Apa Itu Volume Saham? Pengertian, Cara Membaca dan Contohnya

Bagi pemula yang baru belajar membaca grafik saham, istilah volume saham mungkin terlihat membingungkan.

Di dalam aplikasi trading, selain melihat harga saham, biasanya kita juga akan menemukan grafik berupa batang-batang yang bergerak naik dan turun. Grafik tersebut umumnya menunjukkan volume perdagangan saham.

Sederhananya, volume saham adalah jumlah saham yang diperdagangkan dalam periode tertentu.

Volume dapat membantu trader melihat apakah sebuah saham sedang ramai diperdagangkan atau justru sepi. Dalam analisis teknikal, volume digunakan bersama data harga untuk membantu membaca kekuatan pergerakan saham. OJK menjelaskan bahwa analisis teknikal menggunakan data historis seperti harga saham dan volume perdagangan untuk menganalisis kemungkinan kelanjutan atau pembalikan arah harga.

Lalu, bagaimana cara membaca volume saham?
Apakah volume besar berarti harga akan naik?
Apakah volume kecil berarti saham tidak bagus?

Jawabannya tidak sesederhana itu.

Artikel ini akan membahas pengertian volume saham, cara membaca volume perdagangan, hubungan volume dengan harga, volume besar dan kecil, volume breakout, volume saat harga naik atau turun, serta contoh volume saham untuk pemula.

Pengertian Volume Saham
Pengertian Volume Saham

Apa Itu Volume Saham?

Volume saham adalah jumlah saham yang berpindah tangan atau diperdagangkan dalam periode tertentu.

Periode tersebut bisa berupa:

  • 1 menit;
  • 5 menit;
  • 15 menit;
  • 1 jam;
  • 1 hari;
  • 1 minggu;
  • 1 bulan.

Tergantung timeframe grafik yang digunakan.

Misalnya kamu melihat grafik saham dengan timeframe harian.

Jika pada hari tersebut tercatat volume 10 juta saham, artinya terdapat aktivitas perdagangan dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 10 juta lembar pada periode tersebut.

Jadi, volume bukan menunjukkan berapa banyak uang yang masuk ke saham, melainkan jumlah saham yang diperdagangkan.

Ini penting karena volume saham berbeda dengan nilai transaksi.

Volume Saham vs Nilai Transaksi

Banyak pemula menganggap volume saham sama dengan nilai transaksi.

Padahal keduanya berbeda.

Volume menunjukkan jumlah saham yang diperdagangkan.
Sedangkan nilai transaksi menunjukkan nilai uang dari transaksi tersebut.

Contohnya:
Harga saham = Rp1.000
Volume = 1 juta lembar

Maka secara sederhana nilai transaksi saham tersebut sekitar:
1.000 × 1.000.000 = Rp1 miliar

Sekarang bayangkan saham lain:
Harga = Rp10.000
Volume = 1 juta lembar

Nilai transaksinya menjadi:
Rp10.000 × 1.000.000 = Rp10 miliar

Volume keduanya sama-sama 1 juta lembar.
Tetapi nilai transaksinya berbeda karena harga sahamnya berbeda.

Komponen Saham A Saham B
Harga Rp1.000 Rp10.000
Volume 1 juta lembar 1 juta lembar
Nilai transaksi Rp1 miliar Rp10 miliar

Jadi:
Volume = jumlah saham yang diperdagangkan.
Nilai transaksi = jumlah saham × harga saham.

Apa Fungsi Volume Saham?

Volume dapat membantu trader melihat seberapa ramai aktivitas perdagangan sebuah saham.

BEI menjelaskan bahwa saham yang likuid biasanya aktif diperdagangkan dan salah satu cirinya adalah memiliki volume perdagangan yang besar. Saham yang tidak likuid dapat membuat trader lebih sulit masuk atau keluar dari posisi.

Volume dapat digunakan untuk membantu:

  1. melihat aktivitas perdagangan;
  2. menilai likuiditas saham;
  3. mengonfirmasi pergerakan harga;
  4. melihat kekuatan breakout;
  5. mengamati perubahan minat pasar;
  6. membaca kemungkinan akumulasi atau distribusi bersama indikator lain;
  7. membantu menentukan saham yang lebih mudah diperdagangkan.

Namun, volume tidak boleh digunakan sendirian untuk menentukan keputusan beli atau jual.

Volume sebaiknya dibaca bersama harga, tren, support, resistance, candlestick dan manajemen risiko.

grafik dan volume saham
Seorang investor menunjukkan grafik pergerakan harga saham dan volume saham. Foto dokumentasi Kuhuni.com

Di Mana Melihat Volume Saham?

