Cara Main Saham Modal Kecil: Mulai Rp100 Ribu, Rp500 Ribu, atau Rp1 Juta

Banyak orang mengira bermain saham membutuhkan modal besar. Padahal, kita bisa mulai belajar saham dengan modal kecil. Bahkan, dengan modal Rp100 ribu pun seseorang sudah bisa mulai mengenal cara membeli dan menjual saham.

Yang paling penting bukan seberapa besar uang yang kita punya. Yang lebih penting adalah belajar bagaimana saham bekerja, bagaimana menghitung untung dan rugi, serta bagaimana menjaga uang agar tidak cepat habis.

Cara Main Saham Modal Kecil
Cara main saham modal 100 ribu.

Misalnya, kita memiliki uang Rp100 ribu.

Kita tidak harus langsung berpikir, "Bagaimana caranya supaya Rp100 ribu menjadi Rp1 juta?"

Lebih baik berpikir seperti ini:

"Bagaimana caranya saya belajar bermain saham tanpa membuat uang saya habis?"

Cara berpikir seperti inilah yang penting bagi pemula.

Dalam artikel ini, kita akan belajar cara main saham dengan modal kecil, mulai dari Rp100 ribu, Rp500 ribu, sampai Rp1 juta.

Kita juga akan melihat contoh transaksi sederhana agar lebih mudah dipahami.

Daftar Isi

  1. Apakah bisa main saham dengan modal Rp100 ribu?

  2. Cara kerja jual beli saham

  3. Cara main saham dengan modal Rp100 ribu

  4. Contoh trading saham modal Rp100 ribu

  5. Kelebihan dan kekurangan modal Rp100 ribu

  6. Cara main saham dengan modal Rp500 ribu

  7. Contoh trading saham modal Rp500 ribu

  8. Kelebihan dan kekurangan modal Rp500 ribu

  9. Cara main saham dengan modal Rp1 juta

  10. Contoh trading saham modal Rp1 juta

  11. Kelebihan dan kekurangan modal Rp1 juta

  12. Perbandingan modal Rp100 ribu, Rp500 ribu, dan Rp1 juta

  13. Tips bermain saham untuk pemula

  14. Kesimpulan

Cara Mendapatkan Dividen dari Saham: Panduan Lengkap untuk Investor Pemula

Dividen merupakan pembagian keuntungan perusahaan kepada pemegang saham sesuai keputusan perusahaan dan ketentuan yang berlaku.

Dividen dapat diberikan dalam bentuk dividen tunai (cash dividend) maupun bentuk lain, seperti dividen saham (stock dividend).

Bagi investor, dividen menjadi salah satu cara memperoleh hasil dari investasi saham selain capital gain, yaitu keuntungan yang berasal dari kenaikan harga saham.

Namun, membeli saham perusahaan yang membagikan dividen saja belum cukup. Investor perlu memahami cum date, ex date, recording date, dan payment date agar mengetahui kapan harus memiliki saham dan kapan dividen akan dibayarkan.

cara dapat dividen saham
Cara mendapatkan dividen saham. Kuhuni.com

Apa Itu Dividen Saham?

Dividen adalah bagian dari laba atau keuntungan perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham berdasarkan keputusan perusahaan.

Misalnya sebuah perusahaan menetapkan dividen sebesar Rp100 per saham.

Investor yang memiliki 1.000 lembar saham secara bruto berhak atas:

1.000 × Rp100 = Rp100.000

Jumlah yang diterima investor dapat berbeda dari perhitungan bruto tersebut apabila terdapat pajak atau ketentuan lain yang berlaku.

Tidak semua perusahaan membagikan dividen. Sebagian perusahaan memilih menggunakan laba untuk ekspansi, membayar kewajiban, memperkuat modal, atau kebutuhan perusahaan lainnya.

Karena itu, investor perlu melihat kebijakan dividen dan kondisi keuangan perusahaan, bukan hanya besar kecilnya dividen.

Cara Mendapatkan Dividen dari Saham

Secara sederhana, langkah mendapatkan dividen adalah sebagai berikut:

1. Pilih saham yang membagikan dividen

Investor dapat mencari perusahaan yang memiliki riwayat pembagian dividen.

Namun, jangan hanya melihat apakah perusahaan pernah membayar dividen. Perhatikan juga:

  • laba perusahaan;

  • arus kas;

  • riwayat pembagian dividen;

  • payout ratio;

  • utang;

  • prospek bisnis;

  • kebijakan dividen perusahaan.

Perusahaan yang pernah membagikan dividen tidak berarti pasti akan membagikan dividen dengan jumlah yang sama pada tahun berikutnya.

2. Perhatikan jadwal pembagian dividen

Setiap pembagian dividen memiliki jadwal yang diumumkan perusahaan.

Tanggal yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Cum dividend

  • Ex dividend

  • Recording date

  • Payment date

KSEI juga mempublikasikan jadwal corporate action yang mencantumkan tanggal cum dividend, ex dividend, recording date, dan pembayaran dividen.

3. Beli saham sebelum atau pada cum date

Investor yang ingin memperoleh dividen perlu memperhatikan cum dividend date.

Untuk perdagangan di pasar reguler dan negosiasi, cum date merupakan akhir periode perdagangan saham dengan hak atas dividen.

Setelah itu masuk ke periode ex dividend, yaitu perdagangan saham tanpa hak atas dividen tersebut.

Jadi, jangan hanya melihat tanggal pembayaran dividen. Investor harus melihat jadwal cum dan ex dividend yang diumumkan emiten.

4. Pastikan saham tercatat pada recording date

Setelah periode cum dan ex dividend, terdapat recording date.

Recording date merupakan tanggal pencatatan pemegang saham yang berhak menerima dividen.

KSEI menjelaskan bahwa dividen tunai diberikan kepada pemegang saham yang tercatat pada recording date sesuai jadwal corporate action.

5. Tunggu payment date

Setelah seluruh proses selesai, perusahaan akan membayar dividen pada payment date.

