Trading vs investasi sering menjadi pertanyaan orang yang baru mulai mengenal pasar modal.
Keduanya sama-sama
bisa dilakukan dengan membeli saham. Keduanya juga sama-sama memiliki peluang
menghasilkan keuntungan. Namun, trading dan investasi mempunyai tujuan,
jangka waktu, strategi, serta cara mengelola risiko yang berbeda.
Secara sederhana, trading
lebih berfokus pada pergerakan harga dalam jangka relatif pendek, sedangkan
investasi lebih berfokus pada pertumbuhan nilai aset dalam jangka panjang.
Bursa Efek Indonesia juga menggunakan pembedaan tersebut dalam materi
edukasinya.
![]() |
| Trading vs Investasi |
Misalnya ada dua orang
membeli saham perusahaan yang sama.
Orang pertama membeli
saham karena memperkirakan harganya akan naik dalam beberapa hari. Jika target
tercapai, saham tersebut dijual.
Orang kedua membeli
saham karena percaya perusahaan tersebut akan berkembang dalam lima atau
sepuluh tahun ke depan.
Keduanya membeli saham
yang sama.
Tetapi cara
berpikirnya berbeda.
Orang pertama lebih
dekat dengan trading.
Orang kedua lebih
dekat dengan investasi.
Lalu, mana yang lebih
baik?
Jawabannya tidak
sesederhana itu.
Yang lebih penting
adalah mengetahui tujuan, kemampuan, waktu, dan risiko yang sanggup
ditanggung.
Apa Itu Trading?
Trading adalah
aktivitas membeli dan menjual aset untuk mendapatkan keuntungan dari perubahan
harga.
Dalam trading saham,
seorang trader berusaha memanfaatkan pergerakan harga saham.
Contohnya:
Harga beli saham =
Rp1.000
Harga jual = Rp1.100
Selisih = Rp100 per
saham
Jika trader membeli
1.000 saham, keuntungan kotor dari selisih harga tersebut adalah Rp100.000,
sebelum memperhitungkan biaya transaksi dan ketentuan yang berlaku.
Baca: Apa Itu Trading? Pengertian Trading untuk Pemula
Namun, jika harga
justru turun menjadi Rp900 dan saham dijual pada harga tersebut, trader
mengalami kerugian.
Jadi, inti trading
adalah mencari peluang dari pergerakan harga.
BEI menjelaskan
trading sebagai aktivitas jual beli saham dalam jangka relatif singkat dengan
tujuan mendapatkan keuntungan dari perubahan harga.
Apa Itu Investasi?
Investasi adalah
kegiatan menempatkan dana pada suatu aset dengan harapan memperoleh manfaat
atau keuntungan di masa depan.
Dalam investasi saham,
investor biasanya membeli saham dengan pandangan yang lebih panjang.
Investor tidak hanya
bertanya:
“Apakah harga saham
ini akan naik besok?”
Tetapi lebih banyak
bertanya:
“Apakah perusahaan
ini akan berkembang dalam beberapa tahun ke depan?”
Investor dapat
mempertimbangkan berbagai hal seperti:
- kinerja perusahaan;
- pertumbuhan pendapatan;
- laba;
- utang;
- arus kas;
- prospek industri;
- manajemen;
- valuasi;
- dan potensi dividen.
OJK menekankan bahwa
setiap orang mempunyai tujuan investasi, jangka waktu, penerimaan risiko, dan
harapan imbal hasil yang berbeda. Karena itu, produk dan strategi investasi
sebaiknya disesuaikan dengan profil masing-masing.
Baca: Panduan Lengkap Investasi Saham untuk Pemula
Trading vs Investasi: Apa Perbedaannya?
Perbedaan trading dan
investasi paling mudah dilihat dari beberapa aspek berikut.
|
Perbandingan |
Trading |
Investasi |
|
Tujuan |
Memanfaatkan
perubahan harga |
Mengembangkan nilai
aset |
|
Jangka waktu |
Relatif pendek
hingga menengah |
Umumnya jangka
panjang |
|
Fokus |
Pergerakan harga |
Nilai dan prospek
aset |
|
Frekuensi transaksi |
Bisa sering |
Biasanya lebih
jarang |
|
Analisis |
Banyak menggunakan
teknikal |
Banyak menggunakan
fundamental |
|
Perhatian utama |
Momentum dan harga |
Kinerja dan prospek |
|
Risiko |
Dapat tinggi karena
frekuensi dan strategi |
Tetap ada, tetapi
pendekatannya berbeda |
|
Waktu yang
dibutuhkan |
Cenderung lebih
aktif |
Relatif lebih santai |
|
Psikologi |
Membutuhkan disiplin
cepat |
Membutuhkan
kesabaran |
|
Contoh |
Membeli hari ini dan
menjual beberapa hari kemudian |
Membeli saham untuk
disimpan bertahun-tahun |
Tabel tersebut bukan
aturan mutlak.