Volume biasanya dapat ditemukan di bagian bawah grafik harga pada aplikasi trading.

Gambaran sederhananya seperti ini:

Harga
      /\        /\
     /  \  /\  /  \
 ___/    \/  \/    \___

Volume
 | |    | |     |
 | |  | | | |   | |
 | |  | | | | | | |
_|_|__|_|_|_|_|_|_|____

Batang volume biasanya ditampilkan dalam bentuk histogram.

Semakin tinggi batangnya, semakin besar volume perdagangan pada periode tersebut.
Sebaliknya, semakin pendek batangnya, semakin kecil volume perdagangan.

Warna batang volume pada aplikasi dapat berbeda-beda karena setiap platform mempunyai pengaturan masing-masing.

Karena itu, jangan terlalu fokus pada warna.

Yang lebih penting adalah:
seberapa besar volume dibandingkan periode sebelumnya dan bagaimana pergerakan harganya.

Cara Membaca Volume Saham untuk Pemula

Cara paling sederhana membaca volume adalah dengan membandingkan:
harga + volume.

Jangan hanya melihat apakah volume tinggi atau rendah.

Misalnya harga saham naik dan volume juga meningkat.

Kondisi tersebut dapat menunjukkan bahwa kenaikan harga mendapat aktivitas perdagangan yang lebih besar.

Sebaliknya, jika harga naik tetapi volume justru sangat kecil, trader perlu lebih berhati-hati karena kenaikan tersebut belum tentu didukung aktivitas perdagangan yang kuat.

Namun, ini bukan berarti harga pasti turun.

Volume adalah alat konfirmasi, bukan alat untuk meramal masa depan secara pasti.

Apa Arti Volume Besar?

Volume besar berarti jumlah saham yang diperdagangkan pada periode tersebut relatif tinggi dibandingkan periode lainnya.

Misalnya selama beberapa hari volume saham hanya sekitar:

  • 1 juta;
  • 1,2 juta;
  • 900 ribu;
  • 1,1 juta saham.

Kemudian tiba-tiba volume menjadi:
5 juta saham.

Volume tersebut jauh lebih besar dibandingkan kebiasaan sebelumnya.

Kondisi seperti ini menarik untuk diperhatikan.

Pertanyaannya kemudian:
Apa yang terjadi pada harga?

Inilah yang lebih penting.

Volume besar harus dibaca bersama pergerakan harga.

Volume Besar Saat Harga Naik

Misalnya:

Hari 1:
Harga = Rp1.000
Volume = 1 juta

Hari 2:
Harga = Rp1.050
Volume = 1,2 juta

Hari 3:
Harga = Rp1.100
Volume = 2 juta

Harga naik dan volume juga meningkat.

Kondisi seperti ini dapat menunjukkan aktivitas perdagangan yang semakin ramai ketika harga bergerak naik.

Dalam analisis teknikal, volume yang meningkat dapat digunakan sebagai konfirmasi tambahan terhadap pergerakan harga.

Namun, bukan berarti harga pasti terus naik.

Trader tetap perlu melihat:

  • resistance;
  • tren;
  • candlestick;
  • support;
  • kondisi pasar;
  • risiko.

Volume Besar Saat Harga Turun

Sekarang kita balik.

Hari 1:
Harga = Rp1.000
Volume = 1 juta

Hari 2:
Harga = Rp950
Volume = 1,5 juta

Hari 3:
Harga = Rp900
Volume = 3 juta

Harga turun dan volume semakin besar.

Kondisi ini menunjukkan aktivitas perdagangan yang ramai ketika harga turun.

Trader perlu berhati-hati karena tekanan jual bisa sedang meningkat.

Tetapi sekali lagi, volume besar tidak otomatis berarti saham pasti akan terus turun.

Bisa saja setelah tekanan jual besar muncul pembeli yang masuk dan harga kemudian berbalik.

Karena itu, volume harus dibaca bersama struktur harga.

Volume Kecil Saat Harga Naik

Sekarang bagaimana jika harga naik tetapi volume kecil?

Misalnya:

Hari Harga Volume
Senin Rp1.000 1 juta
Selasa Rp1.020 800 ribu
Rabu Rp1.050 700 ribu
Kamis Rp1.080 600 ribu

Harga naik.
Tetapi volume justru semakin kecil.

Situasi seperti ini tidak otomatis berarti harga akan jatuh.