Untuk saham yang berada dalam penitipan kolektif KSEI, pembayaran dividen tunai dilakukan melalui KSEI dan kemudian didistribusikan ke RDN pada perusahaan efek atau bank kustodian tempat investor membuka rekening efek.

Baca Juga: 20 Dividen Saham Terbesar 2026

Contoh Cara Mendapatkan Dividen

Misalnya:

  • Harga saham: Rp4.000

  • Dividen: Rp100 per saham

  • Kepemilikan: 10 lot

  • 1 lot: 100 saham

Jumlah saham:

10 × 100 = 1.000 saham

Dividen bruto:

1.000 × Rp100 = Rp100.000

Jadi investor memiliki hak atas dividen bruto sebesar Rp100.000, sebelum memperhitungkan pajak atau ketentuan lain yang berlaku.

Baca Juga: 10 Dividen Saham Terbesar 2025

Syarat Mendapatkan Dividen Saham

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan investor.

1. Memiliki rekening saham

Investor perlu memiliki rekening efek pada perusahaan sekuritas agar dapat melakukan transaksi saham.

Investor juga memiliki RDN untuk kebutuhan dana transaksi pasar modal.

2. Memiliki saham sesuai ketentuan jadwal dividen

Investor harus memiliki saham pada periode yang memberikan hak atas dividen.

Untuk perdagangan pasar reguler dan negosiasi, investor perlu memperhatikan cum date dan ex date yang tercantum dalam pengumuman pembagian dividen.

3. Tercatat sebagai pemegang saham yang berhak

Recording date digunakan untuk menentukan daftar pemegang saham yang berhak mendapatkan dividen.

KSEI menjelaskan bahwa data pada Sub Rekening Efek digunakan dalam proses administrasi corporate action, termasuk pembagian dividen.

4. Menunggu pembayaran dividen

Investor tidak perlu menjual saham untuk mendapatkan dividen.

Jika investor memenuhi ketentuan dan tercatat sebagai pemegang saham yang berhak, dividen akan dibayarkan sesuai jadwal.

Baca: Jadwal Dividen 2026: Cek Cum Dividen dan Tanggal Pembayaran

Empat Tanggal Penting Dividen

Agar lebih mudah dipahami, berikut empat tanggal yang perlu diketahui.

IstilahPengertian
Cum DividendAkhir periode perdagangan saham dengan hak dividen
Ex DividendAwal periode perdagangan saham tanpa hak dividen
Recording DateTanggal pencatatan pemegang saham yang berhak
Payment DateTanggal pembayaran dividen

Dalam praktiknya, jadwal dapat berbeda antara pasar reguler/negosiasi dan pasar tunai. Karena itu, investor sebaiknya selalu menggunakan jadwal resmi yang diumumkan emiten dan KSEI.

Baca: 10 Dividen Saham Terbesar 2022

Kalau Saham Dijual Saat Ex Date, Apakah Tetap Dapat Dividen?

Pada kondisi perdagangan pasar reguler, investor yang sudah membeli saham sebelum batas cum dividend dan kemudian menjualnya pada periode ex dividend tetap dapat menerima dividen tersebut, selama haknya sudah terbentuk sesuai mekanisme corporate action.

Contohnya:

  • Cum dividend: 22 Juni

  • Ex dividend: 23 Juni

  • Recording date: 24 Juni

  • Payment date: 15 Juli

Investor yang memenuhi ketentuan hingga cum date kemudian menjual saham pada ex date tetap memiliki hak atas dividen yang sudah menjadi haknya.

KSEI menunjukkan struktur jadwal seperti ini dalam pengumuman pembagian dividen.

Namun, investor perlu membedakan hak atas dividen dengan kepemilikan saham setelah ex date. Setelah saham memasuki ex dividend, saham tersebut diperdagangkan tanpa hak atas dividen yang sedang dibagikan.

1 Lot Saham Dapat Dividen Berapa?

Karena 1 lot = 100 lembar saham, jumlah dividen dapat dihitung dengan rumus:

Dividen = Dividen per saham × jumlah saham

Misalnya perusahaan membagikan dividen Rp90,90 per saham.

Maka investor yang memiliki 1 lot:

100 × Rp90,90 = Rp9.090

Jadi, 1 lot saham tersebut memberikan dividen bruto sebesar Rp9.090.

Semakin banyak saham yang dimiliki, semakin besar pula dividen yang diterima jika dividen per sahamnya sama.


Dividen Masuk ke Mana?

Untuk saham yang disimpan dalam penitipan kolektif KSEI, dividen tunai didistribusikan melalui KSEI dan kemudian masuk ke Rekening Dana Nasabah (RDN) pada perusahaan efek atau bank kustodian tempat investor membuka rekening efek.

Investor biasanya dapat melihat transaksi tersebut melalui aplikasi sekuritas yang digunakan.


Apakah Semua Saham Membagikan Dividen?

Tidak.

Tidak semua perusahaan membagikan dividen.

Ada perusahaan yang membagikan sebagian laba kepada pemegang saham, sementara sebagian lainnya memilih menahan laba untuk kebutuhan perusahaan.

Contohnya, perusahaan yang sedang melakukan ekspansi besar mungkin menggunakan laba untuk membangun pabrik, membuka cabang, mengembangkan produk, atau membiayai investasi lainnya.

Karena itu, jangan membeli saham hanya karena perusahaan pernah membagikan dividen.

Berapa Kali Dividen Dibagikan dalam Setahun?

Tidak ada kewajiban bahwa semua perusahaan harus membagikan dividen dengan frekuensi yang sama.

Ada perusahaan yang membagikan dividen satu kali dalam setahun, sementara perusahaan lain dapat membagikan dividen interim sebelum RUPS Tahunan dan kemudian membagikan dividen final setelah keputusan RUPS.

Jadi, investor harus melihat pengumuman resmi masing-masing perusahaan.


Siapa yang Menentukan Pembagian Dividen?

Pembagian dividen merupakan bagian dari keputusan perusahaan sesuai ketentuan yang berlaku.