Seorang investor tetap
bisa menggunakan analisis teknikal untuk menentukan harga beli.
Begitu pula seorang
trader dapat memperhatikan fundamental perusahaan.
Perbedaannya lebih banyak terletak pada tujuan dan jangka waktu penggunaannya.
Contoh Trading dan
Investasi dengan Saham yang Sama
Agar lebih mudah
dipahami, kita gunakan saham ABCD.
Harga saham saat ini:
Rp1.000
Contoh Trader
Andi melihat grafik
saham ABCD.
Menurut analisisnya,
saham tersebut berpotensi naik ke Rp1.100.
Andi membeli saham
pada harga Rp1.000.
Beberapa hari kemudian
harga naik menjadi Rp1.100.
Andi menjual saham
tersebut.
Keuntungan kotor:
Rp100 per saham
Andi tidak berencana
memiliki saham tersebut selama bertahun-tahun.
Ia hanya ingin
memanfaatkan peluang pergerakan harga.
Ini adalah contoh trading.
Contoh Investor
Budi membeli saham
ABCD pada harga Rp1.000.
Budi sudah mempelajari
bisnis perusahaan dan melihat perusahaan mempunyai prospek pertumbuhan jangka
panjang.
Budi tidak terlalu
mempermasalahkan apakah harga saham naik atau turun dalam beberapa hari.
Ia berencana memegang
saham tersebut selama beberapa tahun selama fundamental perusahaan masih baik.
Budi berharap
mendapatkan keuntungan dari pertumbuhan harga saham dan, jika perusahaan
membagikan dividen, potensi pendapatan dividen.
Ini lebih dekat dengan
investasi.
Trading vs
Investasi dari Sisi Jangka Waktu
Ini merupakan salah
satu perbedaan paling mudah dilihat.
Trading
Trader dapat menahan
saham:
- beberapa menit;
- beberapa jam;
- satu hari;
- beberapa hari;
- beberapa minggu;
- atau beberapa bulan.
Tergantung strategi
yang digunakan.
Investasi
Investor biasanya
mempunyai horizon yang lebih panjang.
Misalnya:
- 3 tahun;
- 5 tahun;
- 10 tahun;
- atau bahkan lebih lama.
Namun, tidak ada angka
resmi yang menentukan bahwa saham yang dipegang selama tiga bulan pasti trading
atau saham yang dipegang selama tiga tahun pasti investasi.
Tujuan dan strategi tetap menjadi hal utama.
1. Trading vs Investasi dari Sisi Tujuan
Trader biasanya
mempunyai tujuan:
“Saya ingin
mendapatkan keuntungan dari perubahan harga.”
Investor biasanya
mempunyai tujuan:
“Saya ingin
memiliki aset yang nilainya berpotensi berkembang dalam jangka panjang.”
Contohnya:
Trader membeli saham
Rp1.000 dan menargetkan menjualnya Rp1.100.
Investor membeli saham
Rp1.000 karena percaya perusahaan akan terus tumbuh sehingga nilai sahamnya
berpotensi meningkat dalam beberapa tahun.
Keduanya sama-sama
ingin mendapatkan keuntungan.
Tetapi jalannya
berbeda.
2. Trading vs Investasi dari Sisi Analisis
Trader biasanya lebih
sering menggunakan analisis teknikal.
Analisis teknikal
melihat:
- grafik harga;
- tren;
- volume;
- support;
- resistance;
- candlestick;
- moving average;
- RSI;
- MACD;
- dan indikator lainnya.
Tujuannya adalah
mencari peluang berdasarkan pergerakan harga.
Sementara investor
lebih banyak menggunakan analisis fundamental.
Investor dapat
melihat:
- pendapatan;
- laba;
- arus kas;
- utang;
- aset;
- margin;
- prospek bisnis;
- posisi perusahaan dalam industri;
- dan valuasi.