Namun, trader perlu bertanya:
Apakah kenaikan harga tersebut benar-benar didukung aktivitas perdagangan yang kuat?

Jika kemudian harga mendekati resistance, volume yang rendah dapat menjadi alasan untuk lebih berhati-hati dan menunggu konfirmasi.

Volume Kecil Saat Harga Turun

Hal yang sama berlaku ketika harga turun.

Misalnya harga turun perlahan tetapi volume juga semakin kecil.

Ini dapat menunjukkan bahwa aktivitas perdagangan tidak terlalu ramai.

Namun, jangan langsung menyimpulkan:
"Volume kecil berarti aman."

Belum tentu.

Harga tetap dapat turun meskipun volumenya kecil.

Karena itu, volume harus dipahami sebagai salah satu bagian dari analisis, bukan satu-satunya penentu.

Hubungan Volume dan Harga Saham

Salah satu cara paling sederhana untuk belajar volume adalah membuat empat kondisi.

Harga Volume Hal yang Perlu Diperhatikan
Naik Naik Kenaikan mendapat aktivitas lebih besar
Naik Turun Kenaikan perlu dikonfirmasi
Turun Naik Tekanan perdagangan meningkat
Turun Turun Penurunan terjadi dengan aktivitas lebih rendah

Tabel tersebut bukan aturan pasti.

Pasar saham tidak bekerja dengan rumus sesederhana itu.

Tetapi tabel tersebut membantu pemula memahami hubungan awal antara harga dan volume.

Apa Itu Volume Breakout?

Salah satu penggunaan volume yang populer dalam trading adalah ketika terjadi breakout.

Breakout adalah kondisi ketika harga berhasil melewati area penting seperti resistance.

Misalnya saham bergerak di sekitar:
Rp1.000–Rp1.100

Resistance berada di sekitar Rp1.100.

Kemudian harga menembus:
Rp1.100 → Rp1.150

Pada saat yang sama, volume meningkat jauh dibandingkan rata-rata sebelumnya.

Kondisi tersebut menarik karena breakout harga mendapatkan konfirmasi berupa peningkatan aktivitas perdagangan.

Namun trader tetap harus berhati-hati terhadap false breakout.

Contoh Breakout dengan Volume Besar

Misalnya:
Resistance = Rp1.000

Harga sebelumnya:
Rp950 → Rp980 → Rp990 → Rp1.000

Kemudian:
Harga menembus Rp1.000 menjadi Rp1.050.
Volume juga meningkat tajam.

Situasi tersebut bisa menjadi sinyal yang menarik untuk dipelajari.

Trader kemudian dapat menunggu:

  • apakah harga mampu bertahan di atas resistance;
  • apakah volume tetap mendukung;
  • apakah terjadi pullback;
  • apakah breakout berubah menjadi false breakout.

Jadi, jangan langsung membeli hanya karena melihat satu batang volume tinggi.

Apa Itu False Breakout?

False breakout adalah kondisi ketika harga terlihat menembus resistance atau support, tetapi kemudian kembali masuk ke area sebelumnya.

Contohnya:
Resistance = Rp1.000

Harga naik:
Rp980 → Rp1.000 → Rp1.050

Trader mengira breakout berhasil.

Tetapi kemudian harga turun:
Rp1.050 → Rp990 → Rp950

Harga kembali berada di bawah resistance.

Inilah contoh sederhana false breakout.

Volume dapat membantu memberikan konteks, tetapi tetap tidak bisa menjamin breakout akan berhasil.

Volume Breakout Harus Dilihat Bersama Resistance

Volume akan lebih berguna jika dibaca bersama support dan resistance.

Misalnya:
Resistance Rp1.000

Harga berkali-kali gagal melewati Rp1.000.

Kemudian suatu hari:
Harga menembus Rp1.000
dan volume jauh lebih besar dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Kondisi tersebut lebih menarik untuk diamati dibandingkan breakout yang terjadi tanpa peningkatan aktivitas perdagangan.

Inilah alasan mengapa artikel tentang volume saham sangat erat hubungannya dengan:

  • support dan resistance;
  • candlestick;
  • breakout;
  • analisis teknikal;
  • manajemen risiko.
Pengertian Support dan Resistance Saham
Pengertian Support dan Resistance pada saham

Volume Saham dan Support

Bagaimana volume digunakan saat harga berada di support?

Misalnya harga turun menuju support Rp1.000.

Saat menyentuh Rp1.000, muncul volume besar dan harga mulai bertahan.