Untuk dividen yang berasal dari penggunaan laba perusahaan, keputusan pembagian dan jumlahnya berkaitan dengan keputusan RUPS.

Besarnya dividen yang dibagikan juga dipengaruhi oleh laba, kondisi keuangan, kebutuhan investasi, kebijakan perusahaan, serta keputusan pemegang saham sesuai ketentuan yang berlaku.


Tips Mendapatkan Dividen

1. Jangan hanya mengejar dividend yield tinggi

Dividend yield memang penting, tetapi jangan digunakan sebagai satu-satunya pertimbangan.

Dividend yield yang tinggi bisa terjadi karena dividen besar, tetapi bisa juga karena harga saham sedang turun.

Rumus sederhananya:

Dividend Yield = Dividen per Saham ÷ Harga Saham × 100%

Misalnya dividen Rp100 dan harga saham Rp2.000:

Rp100 ÷ Rp2.000 × 100% = 5%

2. Lihat riwayat dividen

Periksa apakah perusahaan konsisten membagikan dividen dan bagaimana perkembangan jumlah dividennya.

Riwayat masa lalu tetap bukan jaminan bahwa dividen yang sama akan dibayarkan pada masa depan.

3. Perhatikan laba dan arus kas

Dividen pada dasarnya berkaitan dengan kemampuan perusahaan menghasilkan laba dan menyediakan dana untuk dibagikan.

Karena itu, investor sebaiknya melihat laporan keuangan dan tidak hanya melihat angka dividend yield.

4. Perhatikan payout ratio

Dividend payout ratio (DPR) menunjukkan seberapa besar bagian laba yang dibagikan sebagai dividen.

Misalnya perusahaan memperoleh laba Rp1 triliun dan membagikan Rp500 miliar sebagai dividen.

Secara sederhana, DPR-nya:

Rp500 miliar ÷ Rp1 triliun × 100% = 50%

Artinya sekitar 50% laba dibagikan sebagai dividen.

5. Jangan membeli saham hanya untuk mengejar dividen

Ada investor yang membeli saham menjelang cum date karena ingin mendapatkan dividen.

Namun, harga saham dapat bergerak naik atau turun setelah memasuki ex dividend.

Karena itu, mendapatkan dividen bukan berarti investasi otomatis menghasilkan keuntungan total.

Investor perlu memperhitungkan dividen dan perubahan harga saham.


Apakah Harga Saham Turun Setelah Ex Dividend?

Harga saham dapat mengalami penyesuaian ketika memasuki periode ex dividend karena saham tersebut tidak lagi membawa hak atas dividen yang sedang dibagikan.

Namun, penurunan harga tidak selalu persis sama dengan nilai dividen karena harga saham juga dipengaruhi oleh kondisi pasar, sentimen investor, kinerja perusahaan, permintaan dan penawaran, serta faktor lainnya.

Jadi, jangan menganggap membeli saham sebelum cum date lalu menjual setelah ex date sebagai cara mendapatkan keuntungan tanpa risiko.


Dividen vs Capital Gain

Investor saham pada dasarnya dapat memperoleh hasil dari dua sumber utama:

Capital gain

Keuntungan dari kenaikan harga saham.

Contoh:

Beli Rp1.000
Jual Rp1.300

Capital gain = Rp300 per saham sebelum biaya transaksi.

Dividen

Pembagian keuntungan perusahaan kepada pemegang saham.

Contoh:

Dividen = Rp100 per saham.

Keduanya dapat menjadi bagian dari hasil investasi saham, tetapi tidak ada jaminan bahwa investor akan selalu memperoleh capital gain maupun dividen.

Kesimpulan

Cara mendapatkan dividen dari saham sebenarnya cukup sederhana, tetapi investor harus memahami jadwal corporate action.

Hal terpenting adalah mengetahui cum dividend, ex dividend, recording date, dan payment date.

Investor yang memenuhi ketentuan sebagai pemegang saham yang berhak akan menerima dividen sesuai jadwal yang ditetapkan perusahaan.

Untuk saham dalam penitipan kolektif KSEI, dividen tunai didistribusikan melalui KSEI dan diteruskan ke RDN investor melalui perusahaan efek atau bank kustodian.

Namun, investor sebaiknya tidak membeli saham hanya karena mengejar dividen. Besarnya dividen perlu dilihat bersama dengan kinerja perusahaan, laba, arus kas, payout ratio, valuasi, dan risiko perubahan harga saham.

Dividen dapat menjadi salah satu sumber hasil investasi saham, tetapi bukan berarti setiap saham yang membayar dividen pasti menghasilkan keuntungan investasi secara keseluruhan.

Baca Juga: 10 Aplikasi Trading Saham Terdaftar OJK: Paling Banyak Digunakan

Tanya Jawab Seputar Dividen Saham

Siapa yang berhak menerima dividen?

Pemegang saham yang memenuhi ketentuan corporate action dan tercatat sebagai pemegang saham yang berhak pada recording date.

Apakah harus memiliki saham sampai payment date?

Tidak. Hak dividen ditentukan berdasarkan jadwal dan mekanisme corporate action. Investor tidak harus terus memegang saham sampai tanggal pembayaran untuk menerima dividen yang sudah menjadi haknya.

Apakah menjual saham saat ex date tetap mendapatkan dividen?

Untuk saham yang diperdagangkan di pasar reguler, investor yang telah memiliki hak dividen sebelum memasuki ex date tetap berhak menerima dividen tersebut.

1 lot saham dapat dividen berapa?

Jika 1 lot terdiri dari 100 saham dan dividen Rp100 per saham, maka dividen bruto:

100 × Rp100 = Rp10.000.

Dividen masuk ke mana?

Untuk saham dalam penitipan kolektif KSEI, dividen tunai didistribusikan melalui KSEI ke RDN pada perusahaan efek atau bank kustodian investor.

Apakah semua perusahaan membagikan dividen?

Tidak. Pembagian dividen bergantung pada kondisi perusahaan dan keputusan sesuai ketentuan yang berlaku.

Apakah dividen selalu dibagikan setahun sekali?