Namun sekali lagi, ini
bukan batas yang mutlak.
Trader dapat
menggunakan fundamental.
Investor juga dapat
menggunakan teknikal.
3. Trading vs Investasi dari Sisi Frekuensi Transaksi
Trader biasanya lebih
sering melakukan transaksi.
Misalnya:
Senin membeli.
Selasa menjual.
Rabu membeli saham
lain.
Jumat menjual lagi.
Frekuensi tersebut
dapat semakin tinggi jika seseorang melakukan day trading atau scalping.
Investor biasanya
lebih jarang melakukan transaksi.
Investor dapat membeli
saham kemudian menyimpannya selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun.
Namun, investor tetap
perlu mengevaluasi portofolio secara berkala.
4. Trading vs Investasi: Mana yang Lebih Berisiko?
Pertanyaan ini sering
dijawab dengan:
“Trading lebih
berisiko.”
Tetapi jawaban
tersebut terlalu sederhana.
Baik trading maupun
investasi sama-sama mempunyai risiko.
Yang berbeda adalah cara
risiko tersebut muncul dan bagaimana risiko dikelola.
Trading yang dilakukan
terlalu sering dapat meningkatkan risiko kesalahan keputusan dan biaya
transaksi.
Sementara investasi
saham dalam jangka panjang tetap menghadapi risiko penurunan harga dan risiko
bisnis perusahaan.
OJK menekankan
pentingnya memahami manfaat, biaya, dan risiko produk sebelum mengambil
keputusan investasi.
Jadi, bukan berarti
investasi saham otomatis aman hanya karena sahamnya disimpan dalam waktu lama.
Apakah Investasi Lebih Aman daripada Trading?
Belum tentu.
Investasi jangka
panjang memang mempunyai pendekatan yang berbeda dari trading.
Namun, saham tetap
merupakan aset yang harganya dapat naik dan turun.
Misalnya seorang
investor membeli saham Rp2.000.
Jika beberapa bulan
kemudian harga turun menjadi Rp1.500, nilai investasinya secara pasar juga
turun.
Investor mungkin tidak
menjualnya sehingga kerugian tersebut belum direalisasikan.
Tetapi secara nilai
portofolio, penurunan tersebut tetap terjadi.
Karena itu:
jangka panjang
bukan berarti bebas risiko.
| Jenis-jenis trading yaitu scalping, day trading, swing trading, position trading. Dokumentasi Kuhuni.com |
Trading vs Investasi dari Sisi Waktu
Ini menjadi
pertimbangan penting bagi pemula.
Trading membutuhkan
perhatian lebih aktif.
Trader perlu:
- membaca pasar;
- memantau harga;
- mencari peluang;
- menentukan titik masuk;
- menentukan titik keluar;
- dan mengendalikan risiko.
Investasi biasanya
membutuhkan waktu yang lebih sedikit untuk aktivitas transaksi.
Investor tetap perlu
membaca laporan perusahaan dan memantau perkembangan bisnis, tetapi tidak harus
memperhatikan harga setiap menit.
Jika seseorang
mempunyai pekerjaan utama dan tidak bisa memantau pasar secara aktif,
pendekatan investasi jangka panjang mungkin lebih sesuai dibandingkan gaya
trading yang sangat aktif.
Namun, keputusan tetap
bergantung pada kondisi masing-masing.
Trading vs Investasi dari Sisi Psikologi
Trading membutuhkan
kemampuan mengendalikan emosi.
Harga saham naik:
Serakah.
Harga saham turun:
Panik.
Setelah rugi:
Ingin balas dendam.
Setelah mendapatkan
keuntungan:
Ingin mendapatkan
keuntungan lebih besar lagi.
Jika emosi menguasai
keputusan, strategi trading bisa berantakan.
Investasi juga
membutuhkan psikologi yang kuat.
Investor harus mampu
melihat saham turun tanpa langsung panik.
Misalnya harga saham
turun 20%.
Investor perlu
bertanya:
“Apakah fundamental
perusahaan berubah?”
Jika bisnis perusahaan
masih baik, investor mungkin tetap mempertahankan saham.
Tetapi jika bisnisnya
benar-benar memburuk, investor juga harus berani mengevaluasi kembali
keputusannya.