Kemudian harga bergerak:
Rp1.000 → Rp1.050 → Rp1.100

Kondisi tersebut dapat menjadi informasi tambahan bahwa area Rp1.000 sedang mendapatkan aktivitas perdagangan yang besar.

Namun, trader tetap harus menunggu konfirmasi.

Support bukan jaminan harga pasti memantul.

Jika support akhirnya ditembus dengan volume besar, situasinya justru bisa berbeda.

Volume Saat Support Jebol

Misalnya support berada di:
Rp1.000

Harga kemudian turun:
Rp1.050 → Rp1.020 → Rp990

Pada saat harga menembus Rp1.000, volume meningkat tajam.

Ini perlu diperhatikan karena penembusan support disertai aktivitas perdagangan besar dapat menunjukkan tekanan jual yang lebih kuat.

Trader kemudian dapat mengamati apakah:

  • harga terus turun;
  • harga kembali ke atas support;
  • terjadi false breakdown;
  • support lama berubah menjadi resistance.
Cara Membaca Candlestick Saham
Cara Membaca Candlestick Saham

Volume dan Candlestick

Volume menjadi lebih mudah dipahami jika dikombinasikan dengan candlestick.

Misalnya muncul candlestick bullish besar.

Jika volume juga meningkat signifikan, trader mendapatkan informasi tambahan bahwa candlestick tersebut terjadi dengan aktivitas perdagangan yang lebih besar.

Sebaliknya, candlestick besar dengan volume yang sangat kecil perlu dibaca dengan lebih hati-hati.

Tetapi sekali lagi:
candlestick + volume bukan jaminan harga akan bergerak sesuai dugaan.

Keduanya hanya membantu trader membaca kondisi pasar.

Volume dan Likuiditas Saham

Volume juga berkaitan erat dengan likuiditas saham.

Likuiditas adalah seberapa mudah saham dibeli atau dijual di pasar.

BEI menjelaskan bahwa saham yang likuid biasanya aktif diperdagangkan, memiliki antrean bid dan offer, serta volume perdagangan yang besar. Sebaliknya, saham yang tidak likuid dapat membuat trader kesulitan keluar dari posisi dan harga dapat bergerak lebih drastis ketika permintaan atau penawaran sedikit.

Bagi trader pemula, ini sangat penting.

Jangan hanya mencari saham yang bisa naik cepat.

Perhatikan juga apakah saham tersebut ramai diperdagangkan dan mudah ditransaksikan.

Apakah Volume Besar Berarti Saham Bagus?

Tidak.

Volume besar hanya menunjukkan bahwa aktivitas perdagangan pada periode tersebut tinggi.

Volume tidak secara otomatis mengatakan:
"Perusahaan ini bagus."

Misalnya sebuah saham sedang mengalami berita besar.

Banyak orang membeli dan menjual saham tersebut.

Volume bisa melonjak.

Tetapi bukan berarti perusahaan tersebut otomatis menjadi perusahaan yang bagus untuk investasi jangka panjang.

Untuk menilai perusahaan, investor perlu melihat analisis fundamental seperti:

  • pendapatan;
  • laba;
  • utang;
  • arus kas;
  • prospek bisnis;
  • valuasi;
  • kondisi industri.

Jadi:
Volume membantu membaca aktivitas perdagangan.
Fundamental membantu memahami kondisi perusahaan.

Apakah Volume Besar Berarti Harga Akan Naik?

Tidak.

Ini salah satu kesalahan paling umum pemula.

Volume besar hanya berarti aktivitas perdagangan tinggi.

Harga bisa:

  • naik dengan volume besar;
  • turun dengan volume besar;
  • bergerak sideways dengan volume besar.

Contohnya:
Volume = 10 juta saham.
Harga naik.

Artinya aktivitas perdagangan besar terjadi saat harga bergerak naik.

Tetapi jika volume 10 juta saham terjadi ketika harga turun, artinya berbeda.

Karena itu, jangan pernah membaca:
volume besar = beli.

Yang benar adalah:
volume besar = lihat lebih lanjut apa yang terjadi pada harga.

Apa Itu Average Volume?

Average volume adalah rata-rata volume perdagangan selama periode tertentu.

Misalnya kamu ingin menghitung rata-rata volume 5 hari.

Volume:

  • Hari 1 = 1 juta
  • Hari 2 = 1,2 juta
  • Hari 3 = 800 ribu
  • Hari 4 = 1,5 juta
  • Hari 5 = 1 juta

Total:
5,5 juta saham

Rata-rata:
5,5 juta ÷ 5 = 1,1 juta saham

Jadi rata-rata volume 5 hari adalah:
1,1 juta saham.