Tidak. Frekuensi pembagian dividen berbeda-beda antarperusahaan. Ada perusahaan yang membagikan dividen tahunan dan ada pula yang dapat membagikan dividen interim.

Apa perbedaan cum date dan recording date?

Cum date merupakan akhir periode perdagangan saham dengan hak dividen, sedangkan recording date merupakan tanggal pencatatan pemegang saham yang berhak menerima dividen.

Apa itu dividend yield?

Dividend yield adalah perbandingan dividen per saham dengan harga saham. Rumusnya:

Dividend Yield = Dividen per Saham ÷ Harga Saham × 100%.

Apakah membeli saham sebelum cum date pasti untung?

Tidak. Mendapatkan hak dividen tidak menjamin keuntungan investasi secara keseluruhan karena harga saham dapat bergerak naik atau turun.



Baca JUGA:

20 Istilah dalam Saham yang Wajib Diketahui Investor Pemula

Bagi orang yang baru mulai investasi saham, ada banyak istilah yang mungkin terdengar asing. Mulai dari lot, emiten, sekuritas, bid, offer, capital gain, capital loss, ARA, ARB hingga dividen.

Memahami istilah-istilah tersebut penting karena hampir semua muncul ketika investor membuka aplikasi trading dan melakukan transaksi saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Istilah 1 lot saham

Berikut 20 istilah dalam saham yang perlu diketahui investor pemula.

Kenapa Main Saham Bisa Rugi? Ini Kesalahan yang Sering Dilakukan Investor

Rugi main saham hampir pasti pernah dialami para investor maupun trader. Masalah terbesar bukan sekadar saat harga saham turun, tetapi bagaimana seseorang menghadapi kerugian tersebut.

Ada investor sudah rugi 5%, tetapi bisa keluar dengan tenang. Ada juga yang awalnya hanya rugi 10%, tetapi karena terus berharap harga akan naik, kerugiannya menjadi 30%, 50%, bahkan lebih besar.

Di sinilah persoalan yang sebenarnya.

Harga saham naik dan turun adalah risiko pasar. Tetapi membiarkan kerugian semakin besar merupakan kesalahan si investor dalam mengambil keputusan.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan bahwa setiap investor memiliki profil risiko, tujuan, jangka waktu, dan tingkat toleransi risiko yang berbeda. Karena itu, pemilihan produk investasi seharusnya disesuaikan dengan kondisi masing-masing investor.

ARA Saham IPO Terbaru 2026: Batas Auto Reject Atas 35%, 25%, dan 20%

ARA saham IPO menjadi salah satu hal yang perlu diketahui investor sebelum membeli saham perusahaan yang baru melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).

ARA merupakan singkatan dari Auto Rejection Atas, yaitu batas maksimal kenaikan harga saham dalam satu hari perdagangan. Jika investor memasukkan pesanan beli di atas batas yang ditentukan, sistem perdagangan BEI akan menolaknya secara otomatis.

Namun, batas ARA saham IPO tidak sama untuk semua saham. Besarnya ARA bergantung pada rentang harga saham dan papan pencatatannya.


ara saham ipo
Ara saham ipo

Berdasarkan ketentuan BEI yang berlaku saat ini, batas ARA untuk saham pada Papan Utama, Papan Pengembangan, dan Papan Ekonomi Baru adalah 35%, 25%, atau 20%, tergantung harga saham.

Sementara itu, saham yang tercatat di Papan Akselerasi dan Papan Pemantauan Khusus (Watchlist) memiliki ketentuan ARA tersendiri.

Berapa Batas ARA Saham IPO 2026?

Berikut batas Auto Rejection Atas saham yang berlaku di BEI:

Papan/Rentang Harga

Batas ARA

Papan Utama, Papan Pengembangan, Papan Ekonomi Baru: Rp50–Rp200

35%

Papan Utama, Papan Pengembangan, Papan Ekonomi Baru: >Rp200–Rp5.000

25%

Papan Utama, Papan Pengembangan, Papan Ekonomi Baru: >Rp5.000

20%

Papan Akselerasi & Watchlist: Rp1–Rp10

Rp1

Papan Akselerasi & Watchlist: >Rp10

10%

Ketentuan tersebut efektif sejak 8 April 2025 berdasarkan Peraturan BEI Nomor II-A Kep-00003/BEI/04-2025. BEI juga menetapkan bahwa perdagangan perdana saham hasil penawaran umum menggunakan 1 kali persentase batas Auto Rejection yang berlaku.

Artinya, saham IPO tidak otomatis memiliki batas ARA dua kali lipat dari batas normal.

1. ARA Saham IPO Harga Rp50 sampai Rp200

Saham IPO dengan harga perdana Rp50 sampai Rp200 memiliki batas ARA sebesar 35% apabila saham tersebut berada pada Papan Utama, Papan Pengembangan, atau Papan Ekonomi Baru.

Sebagai contoh, sebuah saham IPO ditawarkan dengan harga Rp100 per saham.

Perhitungannya:

Rp100 × 35% = Rp35

Maka harga saham setelah naik sebesar batas ARA menjadi:

Rp100 + Rp35 = Rp135

Jadi, secara persentase, saham IPO dengan harga Rp100 dapat naik maksimal 35% atau menjadi Rp135 apabila langsung mencapai ARA.

Contoh lain, jika harga IPO Rp150:

Rp150 × 35% = Rp52,50

Harga secara teoritis menjadi Rp202,50. Namun, harga transaksi di Bursa tetap mengikuti fraksi harga saham yang berlaku.

Perlu diperhatikan saat harga melewati Rp200

Ada hal penting yang sering membuat investor bingung.

Misalnya saham IPO dibuka pada harga Rp150 dan kemudian naik hingga melewati Rp200. Ketika harga acuannya sudah berada di kelompok harga di atas Rp200 sampai Rp5.000, batas persentase ARA berikutnya mengikuti kelompok tersebut, yaitu 25%.

Jadi, persentase ARA tidak selamanya 35%.