Jadi, baik trader
maupun investor membutuhkan disiplin.
| Ilustrasi modal kecil dan sedang untuk trading. Dokumentasi Kuhuni.com |
Trading vs Investasi dari Sisi Modal
Tidak ada modal
minimum yang sama untuk semua orang.
Trading maupun
investasi dapat dimulai dengan modal yang relatif kecil, tergantung instrumen
dan harga aset yang dipilih.
Untuk saham Indonesia,
transaksi dilakukan dalam satuan lot.
1 lot = 100 saham.
Misalnya harga saham
Rp1.000.
Nilai 1 lot:
100 × Rp1.000 =
Rp100.000
Dengan demikian,
secara nilai saham, seseorang membutuhkan sekitar Rp100.000 untuk membeli 1 lot
saham tersebut, sebelum memperhitungkan biaya transaksi.
BEI juga menjelaskan
bahwa saat berinvestasi saham, investor menggunakan rekening efek dan RDN yang
dibuka melalui perusahaan efek.
Baca: Cara Main Saham Modal Kecil: Mulai Rp100 Ribu, Rp500 Ribu, atau Rp1 Juta
Trading Modal Kecil vs Investasi Modal Kecil
Misalnya seseorang
mempunyai modal:
Rp1 juta.
Jika Digunakan
untuk Trading
Trader mungkin mencari
peluang kenaikan harga 5%.
Jika berhasil:
Rp1 juta × 5% =
Rp50.000
Tetapi jika harga
turun 5%:
Rp1 juta × 5% =
Rp50.000 kerugian
Belum memperhitungkan
biaya transaksi.
Jika Digunakan
untuk Investasi
Investor mungkin
membeli saham kemudian menyimpannya dalam jangka panjang.
Keuntungan tidak
ditentukan oleh target harian.
Investor berharap
mendapatkan:
- kenaikan harga saham;
- dividen;
- dan pertumbuhan nilai aset dalam jangka
panjang.
Namun, harga saham
tetap dapat turun.
Jadi, baik trading
maupun investasi tidak menjamin keuntungan.
Mana yang Lebih Menguntungkan, Trading atau Investasi?
Tidak ada jawaban yang
berlaku untuk semua orang.
Trading bisa
memberikan keuntungan lebih cepat jika strategi berhasil.
Tetapi frekuensi
transaksi dan risiko juga bisa lebih tinggi.
Investasi membutuhkan
kesabaran lebih panjang.
Keuntungannya mungkin
tidak terlihat dalam hitungan hari.
Tetapi jika aset dan
perusahaan yang dipilih berkembang dalam jangka panjang, nilai portofolio dapat
ikut bertumbuh.
Masalahnya adalah
tidak ada yang bisa menjamin hasil tersebut.
Karena itu, pertanyaan
yang lebih baik bukan:
“Mana yang paling
menguntungkan?”
Melainkan:
“Mana yang paling
sesuai dengan tujuan dan kemampuan saya?”
Trading Cocok untuk Siapa?
Trading dapat lebih
sesuai bagi orang yang:
- mempunyai waktu memantau pasar;
- senang melakukan analisis;
- mampu mengambil keputusan dengan cepat;
- disiplin menjalankan strategi;
- mampu menerima kerugian;
- memahami manajemen risiko;
- dan tidak mudah terbawa emosi.
Namun, memiliki
karakter tersebut saja belum menjamin seseorang mendapatkan keuntungan.
Trading tetap
membutuhkan pengalaman dan proses belajar.
Investasi Cocok untuk Siapa?
Investasi dapat lebih
sesuai bagi orang yang:
- mempunyai tujuan keuangan jangka panjang;
- tidak ingin terlalu sering melakukan
transaksi;
- mempunyai kesabaran;
- bersedia mempelajari fundamental
perusahaan;
- ingin membangun portofolio secara
bertahap;
- dan mampu menghadapi fluktuasi harga.
OJK juga menekankan
pentingnya menyesuaikan pilihan investasi dengan profil risiko, tujuan, dan
jangka waktu masing-masing orang.
Apakah Bisa Trading dan Investasi Sekaligus?
Bisa.
Seseorang tidak harus
memilih salah satu.
Misalnya mempunyai
modal Rp100 juta.
Sebagian dana dapat
digunakan untuk investasi jangka panjang.