Average volume membantu trader membandingkan volume hari ini dengan kondisi normal sebelumnya.

Contoh Volume di Atas Rata-Rata

Misalnya rata-rata volume 20 hari suatu saham:
2 juta saham

Hari ini volumenya:
6 juta saham

Artinya volume hari ini sekitar tiga kali rata-rata.

Situasi seperti ini menarik untuk diperhatikan.

Kemudian lihat harga.

Jika harga juga menembus resistance, volume tersebut dapat menjadi konfirmasi tambahan.

Jika harga justru jatuh menembus support, interpretasinya tentu berbeda.

Volume Spike: Apa Artinya?

Volume spike adalah lonjakan volume yang jauh lebih besar dibandingkan volume sebelumnya.

Contohnya:

Hari Volume
Senin 1 juta
Selasa 1,1 juta
Rabu 900 ribu
Kamis 1,2 juta
Jumat 5 juta

Volume pada Jumat melonjak.

Inilah yang disebut sebagai volume spike.

Volume spike bisa terjadi karena berbagai hal, misalnya:

  • berita perusahaan;
  • laporan keuangan;
  • aksi korporasi;
  • perubahan sentimen pasar;
  • breakout;
  • tekanan jual besar;
  • masuknya banyak pembeli;
  • aksi distribusi.

Karena penyebabnya bisa berbeda, volume spike harus dianalisis bersama konteks harga dan informasi perusahaan.

Volume dan Akumulasi

Dalam analisis pasar, volume sering digunakan untuk membantu membaca kemungkinan akumulasi.

Akumulasi secara sederhana dapat dipahami sebagai kondisi ketika aktivitas pembelian mulai terlihat lebih kuat dalam suatu periode.

Misalnya harga bergerak relatif sideways.

Namun volume perdagangan meningkat pada beberapa sesi ketika harga mengalami tekanan turun dan kemudian kembali bertahan.

Situasi seperti itu dapat menarik perhatian trader.

Tetapi perlu ditekankan:
volume saja tidak dapat memastikan sedang terjadi akumulasi.

Untuk membaca akumulasi dan distribusi secara lebih mendalam, trader dapat menggunakan data tambahan seperti:

  • broker summary;
  • bid-offer;
  • price action;
  • volume profile;
  • support-resistance;
  • pola harga.

Volume dan Distribusi

Sebaliknya, trader juga dapat menggunakan volume untuk mengamati kemungkinan distribusi.

Misalnya harga sudah naik cukup jauh.

Kemudian muncul volume sangat besar tetapi harga justru kesulitan melanjutkan kenaikan.

Situasi seperti ini perlu diamati.

Bisa saja terjadi aktivitas jual yang besar di balik perdagangan tersebut.

Namun, lagi-lagi:
volume besar bukan bukti tunggal bahwa distribusi sedang terjadi.

Trader harus melihat konteks yang lebih luas.

Apakah Volume Saham Bisa Dipakai untuk Menentukan Waktu Beli?

Bisa sebagai salah satu alat bantu, tetapi bukan satu-satunya alat.

Contohnya:

  1. Cari saham yang sedang dalam uptrend.
  2. Tentukan resistance.
  3. Tunggu harga mendekati resistance.
  4. Amati volume.
  5. Jika breakout terjadi dan volume meningkat, tunggu konfirmasi.
  6. Tentukan entry sesuai trading plan.
  7. Tentukan stop loss.
  8. Tentukan target keuntungan.

Dengan cara tersebut, volume digunakan sebagai konfirmasi, bukan sebagai tombol otomatis untuk membeli.

Apakah Volume Bisa Dipakai untuk Menentukan Waktu Jual?

Bisa juga.

Misalnya kamu sudah memiliki saham.

Kemudian harga naik mendekati resistance.

Tiba-tiba muncul volume sangat besar tetapi harga gagal melanjutkan kenaikan.

Kondisi tersebut bisa menjadi alasan untuk melakukan evaluasi.

Trader kemudian dapat melihat:

  • apakah resistance kuat;
  • apakah muncul candlestick bearish;
  • apakah volume meningkat;
  • apakah terjadi rejection;
  • apakah trading plan mengharuskan take profit.

Jangan menjual hanya karena volume besar.

Lihat kombinasi informasinya.