2. ARA Saham IPO Harga di Atas Rp200 sampai Rp5.000

Untuk saham dengan harga lebih dari Rp200 sampai Rp5.000, batas ARA adalah 25%.

Misalnya harga IPO ditetapkan Rp500.

Perhitungannya:

Rp500 × 25% = Rp125

Jika saham tersebut mencapai batas ARA, harga maksimal berdasarkan persentase tersebut menjadi:

Rp500 + Rp125 = Rp625

Contoh lain, saham IPO dengan harga Rp1.000.

Rp1.000 × 25% = Rp250

Maka harga setelah naik 25% menjadi:

Rp1.250

Ketentuan 25% ini berlaku untuk saham pada Papan Utama, Papan Pengembangan, dan Papan Ekonomi Baru dalam rentang harga tersebut.

3. ARA Saham IPO Harga di Atas Rp5.000

Bagaimana jika harga saham IPO berada di atas Rp5.000?

Batas ARA yang berlaku adalah 20%.

Contohnya, sebuah perusahaan menetapkan harga IPO Rp10.000 per saham.

Perhitungannya:

Rp10.000 × 20% = Rp2.000

Jika mencapai batas ARA, harga saham menjadi:

Rp12.000

Jadi, saham dengan harga di atas Rp5.000 tidak menggunakan batas ARA 25% atau 35%, tetapi 20%.

4. Bagaimana ARA Saham IPO Papan Akselerasi?

Saham yang tercatat di Papan Akselerasi memiliki aturan berbeda.

Untuk harga saham Rp1 sampai Rp10, batas ARA bukan dihitung berdasarkan persentase. Batas perubahannya adalah Rp1.

Sementara untuk harga saham di atas Rp10, batas ARA adalah 10%.

Contohnya, saham Papan Akselerasi memiliki harga Rp50.

Maka batas ARA:

Rp50 × 10% = Rp5

Harga maksimal berdasarkan batas ARA menjadi:

Rp55

Sedangkan jika harga saham Papan Akselerasi Rp10, batas perubahannya adalah Rp1, bukan 10%.

Dengan demikian:

Harga Saham Akselerasi

Batas ARA

Rp1–Rp10

Rp1

Di atas Rp10

10%

BEI saat ini mencantumkan Papan Akselerasi dan Papan Pemantauan Khusus dalam kelompok yang menggunakan ketentuan tersebut.

5. Apakah ARA Saham IPO Sama dengan ARA Saham Biasa?

Untuk perdagangan perdana, BEI menetapkan bahwa Auto Rejection saham hasil penawaran umum yang pertama kali diperdagangkan di Bursa ditetapkan sebesar 1 kali persentase batas Auto Rejection yang berlaku.

Dengan demikian, investor tidak perlu menggunakan rumus lama yang menganggap batas ARA saham IPO dua kali lipat.

Misalnya saham IPO berada pada rentang harga Rp50–Rp200.

Batas ARA yang berlaku adalah:

35% × 1 = 35%

Jika harga IPO Rp100, batas kenaikannya secara persentase adalah Rp35.

Harga menjadi sekitar Rp135, dengan tetap memperhatikan ketentuan fraksi harga.

Aturan ini tercantum langsung dalam mekanisme perdagangan BEI.

6. Cara Menghitung ARA Saham IPO

Untuk mempermudah, investor bisa menggunakan rumus sederhana:

Nilai ARA = Harga Saham × Persentase ARA

Kemudian:

Harga ARA = Harga Saham + Nilai ARA

Berikut beberapa contoh.

IPO Rp100

Harga IPO = Rp100
ARA = 35%

Rp100 × 35% = Rp35

Harga ARA = Rp135

IPO Rp500

Harga IPO = Rp500
ARA = 25%

Rp500 × 25% = Rp125

Harga ARA = Rp625

IPO Rp2.000

Harga IPO = Rp2.000
ARA = 25%

Rp2.000 × 25% = Rp500

Harga ARA = Rp2.500

IPO Rp10.000

Harga IPO = Rp10.000
ARA = 20%

Rp10.000 × 20% = Rp2.000

Harga ARA = Rp12.000

Baca Juga: 10 Aplikasi Trading Saham Terbaik

Perhitungan di atas merupakan ilustrasi berdasarkan persentase batas ARA. Harga transaksi aktual tetap mengikuti fraksi harga dan mekanisme perdagangan BEI.

7. Apakah ARA Saham IPO Hari Kedua Tetap Sama?

Belum tentu.

Pada perdagangan berikutnya, batas ARA dihitung berdasarkan harga acuan yang berlaku.

BEI menjelaskan bahwa harga acuan untuk pembatasan harga dapat menggunakan harga previous, harga teoretis hasil aksi korporasi, atau harga perdana untuk saham perusahaan yang baru pertama kali diperdagangkan di Bursa, sesuai kondisi yang berlaku.

Selain itu, perubahan harga saham dapat membuat saham masuk ke kelompok harga yang berbeda.

Misalnya:

·         Harga awal Rp150 → kelompok ARA 35%

·         Harga kemudian berada di atas Rp200 → masuk kelompok ARA 25%

Karena itu, investor tidak bisa berasumsi bahwa sebuah saham akan selalu memiliki batas ARA 35% setiap hari hanya karena harga IPO-nya berada di bawah Rp200.

8. ARA Bukan Berarti Saham Pasti Bagus

Saham yang ARA pada hari pertama memang menarik perhatian pasar.

Namun, ARA bukan ukuran bahwa sebuah perusahaan memiliki fundamental yang bagus.

ARA hanya menunjukkan bahwa harga saham telah mencapai batas kenaikan yang ditentukan dalam sistem perdagangan Bursa.

Kenaikan tersebut bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain:

·         Permintaan investor yang tinggi;

·         Jumlah saham yang ditawarkan saat IPO;

·         Jumlah saham yang tersedia untuk diperdagangkan;

·         Valuasi perusahaan;

·         Prospek industri;

·         Sentimen pasar;

·         Kondisi IHSG;

·         Ekspektasi investor terhadap kinerja perusahaan.