Sebagian lainnya dapat
digunakan untuk trading jika memang memahami strateginya.
Namun, pembagian dana
harus tetap disesuaikan dengan kemampuan dan profil risiko.
BEI juga mengingatkan
pentingnya diversifikasi dan tidak menempatkan seluruh dana pada satu produk
investasi.
Contoh sederhana:
Rp70 juta →
investasi jangka panjang
Rp30 juta → trading
Angka tersebut hanya
ilustrasi, bukan rekomendasi pembagian modal.
Pembagian yang tepat
akan berbeda untuk setiap orang.
Trading vs Investasi: Mana yang Cocok untuk Pemula?
Jika Anda benar-benar
baru mengenal pasar saham, jangan terburu-buru menentukan diri sebagai trader
atau investor.
Pelajari terlebih
dahulu cara kerja pasar.
Kemudian tanyakan:
Berapa lama uang
ini ingin saya gunakan?
Jika uang tersebut
dibutuhkan dalam waktu dekat, jangan asal menempatkannya pada aset berisiko.
Tanyakan juga:
Apakah saya bisa
memantau harga setiap hari?
Jika tidak, strategi
trading aktif mungkin akan sulit dilakukan.
Lalu:
Apakah saya sanggup
melihat nilai investasi turun tanpa panik?
Pertanyaan tersebut
penting karena pasar saham dapat bergerak naik dan turun.
Kesalahan Memilih
Trading atau Investasi
Ada beberapa kesalahan
yang sering dilakukan pemula.
Mengikuti Orang
Lain
Teman trading, ikut
trading.
Teman investasi, ikut
investasi.
Padahal kondisi
keuangan dan tujuan masing-masing berbeda.
Menganggap Trading
Pasti Lebih Menguntungkan
Trading memang
memungkinkan keuntungan dari perubahan harga.
Tetapi kerugian juga
bisa terjadi.
Menganggap
Investasi Pasti Aman
Investasi saham tetap
mempunyai risiko.
Harga saham dapat
turun.
Memakai Dana
Kebutuhan
Jangan menggunakan
uang untuk kebutuhan sehari-hari sebagai modal trading atau investasi berisiko.
Mengejar Keuntungan
Pasti
OJK memperingatkan
masyarakat agar berhati-hati terhadap tawaran investasi yang menjanjikan
keuntungan tinggi atau keuntungan yang dipastikan.
Trading vs Investasi: Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari
Bayangkan ada
seseorang mempunyai uang Rp10 juta.
Dia mempunyai dua
pilihan.
Pilihan A: Trading
Ia membeli saham dan
menargetkan keuntungan 5%.
Jika berhasil, modal
menjadi sekitar Rp10,5 juta sebelum biaya transaksi.
Tetapi jika harga
turun 5%, nilainya menjadi sekitar Rp9,5 juta.
Ia harus aktif
mengelola transaksi.
Pilihan B:
Investasi
Ia membeli saham
perusahaan yang menurutnya mempunyai prospek baik.
Kemudian saham
tersebut disimpan selama beberapa tahun.
Harga dapat naik atau
turun sepanjang perjalanan.
Jika perusahaan
berkembang dan harga saham meningkat, nilai investasi berpotensi bertambah.
Jika perusahaan
membagikan dividen, investor juga berpotensi menerima dividen sesuai ketentuan
perusahaan.
Tetapi tidak ada
jaminan harga akan selalu naik.
Mana yang Lebih Baik: Trading atau Investasi?
Jawaban paling tepat
adalah:
Tergantung
orangnya.
Tidak ada satu
strategi yang paling baik untuk semua orang.
Jika seseorang
memiliki waktu, pengetahuan, disiplin, dan kemampuan mengelola risiko, trading
bisa menjadi pilihan.
Jika seseorang lebih
menyukai pendekatan jangka panjang dan tidak ingin terlalu sering melihat
pergerakan harga, investasi bisa lebih sesuai.
Bahkan seseorang dapat
melakukan keduanya.
Yang penting adalah jangan
menggunakan uang dan strategi yang tidak sesuai dengan kemampuan sendiri.
Perbedaan Trading
dan Investasi dalam Satu Kalimat
Jika ingin
mengingatnya dengan cara paling sederhana:
Trading berusaha
memanfaatkan pergerakan harga. Investasi berusaha memanfaatkan pertumbuhan
nilai aset dalam jangka panjang.