Volume untuk Day Trading

Volume sangat penting bagi day trader karena trader jangka pendek membutuhkan saham yang mudah masuk dan keluar.

Saham dengan aktivitas perdagangan besar biasanya memiliki likuiditas yang lebih baik.

BEI menekankan bahwa likuiditas membantu trader melakukan transaksi masuk dan keluar dengan lebih mudah, sementara saham yang tidak likuid dapat menyulitkan ketika ingin menjual posisi.

Untuk day trading, trader biasanya memperhatikan:

  • volume;
  • frekuensi transaksi;
  • bid-offer;
  • spread;
  • volatilitas;
  • pergerakan harga.

Jangan hanya melihat volume besar.

Perhatikan juga kedalaman pasar dan kemudahan eksekusi order.

Volume untuk Swing Trading

Swing trader juga dapat menggunakan volume.

Bedanya, swing trader biasanya menggunakan timeframe yang lebih panjang dibandingkan day trader.

Misalnya:

  • 1 jam;
  • 4 jam;
  • harian.

Volume dapat membantu mengonfirmasi breakout, perubahan tren, atau pergerakan harga yang sedang terjadi.

OJK menjelaskan bahwa analisis teknikal menggunakan data historis harga dan volume untuk membantu menganalisis kemungkinan continuation atau reversal.

Cara Membaca Volume Saham Langkah demi Langkah

Bagi pemula, gunakan langkah sederhana berikut.

  1. Buka grafik saham — Pilih saham yang ingin dianalisis.
  2. Gunakan candlestick — Candlestick akan menunjukkan pergerakan harga.
  3. Aktifkan indikator volume — Volume biasanya berada di bawah grafik harga.
  4. Lihat rata-rata volume — Jangan hanya melihat satu batang. Bandingkan dengan beberapa hari sebelumnya.
  5. Lihat harga — Tanyakan: Harga naik atau turun?
  6. Cari support dan resistance — Perhatikan apakah harga sedang mendekati area penting.
  7. Cari perubahan volume — Apakah volume tiba-tiba meningkat? Apakah volume justru mengecil?
  8. Cari konfirmasi — Gabungkan volume dengan tren, candlestick, support, resistance, breakout, dan manajemen risiko.
  9. Jangan langsung membeli — Volume hanyalah satu bagian dari analisis. Tetap buat trading plan.

Contoh Analisis Volume Saham Sederhana

Misalnya saham XYZ memiliki data:

Hari Harga Penutupan Volume
Senin Rp900 1 juta
Selasa Rp920 1,1 juta
Rabu Rp940 1,2 juta
Kamis Rp960 1,5 juta
Jumat Rp1.020 3 juta

Apa yang menarik?

Harga naik dari:
Rp900 → Rp1.020

Volume juga meningkat dari:
1 juta → 3 juta saham

Kemudian misalnya resistance sebelumnya berada di Rp1.000.

Harga berhasil melewati Rp1.000 dan volume meningkat.

Bagi trader, ini dapat menjadi sinyal konfirmasi yang menarik untuk diamati.

Tetapi bukan berarti langsung membeli tanpa rencana.

Trader tetap harus menentukan:

  • titik entry;
  • stop loss;
  • target;
  • risiko maksimal;
  • kondisi jika breakout gagal.

Contoh False Breakout dengan Volume

Sekarang contoh lain.

Resistance: Rp1.000

Harga:
Rp980 → Rp1.020

Volume naik.

Trader mengira breakout.

Tetapi beberapa jam kemudian atau pada hari berikutnya:
Rp1.020 → Rp980 → Rp950

Harga kembali ke bawah resistance.

Ini adalah contoh sederhana false breakout.

Pelajarannya:
Volume besar tidak menjamin breakout berhasil.

Itulah sebabnya trader tetap membutuhkan stop loss dan manajemen risiko.

Kesalahan Pemula saat Membaca Volume Saham
Kesalahan Membaca Volume Saham

Kesalahan Pemula Saat Membaca Volume Saham

  1. Menganggap volume besar pasti bullish
    Salah. Volume besar bisa terjadi ketika harga naik maupun turun.
  2. Hanya melihat warna volume
    Warna bisa berbeda antarplatform. Yang lebih penting adalah hubungan volume dengan harga.
  3. Tidak membandingkan dengan volume sebelumnya
    Volume 2 juta saham bisa besar bagi satu saham tetapi kecil bagi saham lain.
  4. Menggunakan volume sendirian
    Volume sebaiknya dikombinasikan dengan price action dan indikator lainnya.
  5. Mengira volume adalah jumlah uang
    Volume menunjukkan jumlah saham yang diperdagangkan, bukan langsung nilai uang transaksi.
  6. Mengabaikan likuiditas
    Saham dengan volume kecil dapat lebih sulit ditransaksikan.
  7. Langsung membeli ketika volume melonjak
    Volume spike membutuhkan konteks. Cari tahu apa yang terjadi pada harga.