Karena itu, investor sebaiknya tidak membeli saham IPO hanya karena melihat saham tersebut ARA.

9. ARA dan ARB Saham Terbaru

Selain ARA, investor juga perlu memahami ARB atau Auto Rejection Bawah.

Jika ARA membatasi kenaikan harga, ARB membatasi penurunan harga saham.

Untuk saham pada Papan Utama, Papan Pengembangan, dan Papan Ekonomi Baru, batas saat ini adalah:

·         ARA 35% dan ARB 15% untuk harga Rp50–Rp200;

·         ARA 25% dan ARB 15% untuk harga >Rp200–Rp5.000;

·         ARA 20% dan ARB 15% untuk harga >Rp5.000.

Sementara Papan Akselerasi dan Watchlist menggunakan ketentuan tersendiri.

Perubahan batas ARB menjadi 15% merupakan bagian dari kebijakan asymmetric auto rejection yang efektif diberlakukan sejak 8 April 2025.

Baca Juga: Pengertian Saham Akselerasi dan Ciri-cirinya


Kesimpulan

ARA saham IPO 2026 tidak lagi bisa disamaratakan 35% untuk semua saham.

Untuk saham Papan Utama, Papan Pengembangan, dan Papan Ekonomi Baru, batas ARA berdasarkan harga adalah:

·         Rp50–Rp200: 35%

·         Di atas Rp200–Rp5.000: 25%

·         Di atas Rp5.000: 20%

Sementara untuk Papan Akselerasi dan Papan Pemantauan Khusus, batasnya adalah:

·         Rp1–Rp10: Rp1

·         Di atas Rp10: 10%

Khusus perdagangan perdana saham hasil IPO, BEI menetapkan penerapan Auto Rejection sebesar 1 kali persentase batas ARA yang berlaku.

Jadi, jika ada saham IPO dengan harga Rp100, batas ARA-nya 35%. Jika harga IPO Rp500, batas ARA-nya 25%. Sedangkan jika harga IPO Rp10.000, batas ARA-nya 20%.

Investor juga perlu memahami bahwa saham yang ARA bukan berarti otomatis merupakan saham yang bagus. ARA hanya menunjukkan bahwa harga telah mencapai batas kenaikan yang ditetapkan Bursa.

FAQ ARA Saham IPO

Berapa persen ARA saham IPO 2026?
Batas ARA saham IPO adalah 35%, 25%, atau 20% untuk saham Papan Utama, Papan Pengembangan, dan Papan Ekonomi Baru, tergantung rentang harga saham. Papan Akselerasi dan Watchlist memiliki ketentuan tersendiri.

Apakah semua saham IPO bisa ARA 35%?
Tidak. Batas 35% berlaku untuk saham dengan harga Rp50 sampai Rp200 pada Papan Utama, Papan Pengembangan, dan Papan Ekonomi Baru.

Berapa ARA saham IPO harga Rp500?
Saham IPO dengan harga Rp500 berada pada kelompok >Rp200 sampai Rp5.000, sehingga batas ARA-nya 25%.

Berapa ARA saham IPO harga Rp100?
Batas ARA-nya 35%. Secara sederhana, Rp100 dapat naik Rp35 menjadi Rp135, dengan memperhatikan fraksi harga yang berlaku.

Berapa ARA saham IPO harga Rp10.000?
Batas ARA untuk harga di atas Rp5.000 adalah 20%. Dengan harga Rp10.000, kenaikan berdasarkan batas tersebut adalah Rp2.000, sehingga menjadi Rp12.000.

Apakah ARA saham IPO hari kedua tetap sama?
Tidak selalu. Batas ARA perdagangan berikutnya mengikuti harga acuan dan kelompok harga saham pada hari tersebut.

Apakah saham yang ARA berarti bagus?
Tidak. ARA hanya merupakan batas kenaikan harga dalam mekanisme perdagangan Bursa dan bukan ukuran fundamental perusahaan.


Sumber data: Bursa Efek Indonesia

Nyangkut di Saham, Lalu Mengaku Jadi Investor!

Nyangkut di saham
Trading Saham. Gambar oleh stocksnap /pixabay


Pernah melihat tulisan di grup WhatsApp seperti ini?

"Besok saham DADA terbang!"

Atau di Telegram:

"Ada info orang dalam. Katanya perusahaan ini mau dapat proyek besar."

Kemudian ada yang menambahkan:

"Gas sekarang sebelum ketinggalan!"

Harga saham pun mulai naik.

Melihat grafik hijau, kita ikut membeli.

Awalnya senang.

Harga naik 3%.

Lalu 5%.

Kita mulai membayangkan keuntungan.

Tetapi tiba-tiba harga berbalik.

Turun 5%.

Turun lagi 10%.

Besoknya turun lagi.

Kita mulai panik.

Mau jual rugi, rasanya sayang.

Akhirnya muncul kalimat yang sangat sering terdengar di pasar saham:

"Ya sudah, saya simpan saja. Sekarang saya jadi investor jangka panjang."

Padahal, kalau jujur, sebenarnya bukan menjadi investor.

Tetapi nyangkut.

Inilah salah satu kesalahan paling umum yang dilakukan trader saham.


Awalnya Mau Trading, Akhirnya Jadi Investor

Kita mulai dari sebuah cerita sederhana.

Misalnya, ada trader bernama Andi.

Andi punya uang Rp10 juta.

Tujuannya jelas: trading saham.

Dia masuk ke sebuah saham karena melihat pesan di grup Telegram.

Pesannya kira-kira seperti ini:

"XYZ akan ada aksi korporasi besar. Target 2.000. Sekarang masih 1.500. Jangan sampai ketinggalan!"

Andi tidak tahu siapa yang mengirim informasi tersebut.

Dia juga tidak tahu sumbernya dari mana.

Tetapi karena banyak anggota grup ikut membahas saham tersebut, Andi merasa informasi itu benar.

Akhirnya dia membeli saham XYZ di harga Rp1.500.

Beberapa jam kemudian harga naik menjadi Rp1.550.

Andi senang.

"Benar nih informasinya!"

