%
Total beban operasional lainnya Rp24,20 triliun Rp21,83 triliun +10,86%

Total Aset BNI Tumbuh 8,79%

Per 30 September 2026, total aset BNI mencapai Rp1.481,83 triliun, meningkat 8,79% dibandingkan Rp1.362,05 triliun pada akhir Desember 2025. Pertumbuhan aset terutama terlihat pada penyaluran pinjaman dan simpanan nasabah.

Total pinjaman setelah dikurangi cadangan kerugian penurunan nilai mencapai Rp954,84 triliun, naik 10,56% dari Rp863,67 triliun pada 31 Desember 2025. Sementara itu, simpanan nasabah meningkat 8,05% menjadi Rp1.124,59 triliun dari Rp1.040,83 triliun.

Posisi Keuangan 30 September 2026 31 Desember 2025 Perubahan
Total aset Rp1.481,83 triliun Rp1.362,05 triliun +8,79%
Pinjaman setelah cadangan kerugian Rp954,84 triliun Rp863,67 triliun +10,56%
Simpanan nasabah Rp1.124,59 triliun Rp1.040,83 triliun +8,05%
Simpanan dari bank lain Rp12,03 triliun Rp11,56 triliun +4,07%
Total liabilitas Rp1.307,57 triliun Rp1.185,72 triliun +10,28%
Total ekuitas Rp174,26 triliun Rp176,34 triliun -1,18%

Ekuitas Turun 1,18%

Total ekuitas BNI tercatat Rp174,26 triliun pada akhir September 2026, turun 1,18% dibandingkan Rp176,34 triliun pada akhir 2025. Ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp169,87 triliun, sedangkan kepentingan nonpengendali tercatat Rp4,38 triliun.

Salah satu perubahan pada komponen ekuitas terlihat pada keuntungan atau kerugian belum direalisasi atas efek-efek dan obligasi pemerintah yang diukur pada nilai wajar melalui penghasilan komprehensif lain. Pos tersebut berubah dari keuntungan Rp2,62 triliun pada akhir 2025 menjadi kerugian Rp2,06 triliun pada September 2026.

Baca Laporan Keuangan Emiten

  1. Laba BTPS Naik 7% Jadi Rp1,01 Triliun hingga September 2026
  2. Clipan Finance Cetak Laba Rp153,65 Miliar hingga September 2026, Pendapatan Masih Tertekan
  3. Laporan Keuangan Bank Mandiri (BMRI) per September 2026, Laba Naik 13,86% Jadi Rp47,11 Triliun
  4. Bank Aladin Syariah (BANK) Catat Laba Bersih Rp47,26 Miliar hingga September 2026, Turun 63,10%
  5. Bank BNI Catat Laba Bersih Rp16,15 Triliun hingga September 2026, Naik 6,03%

Laba Komprehensif Menjadi Rp11,67 Triliun

Total laba komprehensif BNI selama sembilan bulan pertama 2026 mencapai Rp11,67 triliun, turun 37,15% dibandingkan Rp18,57 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Perubahan ini terjadi bersamaan dengan kerugian penghasilan komprehensif lain setelah pajak sebesar Rp4,48 triliun, sedangkan pada periode Januari–September 2025 tercatat penghasilan komprehensif lain sebesar Rp3,34 triliun.

Di sisi laba per saham, laba per saham dasar dan dilusian yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk meningkat menjadi Rp432 per saham dari Rp405 per saham pada sembilan bulan pertama 2025, atau naik 6,67%.

Kesimpulan Kinerja BNI hingga September 2026

BNI membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 6,03% menjadi Rp16,15 triliun hingga September 2026. Pendapatan bunga bersih meningkat 13,62%, sementara laba operasional tumbuh 9,30%. Dari sisi neraca, total aset bertambah 8,79%, pinjaman setelah cadangan kerugian naik 10,56%, dan simpanan nasabah tumbuh 8,05% dibandingkan akhir 2025.

Di tengah pertumbuhan tersebut, beban bunga dan pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai juga meningkat. Total laba komprehensif turun menjadi Rp11,67 triliun seiring perubahan penghasilan komprehensif lain menjadi negatif pada periode Januari–September 2026.

Disclaimer: Artikel ini bertujuan sebagai informasi edukasi dan bukan rekomendasi atau perintah untuk membeli maupun menjual saham tertentu. Investasi saham memiliki risiko fluktuasi harga. Redaksi Kuhuni.com tidak bertanggung jawab atas keputusan investasi pembaca.

0 comments

Posting Komentar

Terbaru

      Konten Pilihan