Volume Saham dan Manajemen Risiko

Volume dapat membantu menemukan peluang, tetapi manajemen risiko tetap lebih penting.

Misalnya kamu melihat breakout dengan volume sangat besar.

Kamu merasa yakin harga akan naik.

Tetapi tetap bisa terjadi false breakout.

Karena itu, sebelum masuk posisi, tentukan:
Di mana saya salah?

Jawabannya bisa berupa level stop loss.

Jangan membuat keputusan hanya karena:
"Volumenya besar, pasti naik."

Pasar tidak memberikan kepastian seperti itu.

Volume Saham Tidak Sama dengan Jumlah Lot

Ini juga penting bagi pemula.

Volume dan lot adalah dua hal berbeda.

Misalnya volume perdagangan tercatat:
10 juta saham.

Karena 1 lot = 100 saham, maka secara matematis:
10.000.000 ÷ 100 = 100.000 lot

Jadi volume 10 juta lembar setara dengan 100 ribu lot.

Namun, saat membaca grafik volume, platform dapat menampilkan volume dalam lembar saham atau satuan lain sesuai format aplikasi.

Karena itu, selalu perhatikan satuan yang digunakan platform trading.

Apa Hubungan Volume dengan Bid dan Offer?

Volume menunjukkan aktivitas transaksi yang sudah terjadi.

Sementara bid dan offer menunjukkan antrean permintaan dan penawaran yang sedang tersedia.

Misalnya:
Bid 1.000 — 500 lot
Offer 1.010 — 300 lot

Data tersebut menunjukkan antrean order.

Sementara volume menunjukkan transaksi yang sudah terjadi selama periode tertentu.

BEI menjelaskan bahwa bid adalah harga tertinggi yang bersedia dibayar pembeli, sedangkan ask/offer adalah harga terendah yang ditawarkan penjual. BEI juga menekankan bahwa volume dan kedalaman antrean dapat membantu membaca likuiditas.

Karena itu, trader dapat menggabungkan:
bid + offer + volume + harga
untuk mendapatkan gambaran pasar yang lebih lengkap.

Volume Saham untuk Pemula: Apa yang Harus Dilihat?

Kalau kamu baru belajar, jangan langsung menggunakan banyak indikator.

Cukup mulai dengan:

  1. Harga
  2. Candlestick
  3. Volume
  4. Support
  5. Resistance
  6. Tren

Setelah memahami enam hal tersebut, baru belajar indikator seperti:

  • Moving Average;
  • RSI;
  • MACD;
  • Bollinger Bands.

BEI juga memasukkan kombinasi tren, support-resistance, indikator seperti RSI, MACD, MA, Bollinger Bands, volume dan pola candlestick sebagai bagian dari pembelajaran analisis teknikal lanjutan.

Apakah Volume Saham Penting untuk Investor Jangka Panjang?

Volume juga bisa berguna bagi investor jangka panjang, tetapi penggunaannya berbeda dengan trader.

Investor jangka panjang biasanya lebih fokus pada:

  • fundamental perusahaan;
  • pendapatan;
  • laba;
  • arus kas;
  • utang;
  • prospek bisnis;
  • valuasi.

Volume dapat membantu memahami likuiditas dan aktivitas perdagangan saham.

OJK sendiri menekankan bahwa investor jangka panjang sebaiknya memiliki analisis fundamental yang baik sebelum menentukan saham, sementara analisis teknikal menggunakan harga dan volume untuk membantu menentukan waktu transaksi.

Jadi, jangan membeli saham hanya karena volumenya besar.

Kesimpulan

Apa itu volume saham?

Volume saham adalah jumlah saham yang diperdagangkan dalam periode tertentu.

Volume merupakan salah satu komponen penting dalam analisis teknikal karena dapat membantu trader melihat aktivitas perdagangan dan mengonfirmasi pergerakan harga.

Cara paling mudah membacanya adalah dengan melihat:
Harga + Volume.

Jika harga naik dan volume meningkat, aktivitas perdagangan saat harga naik sedang membesar.

Jika harga turun dan volume meningkat, aktivitas perdagangan saat harga turun juga sedang membesar.