Keesokan harinya harga justru turun.

Rp1.500.

Rp1.450.

Rp1.400.

Andi mulai berpikir:

"Mungkin besok naik lagi."

Ternyata besok turun menjadi Rp1.300.

Kerugian sudah sekitar 13%.

Andi mulai bingung.

Kalau dijual sekarang, kerugiannya sekitar Rp1,3 juta.

Akhirnya dia memilih tidak menjual.

Dia berkata:

"Saya simpan saja. Anggap investasi."

Di sinilah masalahnya.

Andi tidak pernah membeli saham itu untuk investasi.

Dia membelinya untuk trading.

Karena harga turun, rencana trading berubah menjadi investasi.


Apa Bedanya Trader dan Investor?

Sebenarnya sederhana.

Trader membeli karena melihat peluang pergerakan harga.

Investor membeli karena percaya pada bisnis perusahaan dalam jangka panjang.

Misalnya harga saham ABC Rp1.000.

Trader mungkin berpikir:

"Kalau naik ke Rp1.100, saya jual."

Berarti targetnya berdasarkan pergerakan harga.

Sementara investor mungkin berpikir:

"Perusahaan ini labanya tumbuh, utangnya terkendali, bisnisnya bagus, dan saya yakin lima tahun lagi perusahaan ini akan lebih besar."

Berarti alasan membeli berdasarkan bisnis perusahaan.

Jadi ketika saham turun, keduanya juga berbeda.

Trader harus bertanya:

"Apakah alasan trading saya masih berlaku?"

Investor harus bertanya:

"Apakah bisnis perusahaan masih bagus?"

Masalah terjadi ketika seseorang membeli sebagai trader, tetapi ketika rugi tiba-tiba menggunakan alasan investor.

"Saya Jadi Investor" Kadang Hanya Alasan karena Rugi

Ini bagian yang sering tidak enak untuk dibicarakan.

Ada orang yang mengatakan:

"Saya bukan nyangkut. Saya memang investasi jangka panjang."

Padahal tiga hari sebelumnya dia membeli saham karena ada rumor di grup Telegram.

Kalau memang sejak awal ingin investasi, seharusnya sebelum membeli dia sudah mempelajari perusahaan.

Misalnya:

  • perusahaan bergerak di bidang apa;
  • berapa laba perusahaan;
  • apakah labanya tumbuh;
  • berapa utangnya;
  • bagaimana arus kasnya;
  • bagaimana prospek bisnisnya;
  • apakah harga sahamnya masuk akal.

Kalau semua itu tidak dilakukan, kemudian setelah harga turun baru berkata "saya investor jangka panjang", itu bukan strategi investasi.

Itu lebih mirip mengubah nama kerugian menjadi investasi.


Kenapa Rumor Sangat Berbahaya?

Karena rumor biasanya datang ketika kita tidak punya cukup informasi.

Contohnya begini.

Di grup WhatsApp muncul pesan:

"Katanya perusahaan ABC akan mendapatkan proyek Rp10 triliun."

Kita langsung tertarik.

Masalahnya, kata "katanya" tidak bisa dipakai untuk membeli saham.

Kita tidak tahu:

  • siapa yang mengatakan;
  • dari mana informasinya;
  • apakah proyek benar-benar ada;
  • apakah perusahaan sudah mendapat kontrak;
  • berapa keuntungan yang akan diperoleh;
  • kapan proyek dimulai;
  • apakah informasi tersebut sudah diumumkan secara resmi.

Tetapi karena terdengar menarik, kita langsung membeli.

Inilah yang sering terjadi.

Rumor masuk lebih cepat daripada analisis.


Grup Telegram dan WhatsApp Bukan Masalah

Yang perlu dipahami, bukan berarti semua grup Telegram atau WhatsApp itu buruk.

Ada banyak grup yang isinya edukasi.

Ada juga orang yang berbagi analisis dengan serius.

Masalahnya adalah ketika kita menelan informasi mentah-mentah.

Misalnya seseorang menulis:

"BBBR akan naik. Ada bandar masuk!"

Kita jangan langsung bertanya:

"Beli di harga berapa?"

Pertanyaan pertama seharusnya:

"Dasarnya apa?"

Kalau jawabannya:

"Katanya teman saya."

Kita harus berhenti.

Karena kalau kita membeli hanya berdasarkan informasi yang tidak jelas, kita sebenarnya sedang meminjam keyakinan orang lain untuk mempertaruhkan uang sendiri.


Media Sosial Juga Bisa Membuat Kita Terjebak

Sekarang informasi saham sangat mudah ditemukan.

Buka TikTok.

Ada orang membahas saham.

Buka Instagram.

Ada yang menunjukkan keuntungan trading.

Buka YouTube.

Ada yang mengatakan:

"Saham ini bisa 10 kali lipat!"

Buka X atau media sosial lainnya.

Ada orang yang mengatakan:

"Besok saham ini akan terbang!"

Masalahnya, kita sering hanya melihat bagian akhirnya.

Kita melihat orang tersebut mendapatkan keuntungan.

Kita tidak melihat berapa kali dia salah.

Kita juga tidak tahu apakah dia benar-benar membeli saham tersebut.

Bahkan kita tidak tahu apakah tujuan kontennya memang memberikan edukasi atau sekadar mendapatkan penonton.

Contoh sederhana

Ada seseorang membuat video:

"Saya cuan Rp20 juta dari saham ABC!"

Kita melihat hasilnya.

Tetapi kita tidak melihat mungkin sebelum itu dia mengalami kerugian Rp30 juta.

Atau mungkin modalnya Rp500 juta, sehingga keuntungan Rp20 juta hanya sekitar 4%.

Kalau kita hanya melihat angka Rp20 juta, kita bisa mendapatkan gambaran yang salah.

Media sosial sering menunjukkan hasil, tetapi tidak selalu menunjukkan seluruh proses.


Masalah Terbesar Bukan Rumornya

Sebenarnya masalah terbesar bukan rumor.

Masalahnya adalah kita membeli saham tanpa memiliki alasan sendiri.