Kalimat tersebut sudah
cukup untuk memahami perbedaan dasarnya.
Baca:
- 89 Daftar Aplikasi Trading Saham Resmi di Indonesia
- Daftar Kode Broker Asing dan Lokal di Indonesia: Resmi Terdaftar di BEI dan OJK (Update Terbaru)
- 15 Aplikasi Trading Terbaik di Indonesia: Pilihan untuk Pemula dan Trader
- 25 Aplikasi Trading Terpercaya dan Resmi di Indonesia yang Terdaftar OJK dan BEI
Kesimpulan
Trading vs
investasi bukan pertandingan untuk menentukan siapa yang paling hebat.
Keduanya merupakan
pendekatan yang berbeda.
Trading lebih
menekankan aktivitas jual beli dan pemanfaatan perubahan harga dalam jangka
relatif pendek.
Investasi lebih
menekankan kepemilikan aset dan pertumbuhan nilai dalam jangka panjang.
Trading membutuhkan
perhatian yang lebih aktif, sedangkan investasi umumnya membutuhkan kesabaran
lebih panjang.
Trading dapat
menghasilkan keuntungan dari capital gain, tetapi juga dapat menghasilkan
kerugian.
Investasi juga
memiliki risiko karena harga aset dapat turun dan kondisi perusahaan dapat
berubah.
Karena itu, pemula
sebaiknya tidak memilih hanya karena melihat orang lain mendapatkan keuntungan.
Pilih berdasarkan
tujuan, jangka waktu, modal, pengetahuan, waktu yang tersedia, dan kemampuan
menanggung risiko.
Jika masih bingung,
langkah pertama yang paling tepat bukan langsung membeli saham.
Belajar terlebih
dahulu.
BEI sendiri
menyediakan edukasi melalui Sekolah Pasar Modal untuk membantu masyarakat
memahami pasar modal dan proses investasi dengan lebih baik.
Pada akhirnya, baik
menjadi trader maupun investor, prinsip yang paling penting tetap sama:
Pahami apa yang
dibeli, pahami risikonya, dan jangan mengambil keputusan hanya karena
ikut-ikutan.
FAQ Trading vs Investasi
Apa perbedaan
trading dan investasi?
Trading lebih berfokus
pada pemanfaatan perubahan harga dalam jangka relatif pendek, sedangkan
investasi lebih berfokus pada pertumbuhan nilai aset dalam jangka panjang.
Mana yang lebih
menguntungkan, trading atau investasi?
Tidak ada jawaban
pasti. Keduanya mempunyai peluang keuntungan dan risiko masing-masing. Hasilnya
bergantung pada strategi, aset, kondisi pasar, biaya, dan kemampuan pelakunya.
Apakah trading
lebih berisiko daripada investasi?
Tidak selalu. Keduanya
memiliki risiko. Trading yang sangat aktif dapat menghadapi risiko transaksi
dan keputusan yang lebih sering, sedangkan investasi saham tetap menghadapi
risiko penurunan harga dan risiko bisnis perusahaan.
Apakah investor
boleh melakukan trading?
Boleh. Seseorang dapat
memiliki portofolio investasi jangka panjang sekaligus melakukan trading dengan
sebagian dana, selama memahami risiko dan mengelola modal dengan baik.
Apakah trading dan
investasi bisa dilakukan bersamaan?
Bisa. Namun, pembagian
dana harus disesuaikan dengan tujuan dan kemampuan menanggung risiko
masing-masing.
Apakah trading
saham cocok untuk pemula?
Trading saham bisa
dipelajari pemula, tetapi sebaiknya dimulai dengan memahami mekanisme pasar,
analisis, biaya transaksi, dan manajemen risiko.
Apakah investasi
saham cocok untuk pemula?
Investasi saham dapat
dipelajari pemula. Namun, calon investor tetap perlu memahami perusahaan yang
dibeli, risiko pasar, tujuan investasi, dan jangka waktu.
Lebih baik trading
atau investasi untuk pemula?
Tidak ada jawaban yang
sama untuk semua orang. Pemula perlu menentukan tujuan, jangka waktu, waktu
yang tersedia, dan kemampuan menghadapi risiko sebelum memilih pendekatan.
Sumber: Edukasi pasar modal - OJK, BEI dan berbagi sumber lainnya.

0 comments
Posting Komentar