Jika volume tiba-tiba melonjak, cari tahu apa yang terjadi pada harga.

Apakah:

  • breakout?
  • breakdown?
  • rejection?
  • mendekati resistance?
  • memantul dari support?
  • terjadi berita penting?

Jangan pernah menggunakan rumus sederhana:
volume besar = beli.

Volume bukan alat untuk memastikan harga akan naik atau turun.

Gunakan volume bersama candlestick, tren, support, resistance, bid-offer dan manajemen risiko.

Untuk trader pemula, memahami volume adalah langkah penting agar tidak hanya melihat harga saham, tetapi juga memahami seberapa ramai aktivitas perdagangan di balik pergerakan harga tersebut.

buy and sell bbri
Seorang trader sedang melakukan trading saham bbri di aplikasi trading

FAQ Volume Saham

Apa itu volume saham?

Volume saham adalah jumlah saham yang diperdagangkan dalam periode tertentu.

Apa fungsi volume dalam trading?

Volume membantu trader melihat aktivitas perdagangan, likuiditas dan memberikan konfirmasi tambahan terhadap pergerakan harga.

Apakah volume besar berarti saham akan naik?

Tidak. Volume besar bisa terjadi ketika harga naik maupun turun. Volume harus dibaca bersama pergerakan harga.

Apa arti volume besar pada saham?

Volume besar berarti jumlah saham yang diperdagangkan pada periode tersebut relatif tinggi dibandingkan periode lainnya.

Apa itu volume spike?

Volume spike adalah lonjakan volume yang jauh lebih besar dibandingkan volume sebelumnya.

Apakah volume penting untuk trading?

Ya. Volume dapat membantu trader memahami aktivitas perdagangan dan likuiditas saham. BEI menjelaskan bahwa volume perdagangan besar merupakan salah satu ciri saham yang aktif diperdagangkan.

Apa hubungan volume dengan breakout?

Volume dapat digunakan sebagai konfirmasi tambahan ketika harga menembus support atau resistance. Breakout dengan peningkatan volume biasanya lebih menarik untuk diamati daripada breakout tanpa peningkatan aktivitas, tetapi tetap memiliki risiko false breakout.

Apa perbedaan volume dan nilai transaksi?

Volume menunjukkan jumlah saham yang diperdagangkan, sedangkan nilai transaksi menunjukkan nilai uang dari perdagangan tersebut.

Apakah volume sama dengan lot?

Tidak. Lot adalah satuan transaksi. Di Indonesia, 1 lot = 100 lembar saham. Volume menunjukkan jumlah saham yang diperdagangkan dalam suatu periode.

Apakah volume saham bisa digunakan sendirian?

Sebaiknya tidak. Volume lebih baik digunakan bersama harga, candlestick, tren, support, resistance dan manajemen risiko.


Serial Belajar Saham:

  1. Apa Itu Trading? Pengertian Trading untuk Pemula
  2. Apa Itu Trading Saham? Pengertian, Cara Kerja dan Contohnya untuk Pemula
  3. 20 Istilah Penting Dalam Saham yang Wajib Diketahui Pemula
  4. Panduan Lengkap Investasi Saham untuk Pemula
  5. Cara Trading Saham untuk Pemula: Panduan Lengkap dari Nol
  6. Cara Main Saham Modal Kecil: Mulai Rp100 Ribu, Rp500 Ribu, atau Rp1 Juta
  7. 25 Aplikasi Trading Terpercaya dan Resmi di Indonesia yang Terdaftar OJK dan BEI
  8. Daftar Kode Broker Asing dan Lokal di Indonesia: Resmi Terdaftar di BEI dan OJK
  9. 12 Teknik Scalping Saham Paling Efektif untuk Dapat Cuan
  10. Analisis Teknikal untuk Pemula: Cara Membaca Grafik Saham dari Nol
  11. Apa Itu Support dan Resistance? Pengertian, Cara Menentukan dan Contohnya
  12. Cara Membaca Candlestick Saham: Panduan Lengkap untuk Pemula
  13. Apa Itu Volume Saham? Pengertian, Cara Membaca dan Contohnya

Disclaimer: Artikel ini bertujuan sebagai informasi edukasi dan bukan  rekomendasi atau perintah jual atau beli saham tertentu. Investasi saham memiliki risiko fluktuasi harga. Redaksi kuhuni.com tidak bertanggung jawab atas keputusan investasi pembaca.

0 comments

Posting Komentar

Terbaru

      Konten Pilihan