Bayangkan kita membeli rumah.

Apakah kita akan membeli rumah hanya karena tetangga berkata:

"Rumah ini nanti pasti mahal."

Tentu tidak.

Kita mungkin akan melihat:

  • lokasi;
  • kondisi bangunan;
  • harga;
  • akses jalan;
  • lingkungan;
  • sertifikat;
  • potensi kawasan.

Saham seharusnya juga begitu.

Saham bukan sekadar kode seperti BBRI, BBCA, ANTM atau lainnya.

Di balik kode tersebut ada perusahaan dan bisnis nyata.

Kalau kita membeli saham, sebenarnya kita sedang membeli sebagian kecil dari sebuah perusahaan.

Karena itu, kita harus tahu apa yang kita beli.

Baca:
Aplikasi Trading Saham Terbaik 2026 Terdaftar Resmi di OJK

Jangan Membeli Saham Hanya karena Takut Ketinggalan

Ada satu penyakit yang sangat sering terjadi pada trader pemula:

FOMO.

Fear of Missing Out.

Artinya, takut ketinggalan.

Misalnya kita melihat saham ABC naik 10%.

Kita merasa:

"Waduh, kalau tidak beli sekarang saya ketinggalan."

Akhirnya kita membeli.

Padahal harga sudah naik jauh.

Kemudian harga berhenti naik.

Lalu turun.

Kita panik.

Padahal kalau kita tidak membeli karena FOMO, tidak ada kerugian sama sekali.

Tidak membeli saham juga merupakan keputusan.

Kita tidak harus memiliki saham setiap hari.

Pasar saham buka hampir setiap hari perdagangan.

Peluang akan selalu muncul lagi.

Baca: Cara Mendapatkan Dividen dari Saham: Panduan Lengkap untuk Investor Pemula 

Kalau Sudah Terlanjur Nyangkut, Apa yang Harus Dilakukan?

Ini pertanyaan penting.

Misalnya kita sudah membeli saham karena rumor.

Kemudian saham turun 20%.

Jangan langsung berkata:

"Saya jadi investor."

Berhenti sebentar.

Lalu tanyakan tiga hal.

Pertama: Kenapa saya membeli saham ini?

Apakah karena fundamental?

Atau karena rumor?

Atau karena seseorang di Telegram mengatakan akan naik?

Kalau jawabannya hanya rumor, berarti kita harus mengakui bahwa alasan awalnya memang lemah.

Kedua: Kalau hari ini saya belum punya saham ini, apakah saya masih mau membelinya?

Ini pertanyaan yang sangat bagus.

Bayangkan uang kita kembali menjadi cash.

Kemudian saham tersebut sekarang berada di harga yang sama.

Apakah kita akan membeli?

Kalau jawabannya tidak, mengapa kita masih mempertahankannya?

Ketiga: Apa alasan saya tetap memegang saham ini?

Kalau jawabannya:

"Karena sudah rugi."

Itu bukan alasan investasi.

Kerugian masa lalu tidak otomatis membuat saham tersebut layak dipertahankan.

Baca:5 Trik Pemula Trading Saham agar Tidak Rugi Sejak Hari Pertama

Jangan Mengubah Trading yang Salah Menjadi Investasi

Inilah pelajaran paling penting.

Trading yang gagal tidak otomatis berubah menjadi investasi.

Kalau kita membeli saham karena berharap naik 10% dalam beberapa hari, lalu harga turun 30%, kita tidak bisa begitu saja mengatakan:

"Saya pegang lima tahun."

Boleh saja.

Tetapi sebelum itu, kita harus melakukan analisis ulang.

Apakah perusahaannya memang layak dimiliki selama lima tahun?

Kalau iya, kita memiliki alasan baru untuk menjadi investor.

Kalau tidak, kita sebenarnya hanya sedang menunggu harga kembali ke modal.

Dan itu dua hal yang berbeda.

Kesalahan Ini Bisa Terjadi pada Siapa Saja

Tidak perlu malu kalau pernah mengalaminya.

Hampir semua orang yang pernah masuk pasar saham pasti pernah membuat keputusan yang salah.

Masalahnya bukan pernah salah.

Masalahnya adalah tidak belajar dari kesalahan tersebut.

Kalau hari ini kita nyangkut karena rumor, kita bisa belajar.

Mulai sekarang, sebelum membeli saham, biasakan bertanya:

"Kenapa saya membeli saham ini?"

Kemudian tulis jawabannya.

Misalnya:

"Saya membeli karena laba perusahaan tumbuh, valuasinya masih masuk akal dan saya melihat prospek bisnisnya bagus."

Atau:

"Saya membeli untuk trading karena ada pola harga tertentu dan saya sudah menentukan batas kerugian."

Dengan begitu, ketika harga turun, kita tahu apa yang harus dilakukan.

Kita tidak perlu membuat alasan baru.

Baca:Rahasia Trading Saham yang Jarang Diketahui, Pemula Bisa Untung Besar

Kesimpulan

Membeli saham berdasarkan rumor dari Telegram, WhatsApp, TikTok, YouTube atau media sosial adalah salah satu kesalahan yang sering dilakukan trader pemula.

Bukan berarti semua informasi dari media sosial salah.

Tetapi informasi orang lain tidak boleh menggantikan keputusan kita sendiri.

Jangan membeli hanya karena seseorang berkata:

"Besok terbang."

Jangan membeli hanya karena:

"Bandar masuk."

Dan jangan membeli hanya karena:

"Kalau tidak beli sekarang, bakal ketinggalan."

Yang paling penting adalah tahu kenapa kita membeli saham tersebut.

Karena ketika harga naik, kita tahu kapan harus mengambil keuntungan.

Ketika harga turun, kita juga tahu kapan harus mengakui bahwa analisis kita salah.

Dan yang paling penting:

Jangan sampai niat awalnya trading, tetapi karena nyangkut akhirnya mengaku menjadi investor.

Menjadi investor itu Keputusan, bukan karena nyangkut.

Terbaru

      Konten Pilihan