JAKARTA, Kuhuni.com – Pasar saham Indonesia berada dalam tekanan sepanjang perdagangan sepekan periode 28 September hingga 2 Oktober 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 6.036,888, turun 3,28% dibandingkan posisi akhir pekan sebelumnya di level 6.241,892.
Penurunan IHSG terjadi
di tengah tingginya aktivitas perdagangan saham dan berlanjutnya aksi jual
investor asing di Bursa Efek Indonesia (BEI).
![]() |
| Gedung Bursa Efek Indonesia. Dokumentasi Kuhuni.com |
IHSG Turun 3,28% dalam Sepekan
Pada awal pekan, Senin
(28/9/2026), IHSG ditutup di level 6.147,859. Tekanan berlanjut pada Selasa dan
Rabu hingga indeks masing-masing ditutup di level 6.121,700 dan 6.071,138.
IHSG kembali melemah
pada Kamis (1/10) ke level 6.009,502, sebelum berbalik menguat pada
perdagangan Jumat (2/10) dan ditutup di level 6.036,888.
Secara mingguan, IHSG
bergerak dalam rentang 5.973,163 hingga 6.227,899. Meskipun perdagangan
terakhir ditutup menguat, kenaikan tersebut belum mampu menghapus tekanan yang
terjadi pada sebagian besar perdagangan pekan tersebut.
Aktivitas Transaksi Saham Meningkat
Di tengah pelemahan
IHSG, aktivitas perdagangan saham justru meningkat.
Rata-rata volume
transaksi saham harian melonjak 72,51% menjadi 50,37 miliar saham,
dari 29,20 miliar saham pada pekan sebelumnya.
Rata-rata nilai
transaksi saham harian juga meningkat 5,40% menjadi Rp12,63
triliun, dibandingkan Rp11,98 triliun pada pekan sebelumnya.
Sebaliknya, rata-rata frekuensi
transaksi harian turun 7,54% menjadi sekitar 1,68 juta transaksi,
dari 1,82 juta transaksi pada pekan sebelumnya.
Secara keseluruhan, selama sepekan tercatat sekitar 251,85 miliar saham diperdagangkan dengan nilai transaksi mencapai sekitar Rp63,13 triliun.
Kapitalisasi Pasar Turun Rp278 Triliun
Pelemahan IHSG turut
diikuti penurunan kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia.
Kapitalisasi pasar
turun 2,55%, dari sekitar Rp10.905 triliun pada pekan sebelumnya
menjadi Rp10.627 triliun pada akhir perdagangan 2 Oktober 2026.
Asing Net Sell Rp5,04 Triliun
Investor asing juga
masih melakukan aksi jual di pasar saham Indonesia.
Sepanjang perdagangan
28 September hingga 2 Oktober 2026, investor asing mencatatkan net sell
sekitar Rp5,04 triliun.
Aksi jual asing
terjadi setiap hari selama pekan tersebut. Pada Senin tercatat net sell sekitar
Rp1,13 triliun, Selasa Rp777,20 miliar, Rabu Rp1,61 triliun, Kamis Rp241,86
miliar, dan Jumat Rp1,27 triliun.
Dengan tambahan aksi
jual tersebut, akumulasi net sell investor asing sepanjang 2026 mencapai
sekitar Rp82,55 triliun hingga 2 Oktober 2026.
Saham GOTO Paling Banyak Diperdagangkan
Dari sisi volume,
saham GOTO menjadi salah satu saham yang paling ramai diperdagangkan
sepanjang pekan.
Volume perdagangan
GOTO mencapai sekitar 110,96 miliar saham. Selain GOTO, saham BUMI
mencatat volume sekitar 9,54 miliar saham, BNBR 5,23 miliar saham, BTEK 4,68
miliar saham, dan ELTY sekitar 4,05 miliar saham.
Dari sisi nilai
transaksi, BBCA menjadi saham dengan nilai transaksi terbesar, mencapai
sekitar Rp6,36 triliun. Posisi berikutnya ditempati TLKM sekitar Rp3,30
triliun, GOTO Rp3,07 triliun, BMRI Rp2,97 triliun, dan BBRI Rp2,67 triliun.
Sektor Teknologi Jadi Penekan Terbesar
Tekanan terjadi hampir
di seluruh sektor saham BEI.
Sektor teknologi
menjadi sektor dengan penurunan terdalam, yakni 12,45%. Berikutnya
sektor barang baku turun 5,29%, barang konsumen siklikal turun 4,82%,
infrastruktur turun 4,31%, serta properti dan real estat turun 4,00%.
Sektor transportasi
dan logistik turun 3,94%, sektor industri melemah 2,19%, sektor keuangan turun
1,56%, barang konsumen primer turun 1,53%, kesehatan turun 1,23%, dan energi
turun 0,99%.
Dengan demikian, seluruh
11 sektor saham BEI mencatatkan penurunan selama pekan tersebut.
Saham yang Menekan dan Mengangkat IHSG
Sejumlah saham
memberikan kontribusi positif terhadap pergerakan IHSG meskipun indeks secara
keseluruhan melemah.
DSSA menjadi salah satu saham dengan kontribusi
positif terbesar, dengan kenaikan harga 8,06% dan kontribusi sekitar 7,96 poin
terhadap IHSG. Selanjutnya UNTR naik 7,33% dengan kontribusi 5,39 poin, VKTR
naik 7,05% dengan kontribusi 3,02 poin, dan DCII naik 1,46% dengan kontribusi
2,96 poin.
Sebaliknya, GOTO
menjadi saham dengan tekanan terbesar terhadap IHSG. Harga GOTO turun 40%
dan memberikan kontribusi negatif sekitar 36,71 poin terhadap indeks.
Saham AMMN turun
10,17% dengan kontribusi negatif 19,13 poin, TLKM turun 6,64% dengan kontribusi
-14,75 poin, BRMS turun 13,64% dengan kontribusi -13,74 poin, BBCA turun 2,40%
dengan kontribusi -13,15 poin, dan BBRI turun 2,22% dengan kontribusi -10,31 poin.
BEI Terapkan Sejumlah Perubahan Aturan
Pekan perdagangan
tersebut juga menjadi periode penting bagi pasar modal Indonesia karena BEI
mulai menerapkan sejumlah penyempurnaan aturan perdagangan.
Mulai Senin (28/9),
BEI menurunkan batas harga minimum saham dari Rp50 menjadi Rp1 serta
menyesuaikan ketentuan auto rejection dan papan pemantauan khusus.
Kemudian pada Kamis
(1/10), BEI meluncurkan fasilitas Short Selling dan Intraday Short Selling
(IDSS) yang dapat diakses investor individu domestik melalui anggota bursa
yang telah memperoleh lisensi.
Baca:
- Cara Main Saham Modal Kecil: Mulai Rp100 Ribu, Rp500 Ribu, atau Rp1 Juta
- Dividen Saham Paling Besar di Indonesia 2026
- Dividen BBNI dari Tahun ke Tahun: Analisis Dividen Per Lembar dan Keuntungannya
- 47 Daftar Saham Sektor Teknologi di Indonesia 2026
- Kenapa Main Saham Bisa Rugi? Ini Kesalahan yang Sering Dilakukan Investor
- 89 Daftar Aplikasi Trading Saham Resmi di Indonesia
Rangkuman Pasar Saham Sepekan
Secara keseluruhan,
perdagangan saham pada periode 28 September–2 Oktober 2026 menunjukkan kondisi
pasar yang masih penuh tekanan.
IHSG turun 3,28% ke
6.036,888, kapitalisasi pasar menyusut menjadi Rp10.627 triliun, dan investor
asing mencatat net sell sekitar Rp5,04 triliun.
Namun, aktivitas
transaksi tetap tinggi. Rata-rata volume perdagangan harian meningkat 72,51%
menjadi 50,37 miliar saham, sedangkan rata-rata nilai transaksi harian naik
5,40% menjadi Rp12,63 triliun.
Pergerakan pasar pada pekan tersebut juga ditandai dengan tekanan besar pada sektor teknologi serta penurunan sejumlah saham berkapitalisasi besar, sementara BEI mulai menerapkan berbagai penyempurnaan mekanisme perdagangan saham.

0 comments
Posting Komentar